Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 31


__ADS_3

"Jadi, katakan mengapa kalian, menganggu kesenanganku yang sedang menikmati vitaminku." tanya Boy dan menatap Bram dan Amber yang ada di hadapannya, dengan raut wajah berbeda, Bram dengan sikap yang sudah menegang dan wajah pucat, sementara Amber dengan sikap tenang dan jangan lupa muka datarnya. "Dasar robot."batin Bram saat melihat Amber begitu tenang dan datar di hadapan tuan mereka.


"Jawab…! kenapa kalian mengangguku." bentak Boy yang membuat asisten Bram tersentak kaget dan gemetar. "Cih! dasar lemah." ejek Amber dalam hati.


"Tuan? sela bibi lili yang ikut terkejut saat Boy berteriak. "Hm! gumam Boy yang masih menatap anak buahnya tajam, karena perbuatan anak buahnya itu, Boy tidak dapat menikmati vitamin b-nya.


"Jangan, berteriak tuan! nyonya akan terganggu mendengar teriakan anda." sela bibi lili dengan suara berbisik. Boy berdehem dan mendegus untuk menurunkan kadar emosinya.


"Katakan! kenapa kalian mengangguku." geram Boy dengan suara pelan.


"Apa, kalian tau kalau aku sedang menikmati vitaminku,?" ucapnya lagi dengan menatap Bram dan Amber tajam.


"Anda sakit tuan.?" Bram balik bertanya, yang membuat Boy mengerang tertahan.


"Bram ….!!! teriak Boy mengelegar di kamar itu, yang membuat bibi lili tersendat saat sedang minum.


"Oh God! aku akan terkena serangan jantung, kalau terus berada di dekat tuan Boy." gumam bibi lili.


"Tuan! seru bibi kepada tuan Boy, agar tak berteriak lagi, karena itu akan mengganggu Ruby.


"Karena, kalian aku harus berteriak dan mengganggu Rubyku." ucap Boy setengah berbisik sambil mendegus.


"Apa, kau ingin aku menyuruhmu, mencium Amber supaya, kau dapat merasakan betapa manisnya bibir seorang wanita, apalagi bibir Rubyku.!" ucap Boy dingin dan berubah sumringah saat mengingat apa yang dia lakukan kepada Ruby tadi. sedangkan Bram yang mendengar ucapan tuanya itu refleks menatap Amber yang ada di sampingnya dan fokusnya kini berada di bibi seksi Amber yang sedikit berisi bagian bawahnya, asisten Bram menelan salivanya dan membayangkan melumut bibir seksi itu. "Jaga mata anda tuan." ucap Amber dingin menyadarkan Bram dari pikiran kotornya.


"Tidak, mungkin aku mencium bibir si robot ini." batin Bram yang sesekali melirik Amber.


"Apa yang kau pikirkan, Bram!!! sentak Boy, saat melihat asistennya itu melamun dan melirik Amber.


"Kau, tertarik dengan dia? tanya Alex sambil mengedikkan kepalanya kepada Amber.


asisten Bram hanya menggelengkan kepalanya


menjawab pertanyaan tak penting sang tuan muda.

__ADS_1


"Tapi, kalau dilihat-lihat kalian memang cocok, dan kalian bisa saling melengkapi! kau, bisa melengkapinya dengan mengajarkan tersenyum, dan kau …! kini telunjuk Boy mengarah ke Amber, "kau bisa menyadarkan dia agar tidak belok." terang Boy kepada para bawahannya itu. sedangkan Bram membulatkan matanya kaget dan tak terima di katakan belok, sedangkan Amber seperti biasa datar kayak tembok.


"Saya protes tuan." ucap Bram lantang, entah dapat keberanian dari mana dia sehingga membuat sang tuan muda melotot tajam kepadanya.


"Kau membantahku." gertak Boy.


"Ti ...tidak, tuan, saya hanya tidak terima di katakan belok.!" ucap Bram dengan gugup, saat sadar sudah berani bersuara lantang di depan sang tuan muda.


Alis Boy mengerut tanda binggung dan menatap asistennya itu. "Bukankah, kau dekat dan berhubungan dengan Louise? manusia jadi-jadian itu? cerca Boy yang masih menatap asistennya binggung, karena di perusahaan sudah ramai gosip kalau asistennya itu memiliki hubungan dengan seorang laki-laki setengah jadi.


"Saya masih suka wanita,yang memiliki lembah tuan dan bukan wanita diluar tapi batang di dalam.!" ucapan Bram sukses membuat semua orang di dalam kamar itu melotot kepadanya kecuali Ruby yang memang masih belum sadar.


"lembah, batang di dalam?" gumam Boy


"dasar pria setengah jadi." batin Amber.


"apa benar tuan Bram menyukai pisang? tanya bibi lili dalam hati.


"Jadi, kau mau menikah dengannya?" tunjuk Boy, kepada Amber, sejak tadi wanita itu hanya diam dengan wajah temboknya.


"Bukankah, bagus kalau kau menikah dengan robot,! jadi kau tak akan susah saat menyentuhnya atau menggagahinya karena dia tidak akan banyak bergerak dan tetap diam. ujar Boy sambil terkekeh, mambayangkan kalau asistennya itu menikah dengan Amber si muka tembok. Bram yang mendengar ucapn sang tuan muda, hanya bisa menggaruk kepalanya dan melirik Amber yang tak berekspresi itu. "Apakah wanita ini benar-benar robot.?" gumanya dalam hati.


"Heh! bisik Bram kepada Amber, " apa kau tidak malu, tuan berbicara begitu kepada kita.?" tanya Bram dan hanya di jawab wajah datar dan diam Amber.


"Dasar robot." gumamnya lagi.


"Kau, mau menyampaikan apa, Bram.!" tanya Boy dengan aura yang tegas dan serius. karena Boy tau, kalau asistennya ini berani mengganggunya, berarti ada hal serius yang ingin di sampaikan kepadanya.


Bram mendekat kepada tuannya itu, dan menyerahkan kotak perhiasan milik Ruby.


"Kotak perhiasan? tanyanya binggung.


"Kotak perhiasan itu punya nyonya, Ruby tuan!" jawab asisten Bram sambil memundurkan badannya, setelah menyerahkan kotak itu kepada tuannya yang sedang duduk di sofa di sisi Ruby.

__ADS_1


Dengan penuh rasa penasaran Boy membuka kota perhiasan itu, "liontin." gumamnya sambil terus menelisik liontin itu sama yang dilakukan asistennya tadi. Boy membuka liontin itu saat melihat liontin itu memiliki garis yang bisa di buka.


Boy memandang asistennya dengan penuh tanda tanya, boy belum paham apa istimewanya liontin tersebut.


"stempel, ini milik nyonya Ruby tuan, dan stempel ini yang, tuan Alex butuhkan untuk menguasai harta keluarga Pattinson." lapor asisten Bram.


"Benarkah." senyum lebar muncul di wajah tampan itu.


"Iya tuan."


Boy bangkit dan mendekat kepada Ruby. Boy mengecupi wajah Ruby, yang membuat orang-orang di sana merasa malu sendiri melihat sikap tuan muda arogan itu.


"Lihatlah, baby! semuanya berpihak padaku, dan itu artinya kau hanya milikku sekarang." bisik Boy


"Dengan benda ini kita akan lebih mudah menghancurkan mereka, baby.!"


" Cepatlah, pulih dan kita akan menghancurkan mereka." cup." Boy begitu senang karena semua kemudahan untuk menghancurkan Alex dan Rebecca ada padanya.


"Dimana, kau dapatkan ini, Bram.? tanya Boy


Asisten Bram mengalihkan pandangannya kepada bibi lili, yang dari tadi hanya diam menyimak semua pembicaraan tuan dan bawahnya itu, dan Boy mengikuti arah pandang Bram.


"Terimakasih bi! kau begitu membawa keberuntungan buatku, dengan benda ini aku bisa memakainya untuk menandai berkas perceraian Rubyku dan pria brengsek itu. ucap boy penuh antusias, karena tanpa tanda tangan Ruby, dia dapat memakai ini untuk berkas perceraian Ruby dan Alex. karena dengan stempel khusus itu semua keputusan yang diambil Ruby akan menjadi sah.


"Oh, bibi! aku berjanji akan menjodohkan mu dengan, paman Ruben," ujar Boy senang, yang membuat bibi lili malu dan tidak bagi Bram yang membulatkan matanya dan mulutnya terbuka mendengar ucapan sang tuanya.


"Tuan! sela Bram.


"Kau, tak setuju bila bibi lili menjadi ibu tirimu? Bukankah bagus kalau, bibi lili yang menjadi ibu tirimu? daripada kau, mempunyai ibu tiri yang masih gadis, yang bisa memberikan adik bayi kepadamu,!" Jangan bilang kau mau memiliki adik bayi." tanya Boy penuh selidik.


"Ti ...tidak tuan! jawab Bram terbata.


"Daripada,kau menyuruh ayahmu itu mambuatkan kau adik bayi mengapa tidak kau buat sendiri seorang bayi.?"

__ADS_1


"Jangan, bilang pisangmu, tidak bisa bertarung dengan lembah, dan hanya bisa bertarung dengan sesama pisang.!" semua perkataan Boy mampu membuat bibi lili dan Bram tertekun dan melotot, atas ucapan bar-bar sang tuan muda yang terkenal arogan. sedangkan Amber hanya menyimak dengan, yah ... seperti biasa datar "dasar tembok." maki Bram dalam hati.


sedangkan bibi lili yang mendengar akan di jodohkan dengan ayah Bram hanya diam dan tersenyum kikuk.


__ADS_2