
"Tidak, … nyonya! jangan bawa aku kesana,!" mohon Gaby, sambil bersimpuh di kaki nyonya Lezi.
"Kalau, begitu menurut lah," ujar nyonya Lezi dan kembali menyambak rambut Gaby.
"Apa, kau …! mendengarkan ku,!!! teriak nyonya Lezi tertahan.
Gaby hanya mengangguk patuh dengan air matanya yang sudah membanjiri pipinya.
"Menurutlah, agar kau aman dan kau akan terus mendapatkan kemewahan disini, daripada kau menjadi j*l*ng kecil di luar sana." bisik nyonya Lezi dan menepuk kasar pipi Gaby.
Nyonya Lezi, memandangi Gaby sinis dengan gayanya yang angkuh, entah mengapa dia begitu membenci Gaby, yang sudah dia akui sebagai anak kandungnya sendiri tapi tidak menganggap Gaby dan menyayanginya seperti anaknya sendiri.
"Cih, aku tidak mungkin menganggap anak j*l*ng ini anakku." decak nyonya Lezi dengan nada menghina.
Gaby, hanya mampu memaki dan menyumpai, nyonya Lezi dalam hati. dan dia tidak akan pernah berhenti mengejar dan mendapatkan Boy seutuhnya.
"Nyonya," lirih Gaby.
dengan memberanikan dirinya Gaby ingin memberikan penawaran kepada nyonya Lezi.
__ADS_1
"Nyo-nya, lirihnya lagi dengan terbata.
"Katakan," ujar nyonya Lezi dingin.
"Ken-napa, nyonya tidak …, membiarkan aku mendekati kak Boy," Gaby melirik nyonya Lezi yang sudah menatapnya tajam, " bu-kankah, kalau aku mendekati dan menjadi istri kak Boy, anda akan beruntung,?" ucapan Gaby, membuat alis nyonya Lezi mengerut.
"Maksudmu," ucapnya, penuh tanda tanya.
"Mak-sud, saya! bukankah dengan saya menjadi istri, kak boy maka semua harta keluarga Cole akan menjadi milik anda.?" jelas Gaby dan memandangi nyonya Lezi yang sedang berfikir.
"Kalau, aku menikah dengan, kak Boy maka posisi anda aman, nyonya! tidak akan ada yang menyaingi anda." ujar Gaby lagi, yang kini ucapnya mampu membuat, nyonya Lezi diam dan berpikir.
"Jadi, biarkan aku mengejar kak, Boy dan kelak aku akan membantumu, mengambil semua harta, tuan Kevin." ucap Gaby memberikan penawaran kepada, nyonya Lezi.
Sedangkan, nyonya Lezi menatap lekat Gaby dan memikirkan ucapan gadis yang ada di hadapannya ini.
"Benar, juga apa yang dikatakan gadis ini, kalau dia menikahi, Boy maka statusku akan aman dan tetap menjadi, nyonya dirumah ini, tapi bagaimana aku harus menjelaskan, kepada Kevin kalau sebenarnya gadis ini, bukanlah anaknya." monolognya dan memikirkan cara untuk menjelaskan kepada Kevin, siapa sebenarnya Gaby.
"Ehem." nyonya Lezi berdehem untuk menyadarkan Gaby dari lamunannya.
__ADS_1
"Apa, kau bisa membuat, Boy menjadi milikmu.?" cibirnya, kerena nyonya Lezi pun tak yakin kalau Boy mau dengan Gaby.
"Aku, yakin! sahut Gaby dengan semangat.
nyonya Lezi menatap wajah Gaby lama, nyonya Lezi dapat melihat dari raut wajah Gaby, kalau gadis ini begitu menggilai, Boy Raymond Cole.
"Kalau, begitu buktikanlah," ujar nyonya Lezi.
"Baiklah, aku akan buktikan! kalau aku bisa membuat kakak, Boy bertekuk lutut di hadapanku, nyonya." dengan semangat yang berkobar, Gaby menerima tantangan nyonya Lezi.
Nyonya Lezi, memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan yang terdapat dilantai tiga di mansion, tuan Kevin Cole.
Gaby, tersenyum puas saat dia bisa menyakinkan, nyonya Lezi. langkah selanjutnya yang Gaby, ambil adalah mengejar Boy Raymond Cole, kemanapun dia pergi dan menghalangi dia untuk bersenang-senang bersama, wanita yang di cintai.
"Kak, kau hanya milikku, …! milik Gaby Alexia Cole." gumamnya dan tersenyum puas.
"Akhirnya, aku bisa lebih leluasa mengejar dan mendekati kak, Boy." serunya dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
Gaby mengikuti, nyonya Lezi meninggalkan ruangan kosong tersebut. dia menuruni tangga dan berjalan kearah kamarnya di lantai dua.
__ADS_1
Gaby berencana, mengikuti Boy ke negara K, setelah kelulusannya di sini dan beralasan akan melanjutkan kuliahnya di negara K.