Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 21 sadar


__ADS_3

Setelah menempuh beberapa jam perjalanan jauh,kini boy dan Ruby telah berada di salah satu rumah sakit terbesar di negara A. Boy memesan kamar pasien yang tak kalah mewahnya dengan hotel berbintang. Ruby masih terbaring lemah di kasur pasien, dengan selang infus dan selang oksigen yang terpasang di hidung mancungnya.


"Kapan, mata indahmu ini akan terbuka baby?" bisik boy yang sedang menggenggam tangan mungil itu dan mengecupinya. Sedari tadi boy tak pernah jauh dari Ruby, bagaikan lem dan perangko.


"Apa, kau tau baby, hanya melihat senyummu dadaku ini berdebar dan saat kau sedih dan lemah seperti ini dadaku akan terasa sakit! ungkap boy sambil meletakkan tangan mungil Ruby di dadanya.


"Kau, merasakannya baby.!" bisik boy, saat dadanya kembali berdebar.


" Ohh." Apakah semenyenagkan ini berada di dekatmu baby? Kalau iya, berarti aku takkan pernah jauh dari baby.!" gumamnya yang masih asyik memandangi Ruby, yang masih enggan membuka mata.


"Lihatlah, kau cantik sekali baby,!" 


"Cup! ini milikku 


"Cup! Ini milikku


"Cup! Ini milikku lagi


"Cup!  "Ya Tuhan, kenapa ini manis sekali,!" 


"Cup! ini adalah vitaminku, boy mengecupi seluruh wajah cantik Ruby dan memberinya stempel kepemilikan dan berakhir lama di bibir Ruby yang manis.


"Anda, sedang apa tuan.?" sela bibi lili yang menggangu kesenangan baru tuan arogan itu.


"Ck! decak boy.


"Apakah, orang tua ini tidak lelah terus mengawasi ku.!" "Dia terus menggangguku!" batin boy kesal.


"Tuan boy, anda bisa istirahat sekarang, biar saya yang menjaga nyonya Ruby tuan.!" ujar bibi lili, yang melihat tuan boy masih betah di sisi Ruby.


"Tidak!!" tolak boy


" Biar, aku saja menjaga gadisku,! bibi saja  yang istirahat, bibi sudah tua jadi perlu banyak-banyak istirahat.!" ucap boy lagi.


" Tapi, ini sudah pagi tuan,! dan anda belum tidur sejak tadi.!" kata bibi lili, dia memperhatikan tuan boy belum juga istirahat semenjak mereka berangkat dan sampai di sini, tuan muda itu seakan tak mau lepas dari nyonyanya,


"Apa ini puber pertama tuan muda boy.?" tanya bibi dalam hati.


"Istirahatlah tuan.!" perintah bibi lili lagi.


" Oh Tuhan, apakah aku harus menitipkan wanita tua ini, kepenitipan nenek-nenek.?" Gumamnya dalam hati.


"Tuan!" panggil bibi lili lagi.


Yang membuat tuan boy mengeram kesal dan ingin memarahi bibi lili yang sudah berani memerintahnya. Kekesalan tuan boy harus tertahan saat pintu ruangan itu di ketuk.

__ADS_1


" Masuk! teriak boy jengkel, dan berjalan kearah balkon saat ponselnya berdering.


"Clek! " Selamat pagi tuan dan nyonya.?" sapa seorang dokter yang memiliki wajah tampan dan ramah itu.


" Pagi juga dokter!" balas bibi lili sambil membalas senyum tampan sang dokter. Sedangkan boy sedang menerima panggilan telepon di balkon kamar pasien mewah itu.


"Permisi, bibi saya ingin memeriksa kondisi nyonya Ruby.!" kata dokter tampan itu ramah jangan lupa senyum tampannya.


" Silakan dokter! 


Dokter itu pun mendekati Ruby yang sedang terbaring lemah, saat sang dokter ingin meletakkan teleskop di dada Ruby, terdengar suara dingin nan menakutkan dari arah balkon, sontak sang dokter dan bibi lili menoleh, mereka tertekun melihat sorotan mata tajam sang tuan muda itu.


" Jauhkan, tangan kotormu itu dari gadisku.!" bentak boy, sambil mendekat kearah ranjang Ruby.


" Berani-beraninya, kau ingin menyentuh tubuh gadisku.!" teriak boy sambil menatap tajam dokter tampan itu. dia tidak akan membiarkan pria lain menyentuh gadisnya.


" Aku, ingin memeriksa keadaan pasien tuan.!" ucap dokter itu binggung. " kenapa dia melarangku memeriksa pasien ini?" batin sang dokter.


Dokter itu pun ingin melanjutkan tugas paginya itu.


Lagi-lagi suara menyebalkan tuan muda itu mengganggunya.


"Kau, ingin kehilangan tanganmu itu," haaa….!!!


" jangan sentuh gadisku dokter sialan.!!! teriak boy yang pagi itu membuat kekacauan di ruangan Ruby.


Dengan berlahan mata indah itu mengerjap dan berusaha untuk membuka mata tapi denyutan di kepalanya membuat Ruby meringis.


"Sshttt! ringis Ruby saat denyutan di kepalanya begitu sakit.


"Bibi! panggilnya lemah.yang membuat perdebatan boy dan sang dokter berhenti. mereka langsung menatap Ruby yang masih meringis sakit.


"Nyonya, anda sudah sadar." ucap bibi bahagia 


"Syukurlah, anda sudah sadar nyonya.!" bibi lili menitikkan air mata saat Ruby membuka mata sepenuhnya.


"Bibi, kita dimana.?" tanya Ruby sambil menelisik ruangan asing ini.


" Kita di rumah sakit nyonya.!" 


" Rumah sakit.?'' ucap Ruby lemah. 


"Iya nyonya.!"


"Hemm! maaf saya harus memeriksa pasien dulu.!" sela sang dokter dan bermaksud melanjutkan tugasnya yang tertunda.

__ADS_1


"Permisi tuan!" kata dokter saat boy yang menghalangi jalannya.


"Jangan, berani menyentuhnya!" Bisik boy dingin.


" Hah" sang dokter pun hanya mampu menarik nafas dan melangkah keluar dari kamar pasien itu.


" Dokter, kenapa anda tidak memeriksa nyonya Ruby?" tanya bibi lili binggung.


" Jangan, berani menyuruhnya menyentuh gadisku.!" sela boy. bibi lili hanya mampu memutar bola matanya jengah atas sikap fosesif tuan boy. sedangkan Ruby masih memijit kepalanya yang terasa sakit.


Tak lama ruangan itu terbuka kembali dan seorang dokter cantik muncul untuk memeriksa kondisi Ruby.


********


Kondisi nyonya Ruby sudah stabil, dan kita akan melakukan terapi untuk kesembuhan mental dan saraf retak yang ada di bagian belakang nyonya Ruby, semoga dengan rutin terapi nyonya Ruby bisa berjalan kembali. kata sang dokter cantik itu setelah memeriksa kondisi Ruby.


************


"Anda siapa paman.?" tanya Ruby mehilangkan kesunyian di kamar pasien sesaat setelah dokter itu keluar. Ruby yang heran dan binggung saat melihat orang asing ada di kamarnya.


" Hmm! Boy berdehem guna menghilangkan raa gugupnya, baru kali ini dia merasa gugup di hadapan orang lain.


" Sial, kenapa aku begitu gugup.?" geramnya dalam hati.


" Oh, jantungku! serunya saat merasakan debaran jantungnya begitu cepat, saat melihat mata indah Ruby berkedik-kedik dan " lihatlah wajahnya begitu lucu.!" batin boy 


"Paman! seru Ruby lagi yang tak mendapatkan jawaban dari boy.


"paman!" gumam boy. "Apa, wajahku terlihat tua?"


"Boy.! Boy Raymond Cole.!" Jawab Alex gugup.


" Tuan, Boy yang menolong kita nyonya.!" sela bibi lili.


"Benarkah bi?" tanya Ruby.


bibi lili hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ruby.


" Terimakasih, paman anda sudah menolongku, kalau bukan karena anda mungkin aku sudah tiada.!"


ucap Ruby sendu yang kini matanya sudah berembun.


" Nyonya, anda tidak perlu mengingat kejadian itu lagi dan lupakanlah semua orang-orang yang mengkhianati anda, sekarang anda lebih fokus untuk kesembuha anda nona.!" ujar bibi sambil memeluk Ruby yang sudah menangis mengingat semua pengkhianatan suami dan sahabatnya.


"Tapi, kenapa bi! mereka tega membunuh Daddy dan mommy, dan mereka membuatku menderita bi?" kenapa…bi!! Kenapa….!!! Raung Ruby saat mengingat semua kejadian malam itu yang mampu menghancurkan perasaan dan hatinya.

__ADS_1


Bibi hanya bisa memeluk dan menenangkan Ruby. Sedangkan boy yang melihat gadisnya begitu menderita dan terpukul atas semua perbuatan Alex, merasa geram dan marah. Dia bersumpah akan menghancurkan Alex dan Rebecca nanti. Sekarang tujuan boy hanya satu menyembuhkan Ruby dan mengambil hati Ruby.


" Setelah ini, aku akan memberikan mu kebahagiaan baby dan takkan kubiarkan penderitaan mendekatimu.!" gumam boy, sambil menatap Ruby yang masih menangis di pelukan bibi lili.


__ADS_2