
"Katakan, padaku apa yang membuat mu seperti ini, sayang.?" Bram bertanya kepada kekasihnya yang sekarang sedang terdiam di sampingnya.
Mereka, sekarang berada di dalam mobil Bram, dan kini mereka sudah berada di basement apartemen Amber.
"Sayang,?" panggil Bram lembut.
Amber menoleh dan menggeleng pelan.
"Tidak, apa-apa." jawabnya pelan.
Bram mengetat rahangnya saat Amber mencoba menutupi sesuatu darinya.
Bram lantas meraih tubuh Amber dan mengangkatnya keatas bangkuannya.
Bram meremat kuat pinggang Amber, saat wanitanya itu hanya terdiam dan terus menunduk.
"Sayang, tatap aku," perintahnya lembut, Bram berusah menahan amarahnya.
"Sayang, !!! geramnya tertahan.
"Tatapan, aku Amber Wilson.!!! sentak Bram tanpa sadar.
Amber kembali terisak sambil menutupi wajahnya.
Sementara Bram memaki dirinya sendiri, karena kembali membentak wanitanya.
Bram pun menarik Amber kedalam dekapannya dan memeluk sang kekasih erat.
"Sorry." ucap Bram dan mengecup kepala Amber.
Bram mengusap-usap punggung Amber yang masih terisak di dadanya.
Pria itu lalu keluar dari mobilnya dengan Amber di gendongnya. dan berjalan memasuki lift untuk mengantar mereka ke unit apartemen Amber.
Amber mengeratkan pelukannya di leher Bram begitu juga kakinya yang melingkar di pinggang Bram.
"Dear." lirih Amber yang masih di gendongan Bram.
"Hm." jawab Bram dengan gumaman.
__ADS_1
Amber menarik wajahnya dari ceruk leher Bram, dan menatap wajah tampan kekasihnya itu.
Bram tersenyum, saat melihat wajah lucu Amber yang sangat menggemaskan baginya.
"Cup." satu kecupan pria itu berikan kepada wanitanya.
"Dear." lirihnya kembali.
"Katakanlah, sayang." jawab Bram, yang kini sedang membuka pintu apartemen Amber.
"Klik." bunyi kunci otomatis pintu apartemen Amber.
Bram membuka pintu dan tidak lupa, dia menutupnya kembali.
Bram membawa Amber kearah dapur dan mendudukkan Amber diatas meja makan. lalu pria itu mendekati kulkas, membukanya dan mengambil sebotol air mineral.
Setelah itu dia kembali kedekat Amber. memberikan sebotol air mineral itu pada Amber yang sudah terbuka tutupnya.
Amber pun, meneguk air mineral itu hingga habis setengahnya. setelah itu dia menutup kembali botol itu dan meletakkannya di atas meja di sampingnya.
Bram yang sejak tadi memperhatikan sang kekasih dengan kedua tangan bertempuk pada meja makan dan membungkukkan sedikit badannya.
"Apa, kau ingin mengatakan sesuatu padaku, sayang.?" tanyanya pelan di depan wajah Amber.
Amber memejamkan matanya saat nafas hangat Bram menyapu wajahnya dan wangi mint yang sangat ia sukai.
"Sayang, katakanlah,! apa yang membuatmu seperti ini.?" bisik Bram dengan tangan yang mengusap rambut Amber sayang.
"Hanya, masalah keluarga, dear.!"
"Kau, mempunyai keluarga.?" tanya Bram penasaran.
karena sepengetahuan pria itu, Amber hanya hidup sebatang kara. dan dia tidak menyangka kalau kekasihnya, masih memilik keluarga.
"Hu'um, aku masih memiliki seorang Daddy,! tapi sayang dia hanya memikirkan kekayaannya saja dan dia seorang Daddy yang hanya memikirkannya istri dan anak tirinya. sedangkan aku hanya seorang anak yang terabaikan, hehe, ... begitu miris hidupku ini." Amber tersenyum miris, tentang hidupnya yang malang.
"Apa, kau tau, ... dear,? mereka menemuiku dan menyuruhku untuk menjadi anak berbakti. mereka ingin menjadikanku tumbal untuk, memperbanyak uang mereka. dia ingin menjodohkan ku dengan pengusaha terkaya di negara ini. dan mereka, mencariku hanya sebagai alat untuk memperkaya mereka, tanpa memikirkan perasaan ku. aku yang sempat merasa bahagia karena daddy, datang menemuiku. berharap mendapatkan pelukan hangat, tapi apa yang aku dapat hanyalah tuntutan dan hinaan, bahkan mereka tega memukuli ku. memukuli anak kandungnya sendiri. apa aku salah bila mengharapkan pelukan dan kasih sayang seorang Daddy? aku hanya merindukan pelukan Daddy kayak dulu, sebelum wanita itu datang di kehidupannya kami dan menghancurkan keluarga bahagia kami. aku sangat membenci mereka dear, … sangat membencinya.!"tangisan penuh luka dan perasaan rapuh itupun meledak seketika. tangisan dan perasaan yang selalu dia simpan dan dia pendam kini meledak di dalam pelukan hangat pria yang dia cintai dan percaya.
Bram sendiri hanya menatap kedepan dengan sorotan mata tajam, tangannya bahkan mencengkrang pinggiran meja dengan kuat dan dadanya sudah bergemuruh karena bercampur aduk, antara marah, sakit dan ikut terluka melihat wanitanya menangis pilu penuh luka di dadanya.
__ADS_1
Wajah Bram sudah berubah merah akibat, amarah yang ia tahan. dia baru mengetahui kehidupan sang kekasihnya yang penuh luka dan penderitaan itu.
Dibalik sikap tangguh sang kekasih, terdapat banyak luka dan hati yang rapuh. Bram berjanji akan selalu melindungi wanitanya dan akan memberikan banyak kebahagiaan untuk sang kekasih. dia tidak akan membiarkan siapapun melukai wanitanya, meskipun dia harus menghabisi nyawa orang itu.
Bram merengkuh erat tubuh rapuh Amber, yang masih bergetar karena tangisan pilu wanitanya.
"Stop, sayang,!" perintah Bram geram.
Pria itu sangat membenci tangisan sang kekasih yang bisa membuat hatinya ngilu dan sesak.
"Kumohon, sayang. berhentilah menangis, kau membuatku terluka." ujar pria itu, sambil meraih wajah Amber yang kini penuh air mata.
"Please, berhentilah menangis. aku berjanji tidak akan membiarkan orang itu, melukaimu lagi, sayang.! aku akan selalu melindungi mu dan aku akan berusaha selalu ada untukmu, jadi kumohon berhentilah, menangis … sayang." ujar pria itu, yang tangannya sibuk menghapus air mata wanitanya.
Amber hanya mengangguk dan kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bram.
Bram mengangkat kembali tubuh Amber dan mengendongnya untuk menuju kamar wanitanya itu.
Bram mendudukkan Amber di atas wastafel dan membantu wanitanya membersihkan wajah sembab itu dengan handuk kecil yang ia temukan didalam kamar mandi. Bram juga membantu kekasihnya itu menggosok giginya. setelah selesai Bram kembali mengendong Amber dan membawanya keatas ranjang.
"Kau, ingin aku membantumu mengganti pakaian mu, sayang.?" Bram mencoba menghibur Amber yang sejak tadi terdiam.
"Tidak, biar aku saja, dear." tolak Amber cepat. lalu wanita itu berlari masuk ke walk in closet miliknya.
Bram terkekeh melihat tingkah malu-malu sang kekasih. Bram membuka kemejanya dan kini pria itu hanya mengunakan bawahannya saja, memperlihatkan otot-otot dada dan punggung kokohnya. Setelah itu dia menghempaskan tubuh lelahnya di ranjang Amber yang tidak terlalu besar itu. Bram menatap langit-langit kamar Amber yang sederhana itu dan dia bergumam dengan gigi yang saling bergesekkan.
"Aku, harus menghancurkan mereka yang sudah membuat wanitaku terluka. aku tidak akan membuat Amber ku kesusahan lagi nantinya, karena ulah orang tua tidak tahu malu itu."
"Dear." seruan Amber, mengalihkan pandangannya dari langit-langit dan menatap Amber yang sedang berdiri di depan ruang gantinya.
"Kemarilah, sayang. panggil Bram dan membuka lebar lengan kanannya.
Amber pun mendekat dan merangkak mendekati Bram dan tidur di dalam pelukan kekasihnya dengan lengan pria itu sebagai bantalnya.
"Tidurlah, sayang." bisik Bram dan mengecup kening Amber.
Amber tak menjawab, dia hanya menikmati dada bidang penuh kehangatan sang kekasih dan juga menghirup rakus aroma menenangkan pria-nya.
Merekapun tertidur dengan saling berpelukan. tertidur dengan damai dan saling memberikan kehangatan. Amber bahkan tersenyum dalam tidurnya, begitu juga dengan Bram yang bibir seksinya tak lepas dari kening Amber.
__ADS_1