
"gimana, keadaan, mommy saya dokter,? Ruby bertanya kepada sang dokter dengan raut wajah khawatir.
"keadaannya, mommy anda sangat baik,! balas sang dokter, dengan wajah tenang dan tersenyum kepada Ruby.
"ta-pi, kenapa, mommy tidak mengenali ku, dokter,? tanyanya lagi, dengan wajah sedih yang sudah berlinang air mata.
sang dokter mengkerutkan keningnya, menatap sang mommy dan Ruby, dokter itupun lantas memeriksa kembali sang mommy, yang masih belum sadarkan diri, Ruby yang sekarang berada di salah satu rumah sakit, terkenal di kota K. Ruby hanya di temani oleh Amber, yang mendapat perawatan juga dan mengobati luka memar di wajah datarnya.
"apa, mommy anda pernah mengalami kecelakaan, atau kejadian buruk,? seru sang dokter setelah cukup lama, memeriksa keadaan mommy, Ruby.
Ruby mengangkuk dan menjawab, pertanyaan sang dokter. "iya, dok! kami pernah mengalami, kecelakaan enam tahun lalu." jawab Ruby, dengan air mata yang sudah mulai membasahi pipinya.
"hm, pantas," gumam sang dokter, yang masih bisa di dengar oleh Ruby.
"a-pa, maksud, dokter,? sela Ruby dengan tergugup. Ruby menatap sang dokter dengan wajah cemas dan penasaran.
"mommy, anda mengalami amnesia, nyonya." ujar sang dokter.
"aaam-nesia? lirih Ruby, menatap dokter itu, dengan wajah binggung dan penasaran.
"iya, nyonya, mommy anda mengalami amnesia.?
" apakah, mommyku bisa, kembali mengingat semua ingatannya, dok.? tanya Ruby yang masih dengan wajah penasaran dan cemas.
"bisa, kalau nyonya selalu membantunya, mengingat semua yang dia lakukan dulu, apa kesukaan dia, warna kesukaannya, atau anda juga bisa membawanya ketempat kesukaan, mommy anda."
__ADS_1
"tapi, jangan terlalu memaksanya, karena itu akan membuat kesehatan, mommy anda drop."
penjelasan sang, dokter hanya bisa membuat Ruby, menarik nafas panjang. apa dia bisa menyakinkan sang, mommy kalau dia adalah anaknya, Karena Alex si licik itu sudah mencuci otak sang mommy.
"baiklah, nyonya! aku permisi dulu," pamit sang dokter, dan melangkah meninggalkan kamar rawat tersebut.
Ruby, hanya menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih."
"hah, aku harus berjuang untuk kesembuhan, mommy, aku tidak boleh menyerah, aku pasti bisa, meskipun harus menerima makian mommy," Ruby, menarik nafas panjang dan berkata lirih.
"semangatlah, Ruby ! kamu pasti bisa.! monolognya dalam hati, sambil menggenggam tangan sang mommy lembut.
sementara di markas Boy Raymond Cole.
disebuah, ruangan yang pengap dan kurang pencahayaan, hanya lampu remang-remang yang menyinari tempat itu. seorang pria tampan, dengan luka memar di seluruh wajah.
dia hanya bisa memejamkan matanya, untuk menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
berjam-jam dia di siksa, bahkan seluruh tubuhnya di setrum.
"siram dia," perintah seseorang dengan suara beratnya.
"baik tuan.!
anak buahnya pun mengambil ember berisi air garam yang sudah di siapkan sejak tadi.
__ADS_1
"byuurrrr," air garam itu di siramkan dengan kasar, kepada pria itu yang keadaannya sudah melemah.
"akkhhh," teriaknya, penahan rasa perih di sekujur tubuhnya.
"bagaimana, rasanya? apa kau suka, Alex Graham." Alex mengerjap matanya berlahan, dia menajamkan tatapannya kedepan, meskipun dia tidak bisa melihat jelas, wajah pria itu, tapi Alex mengenali suara pria yang menjadi dalang akan siksaan yang di dapatnya.
"LEPASKAN, AKU BRENGSEK !!!! bentak Alex dengan suara lemahnya.
"ck! Boy Raymond Cole, hanya berdecak dan tersenyum puas dengan keadaan pria di depannya.
"aku, tidak akan melepaskan mu, sebelum kau menerima sebuah hadiah berharga dariku, yang tidak bisa kau lupakan." Boy tersenyum sinis sambil berjalan lebih dekat dengan Alex.
"bukankah, aku sudah memperingati mu! untuk tidak menganggu, Rubyku apalagi menyentuhnya"! Boy yang geram atas Kelakuan Alex pada Rubynya, membuat wanitanya itu penuh luka, dan lebih membuat Boy geram, Alex mencoba memaksa Ruby kembali padanya.
Boy yang mengingat apa yang Alex lakukan pada, Rubynya menjadi geram, Boy lantas mengangkat kursi kayu di sampingnya dan menghantamkannya kepada Alex.
"BRENGSEK,"
"pranggg," kursi kayu itupun hancur dan membuat Alex terhuyung kebelakang, Alex mencoba menatap Boy dengan sisa tenaganya. Alex terkekeh, dan detik berikutnya dia tertawa seperti orang sakit jiwa, Alex mencoba memprokasi, Boy dan mengatakan kalau Boy hanya suka dengan wanita bekas seperti Ruby, dan lebih parahnya lagi, Ruby adalah bekasnya dan pionnya yang bodah dulu. Alex mengatakan itu dengan senyum dan tawa yang mengerikan, dia terus saja membuat, Boy Raymond Cole meradang. dengan amarah yang sudah mengelap, Boy memerintahkan anak buahnya untuk, mematahkan kaki Alex dan memotong lidahnya yang sering menghina, Rubynya itu.
"patahkan, kakinya! dan potong lidahnya, setelah itu, lemparkan dia di tebing, Dimana dia akan melemparkan, Rubyku! pastikan juga dia tidak selamat sebelum kalian meninggalkannya." perintah Boy dan tersenyum sinis pada Alex, yang membeku di tempatnya.
"nikmatilah, sisa-sisa waktumu, Alex Graham,"
bisik Boy sambil menepuk wajah Alex yang sudah memucat.
__ADS_1
"ti-dak, lepaskan aku, kumohon tidak lepaskan, aku brengsek," akkhhh."
Boy meninggalkan ruangan penyiksaan itu, dengan senyum puas di wajahnya. meninggalkan teriakan kesakitan, Alex di ruangan itu. jeritan dan teriak masih terdengar dari luar markas Boy, untuk markasnya itu terletak di tengah hutan, jadi tidak akan ada orang yang mendengar jeritan kesakitan, Alex Graham.