Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 117


__ADS_3

"Kapan, kau Kembali, girl.?" Tanya Boy saat selesai sarapan dan kini mereka sedang bersantai di ruangan keluarga. Kebetulan Boy dan Ruby, masih cuti untuk ke perusahaan mereka.


Gaby tertekun mendengar pertanyaan Boy, yang ia tangkap sedang mengusirnya.


"Apa, kakak sedang mengusir ku, ternyata kakak sudah mulai menjauh dariku. Apa ini karena hasutan wanita ini." Monolognya dalam hati dan melirik Ruby yang sedang mengelayun manja pada Boy.


Ruby tidak sedikitpun melepaskan Boy dari sisinya. Dia terus menempel pada suaminya itu. Dia tidak akan memberi celah untuk sang adik ipar yang tidak tau diri ini.


"Aku, tidak akan pernah membuat mu mendekati suamiku." Sinis Ruby dalam hati dan kini dia naik kepangkuan suaminya tanpa rasa malu, pada Gaby dan mommy.


"Aku tidak peduli, apa yang kau pikirkan tentang aku, yang jelas Boy adalah milikku." Sinisnya lagi dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Mommy hanya tersenyum melihat tingkah manja sang anak. Wanita paruhbaya itupun melanjutkan membuka majalah.


Gaby hanya bisa mengertakkan gigi pelan dan menatap tajam pada pasangan yang kini saling berpelukan.


"Kakak, mau tinggal dimana.? Gaby bertanya dan menghentikan kemesraan pasangan pengantin baru itu.


"Disini. Iyakan, sayang." Jawab Ruby cepat dan mencoba merayu suaminya.


"Tapi, kakak kan punya apartemen sendiri." Saut Gaby berusaha mempengaruhi Boy, agar mau tinggal di apartemen, dan dia bisa leluasa memberi Ruby pelajaran dan berusaha mendekati Boy.

__ADS_1


"Tidak boleh." Potong Ruby cepat.


"Suamiku, yang tampan ini tidak boleh tinggal di apartemen, dia akan tetap disini bersamaku, iyakan, sayang. Apa kau tidak kasihan pada mommy yang sudah tua dan sering sakit-sakitan, hm." Rayu Ruby dengan wajah mengemaskannya.


Boy yang tidak tega pun akhirnya setuju. Dia akan tinggal di mana terserah yang penting ada sang istri di sisinya.


"Baiklah, baby. Aku ikut dengan saja. Yang penting dimana ada kau aku pasti ikut." Jawab Boy setuju.


"Hore, makasih, sayangku." Ujar Ruby gembira dan mengecup bibir suaminya di depan mommy dan Gaby.


"Dasar, murahan." Geram gadis itu.


"Jadi kakak tinggal disini.?" Tanya Gaby yang berharap kakaknya berubah pikiran.


"Yah, bukankah itu ide bagus, sayang." Sela Ruby.


"Bagus," dengan alis terangkat Boy bertanya pada sang istri.


"Iya, bukankah Gaby ingin hidup mandiri? Jadi biarkan dia belajar hidup sendiri, bukankah dia sudah dewasa.?" saran Ruby, membuat Gaby mengepalkan tangannya kuat.


"Dasar wanita sialan ini." Maki Gaby dalam hati.

__ADS_1


"Aku, setuju saran mu, baby." Boy mengangkuk dan menatap sang adik.


"Tinggallah di apartemen kakak, nanti Bram akan mengantarmu kesana dan akan ada pelayan yang akan menemani mu, disana." Ungkap Boy.


Gaby hanya bisa terdiam membisu dan bergeming di tempat duduknya. Air matanya pun sudah menetes dan dengan cepat gadis itu menghapus air matanya.


"Apa, kakak tidak ikut.?"


"Tidak bisa, girl."


"Aku harus menemani istri ku, buat istirahat."


"Jadi kakak, tega meninggalkan ku sendiri di apartemen." Seru Gaby, berusaha menahan tangisnya.


"Kau, sudah dewasa, girl dan kau berhak menata hidupmu sendiri. Saut Boy, dan menatap sang adik dengan wajah santainya.


"Tapi, kak. Aku ingin hidup bersama kakak." Balas Boy lembut dan ingin membelai rambut Gaby, tapi dengan segera Ruby meraih tangan kekar dengan bulu-bulu halus itu di udara.


"tidak. kau perlu hidup mandiri dan menata jati dirimu sendiri, girl." ucap Boy lembut. dan dia menundukkan kepalanya saat istrinya itu membuka suara lembutnya.


"Sayang."

__ADS_1


"Aku, mau tidur."


__ADS_2