Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 110


__ADS_3

"iya, kakak. aku sebenarnya sedang berlibur dadakan dengan beberapa teman di puncak." terang Gaby dengan perasaan tak menentu.


"lain kali beri kabar, girl. kau membuat kakak khawatir. kakak sangat menyayangi mu girl dan kakak takut terjadi sesuatu padamu, bagaimana pun kau adalah adik kakak satu-satunya, meskipun aku harus rela membiarkan mu memilih hidupmu sendiri dan mencari jalan hidup mu sendiri. kau sudah dewasa, sayang jadi kakak mengizinkan mu hidup dengan keinginanmu sendiri girl." Boy mencoba merelakan sang adik mencari kesenangan sendiri, tidak mungkin dia menekan terus menerus sang adik yang sudah dewasa ini. apalagi Boy, sudah memiliki istri sekarang dan sudah mempunyai tanggung jawab penuh pada istrinya.


hati Gaby kembali mencolos atas perkataan Boy. bagaimanapun Boy tetap menganggapnya adik kecil dan Gaby tidak akan membiarkan kasih sayang Boy menghilangkan untuknya.


"mungkin, ini yang terbaik untukku." gumam Gaby dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"hm, kakak. mungkin aku ingin melanjutkan kuliah di negara A." ujar Gaby.


"benarkah." saut Boy senang.


"Iya." balas Gaby singkat.


"Ok. kakak akan selalu mendukung mu, girl." Boy kembali mengusap rambut adiknya.


"Sayang." suara lembut dan halus itu, menyapa Indra pendengaran Boy yang tentu saja Boy mengenali suara lembut itu.


Boy menoleh kebelakang, senyum cerah terbit dari wajahnya, saat mendengar kata sayang dari istri cantiknya itu.


"Oh, baby." seru Boy dan mendekati istrinya itu.


"Coba, ulangi sekali lagi kalimat yang baru saja aku dengar, Baby."

__ADS_1


"Yang, mana.?"


"Oh, baby yang tadi."


"Tadi.?


"Hm."


"Ayolah, baby." rengeknya seperti anak kecil.


"Sayang." bisik Ruby dan langsung berlari.


Boy tertekun di tempatnya dia begitu senang atas panggilan sayang, yang Ruby ucapkan padanya.


Gaby hanya bisa bergeming di tempatnya, saat melihat berubah sang kakak, sifat manja Boy, sifat manis Boy pada Ruby dan juga sifat kekanak-kanakan kakaknya yang tidak pernah ia lihat selama bersama dengan Boy.


"Kau, sudah berubah, kakak. kau bahkan tidak menghiraukan ku dan meninggalkan ku demi istrimu. sebegitu besarkah cinta kakak pada wanita itu? aku rasa menyerah adalah jalan terbaik buatku." Gaby menatap tangga di mana boy dan Ruby berlari disana, sambil bermonolog dan masih bergeming di tempatnya.


"Kau, lihat." tiba-tiba suara bariton nan seksi, mengejutkan Gaby.


"Boy, tidak akan pernah tertarik padamu, dia hanya menyayangi mu sebagai adik dan itu tidak lebih. jadi buang jauh-jauh fikiran mu untuk menghancurkan rumah tangga Boy, karena pada akhirnya Boy akan membenci." ucapan sarkas Bram, begitu menusuk dan meremas kuat hati Gaby.


"Aku, harus apa.?" cicitnya bertanya.

__ADS_1


"Menjauhlah." balas Bram dingin. setelah itu pria itu pergi dan menjauh dari Gaby.


"Baiklah, aku akan menjauhi, kak." lirihnya sedih.


"Nona." sapa salah satu pelayan Ruby.


Gaby kembali terloncat kaget dan menoleh kebelakang, dimana asal suara yang menyapanya.


"I-iya." jawab Gaby gugup.


"Mari, ikut saya nona.!" ajak sang pelayan.


"Kemana.?" tanya Gaby heran.


"Ke kamar anda, nona. tadi tuan Bram menyuruh saya mengantar nona ke kamar anda." ujar sang pelayan ramah


Gaby hanya mengangguk dan mengikuti pelayan itu.


"Aku, kira kakak, boy yang menyuruh pelayan ini. ternyata kak sudah mulai jauh dariku." Gaby mengikuti langkah pelayan itu sambil bergumam dalam hati.


"Ng."


"Sayang."

__ADS_1


"Hm, baby."


__ADS_2