Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 114


__ADS_3

"Baby," seru Boy, saat keluar dari kamar mandi yang masih mengenakan handuk di bagian bawah perut rata dan kotak-kotaknya.


Boy mengerutkan alisnya, saat Ruby tidak merespon seruannya dan istrinya itu hanya diam termenung di atas ranjang mereka.


"Hei, …!" seru Boy, saat mendekati Ruby dan mendaratkan kecupan di pipi mulus istrinya.


Ruby tersendat kaget saat tiba-tiba, bibir dingin suaminya mengecup pipinya lembut. Ruby menoleh kearah Boy yang menatapnya dengan raut heran.


"Baby, you are okay." Boy bertanya kepada sang istri dengan tatapan lekat.


Ruby mengangkuk. perempuan itu meraih leher suaminya dan mengalungkan kedua tangannya di sana. Boy mengangkat istrinya itu dan berjalan kearah sofa yang ada di dekat pintu balkon. Ruby memeluk pinggang Boy erat dengan kakinya dan mengeratkan pegangannya di leher Boy. Boy mendudukkan dirinya di atas sofa santai dengan keadaan mereka masih mengenakan handuk.


"Katakan padaku ada apa, baby.?" tanya Boy lembut dan mengecup leher panjang istrinya.


Ruby menatap lekat manik suaminya yang berkilau terkena cahaya jingga sore hari itu, Ruby menarik nafas dan menghembuskannya dengan mengerucutkan bibir ranum tebalnya. Boy yang merasa gemes mengecup bibir manis istrinya itu.


"Sayang," seru Ruby.


"Hm." gumam Boy, yang kini asyik mengendus leher istrinya.

__ADS_1


"Apa kau sangat menyayangi adikmu.?" tanya Ruby dengan nada hati-hati.


Boy menghentikan kegiatannya dan melihat sang istri dengan dahi terangkat keatas.


"Tentu saja, baby, aku menyayangi adikku. dia satu-satunya saudariku, meskipun kami tidak di lahirkan dari rahim yang sama, tapi aku sangat menyayanginya. bukankah sudah kewajiban kita saling menyayangi dan menjaga saudara kita, baby. apalagi Gaby adik yang sangat lucu dan manja." jawab Boy dengan tersenyum. Ruby yang mendengar jawaban suaminya menjadi kesal.


"Kalau aku memberimu pilihan, antara aku dan adikmu yang lucu dan manja itu,"tanya Ruby dengan wajah tidak suka. " Kau, pilih siapa.?" sambungnya dengan wajah serius kali ini.


Boy terpaku dan wajah terlihat heran dan binggung, pria itu menelan ludahnya kasar saat tatapan intimidasi sang istri bagaikan predator yang siap menyerangnya.


"A-pa, itu harus, baby." tanya Boy, gugup.


"Hu'um." jawab Ruby sambil mengangguk.


Bagaimana dia akan memilih diantara dua wanita yang sangat dia sayangi.


"Tapi, aku ingin kau memilih." ujar Ruby lagi, dengan wajah serius.


"Baby."

__ADS_1


"Pilih aku atau adik tersayangmu itu."


"Oh, Tuhan."


"Sayang."


"Baby."


"PILIH." hardik Ruby yang tidak sabar.


"Terus mau kamu apa, baby.?! erang Boy frustasi.


"Kau, marah padaku.?!" tanya Ruby yang manik hazelnya sudah berkaca-kaca.


Boy yang melihat istri tersayangnya ingin menangis, menjadi kebinggungan. dia paling membenci apabila sang istri menangis.


"Baby." lirih Boy lembut.


"Sekarang aku sudah tau, kalau paman tidak benar-benar mencintaiku, hati paman tidak seutuhnya milikku, lihatlah paman masih memikirkan wanita lain selain aku. paman masih menyayangi wanita lain selain aku. dihati paman masih ada wanita lain selain aku," paman berbohong kalau paman sangat mencintaiku dan hanya aku wanita yang ada di hati dan pikiran paman," paman bohong." Ruby perkata dengan air mata yang sudah tumpah ruah di wajahnya, diapun menjauh dari suaminya dan naik keatas ranjang.

__ADS_1


Boy masih melongo dengan apa yang ia dengar barusan dari mulut ranum istrinya itu.


"Sayang."


__ADS_2