
Boy, mommy dan juga bibi lili masih berada di luar ruangan ICU. Boy bahkan tak henti-hentinya memaki dirinya sendiri sambil mondar-mandir di depan ICU.
Sedangkan mommy, sejak tadi menangis di pelukan bibi lili. Sang mommy begitu scok saat mendengar kabar tentang keadaan dan peristiwa yang dialami putrinya.
Dengan masih terisak mommy terus saja berdoa, demi kesembuhan putri satu-satunya itu.
"Ya, Tuhan … selamatkanlah putriku Ruby." doa sang mommy.
"Anakku, yang malang ….!! lirih sang mommy lagi.
"Tenanglah, nyonya besar."
"Aku, yakin nyonya Ruby pasti selamat, dia wanita kuat nyonya." ujar sang bibi, berusaha menenangkan nyonya besarnya itu.
"Kau, benar bi, Rubyku wanita kuat. dia pasti akan berjuang untuk kembali bersam kita." mommy menghapus air matanya dan menghela nafas. dia harus kuat dan harus banyak bersabar.
"Seharusnya, aku lebih menjaga Rubyku dengan baik. tidak meninggalkannya demi pekerjaan. baby, … maaf aku." batin Boy.
"Tak lama ruangan ICU itu terbuka dan Bebe dokter keluarga dari ruangan itu.
Boy langsung menghampiri para dokter itu, dengan jantung yang berdebar kencang.
Sang mommy pun ikut bangkit dan mendekati sang dokter bersama bibi lili.
"Ba-gaimana, keadaan Ruby, dokter." dengan nada suara bergetar dan gugup Boy menanyakan keadaan Ruby.
__ADS_1
Sang mommy pun menatap sang dokter dengan wajah penuh harapan.
Para dokter itulah menghela nafas sejenak dan menatap keluarga pasien mereka satu persatu.
"Kondisi, nyonya Ruby sedang kritis tuan. nyonya Ruby terlalu lama dan terlalu banyak air yang menyumbat paru-parunya. untung anda cepat membawa nyonya Ruby kemari. sedikit saja anda terlambat membawanya mungkin nyonya Ruby tidak bisa diselamatkan." ujar sang dokter, melaporkan keadaan Ruby. membuat Boy lemas seketika dia bahkan hampir terjatuh kelantai, untuk tangan kekar Bram menahannya.
Sedangkan sang mommy kembali menangis di pelukan bibi lili.
Ada rasa senang karena putrinya selamat dari maut dan ada juga rasa sedih karena putrinya masih dalam keadaan kritis.
"Apa, aku boleh melihat anakku, Ruby.?" tanya sang mommy dengan suara parau.
"Bisa, nyonya tapi kami harus memindahkan, pasien dulu ke ruangan lain." jawab sang dokter
Mommy hanya mengangguk dan menatap sang putri lewat kaca besar yang ada disana, dia bisa melihat putrinya saat tirai kaca itu terbuka.
Sedangkan Boy terduduk lemas di kursi tunggu dengan Bram di sampingnya.
Amber mendekati mommy dan mengatupkan kedua tangannya di dada, Amber meminta maaf kepada sang mommy karena sudah lalai menjaga Ruby.
"Nyonya, maafkan aku. aku sudah gagal menjaga Ruby dan aku sudah membuat Ruby dalam bahaya." ucap Amber, dengan air matanya yang tak hentinya mengalir.
"Tidak, sayang. semua ini bukan kesalahanmu, kau juga sudah menjaga putriku dengan baik. dan terimakasih kau sudah menyelamatkan anakku dengan cepat. kalau terlambat sedikit saja aku tidak tau apa yang akan terjadi pada putriku." mommy kembali menangis dan Amber dengan segera memeluk nyonya besaran itu.
Bram yang melihat kekasihnya menangis, hanya mampu menggertak giginya.
__ADS_1
Hatinya begitu perih saat melihat wanita kesayangannya terlihat menangis.
"Awas, kau wanita sialan, aku akan membuatmu perhitungan denganmu." geram Bram dalam hati.
"Apa, kau sudah mendapatkan pelakunya.?" tanya Boy dengan tatapan tajam mengerikannya.
Bram mengangkuk dan memberi kode kepada Boy, untuk menjauh dari sana.
Boy pun mengedikkan matanya dan bangkit mendekati sang mommy.
"Mom," panggil Boy lirih.
Mommy mendongak menatap Boy dan menjauh dari pelukan Amber.
"Aku, titip Ruby sebentar, mom. aku ingin menyelesaikan sesuatu sebentar." pamit Boy dengan lembut.
"Pergilah nak, mommy pasti menjaga Ruby." balas mommy dan mengusap bahu Boy.
Boy tersenyum dan melangkah jauh dari sana.
"Aku, pergi dulu. tetap disini, jangan kemana-mana," ok." bisik Bram, lalu memeluk dan mengecup kening Amber sebentar.
Setelah itu Bram melepaskan pelukannya dan memberikan sekali lagi kecupan dibibir Amber.
"Love you," bisiknya, membuat Amber merona dan salah tingkah.
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, Bram mengikuti langkah Boy.
menuju keatas rooftop rumah sakit dan membahas hal penting tentang dalang di balik musibah yang dialami Ruby.