
"Morning, Baby," cup." Boy menyapa Ruby dan di lengkapi kecupan di dahi dan bibir ranum Ruby.
"Morning to, paman," balas Ruby dengan senyum cerah.
"Kau, terlihat bahagia sekali, baby.!" Boy bertanya dengan dahi mengerut.
"Apa, ada sesuatu hal yang begitu membuatmu bahagia, baby.?" tanya Boy, penasaran dengan mata memicing kearah Ruby.
Ruby tak menjawab, tapi senyuman cerahnya terukir jelas di wajah cantik alaminya.
"Baby, ….!! rengek Boy, yang membuat Bram tersedak makanannya.
"Cih! Boy mendelik Bram dengan kesal.
"Minum, dear." Amber memberikan segelas air kepada Bram.
"Uhuk, uhuk, uhuk." kali ini giliran Boy yang tersedak makanannya.
"Dear." Boy membeo. dan menatap Pasangan di depannya dengan intens.
"Sejak, kapan si tembok ini berubah manis, dan sejak kapan si muka kaku ini jadi seromantis ini.?"
"Ini, tidak boleh dibiarkan. aku tidak boleh kalah romantis dari muka kaku ini," cih, menyebal."
Boy terus saja bermonolog dalam hati sambil menatap pasangan di depannya yang sedang saling suap-menyuap.
"Cih! berlebihan." gumamnya tidak suka.
"Baby, suapi aku," aaak," Boy menampilkan wajah sok imutnya dan meminta Ruby menyuapinya.
__ADS_1
Kembali Bram tersendat makannya, "oh, God kenapa wajahnya sangat menjijikkan." batin Bram sambil mengedikkan bahunya.
"Ehe, … dasar asisten sialan, kau sudah menganggu acara romantisku dengan Rubyku. kenapa tidak sekalian saja kau tersendak sendok makanmu," menyebalkan, gara-gara kau aku tidak jadi suap-suapan dengan Rubyku." gerutu Boy kesal.
Ruby yang tak ingin paman mesumnya itu terus berdebat dan merusak suasana hatinya, dengan terpaksa menyuapi tuan muda arogan itu.
Sedangkan Boy masih menatap pasangan didepannya dengan sengit. Boy menajamkan pandangannya pada leher Amber, yang terdapat bekas merah dan dia tau bekas apa itu.
dengan rasa penasaran tingkat tinggi si tuan muda arogan itupun bertanya.
"Apa, kalian mengolah adik bayi, semalam.?" dengan wajah sok polosnya, Boy bertanya hal yang sangat memalukan.
Kembali lagi Bram tersendak, tapi kali ini dia tidak sendiri melainkan ditemani oleh Ruby dan Amber.
"Baby, apa yang kau makan, kenapa kau tersendak seperti itu,?" dengan cemas Boy memberikan segelas minum kepada Ruby dan membantunya minum.
"Kami, tersendak ucapan anda, tuan." geram Bram
"Oh, iya! jadi kalian melakukannya tadi malam,?
Berapa kali? apa kalian melakukannya berkali-kali? aku yakin, pasti kecebongmu akan cepat berubah bentuk. rajin-rajinlah mengolah maka kecebongmu akan berubah bentuk kepala dengan cepat."
ucapan bar-bar Boy sukses membuat semua orang di meja makan itu, menganga lebar.
"Apa, dia tuan muda kita.?" bisik Amber.
Bram hanya mengangguk dan menatap tuanya itu, yang sedang tersenyum miring.
sedangkan raut wajah Ruby sudah berubah merah, karena malu.
__ADS_1
"Kau, kenapa? Boy yang melihat wajah menyedihkan asistennya, dia tersenyum sinis.
"Apa, kepala batumu tak bisa bangun? atau dia terlalu besar, jadi si tembok ini menolakmu.?"
"Jangan-jangan, kalian hanya bermain di luar jangkauan.?" Boy menyipitkan matanya menatap intens pasangan di depannya yang kembali tertekun, dengan ucapan bar-bar tuan mereka.
"Aku, yakin kau terlalu ganas." sambungnya lagi dan mengarahkan pandangannya ke leher Amber.
"Ternyata, kau hanya vampir yang menyukai leher,"
"Tuan, jaga pandangan anda."geram Bram dan mencoba menutup leher jenjang dan putih Amber.
"Cih! aku tidak akan tertarik, aku sudah mempunyai leher yang lebih bagus dari si tembok ini." ujarnya sambil berdecak kesal.
"Iyakan, bab ….!!! ucapan Boy terhenti saat tak menemukan Ruby disampingnya.
"Kemana, Rubyku,?" tanya Boy
Amber dan Bram hanya mengangkat bahu mereka bersamaan.
"Dasar anak buah kurang ajar." maki Boy.
Dia kemudian bangkit dan berjalan mencari Rubynya.
Amber dan Bram tertawa lepas saat sang tuan muda sudah tak terlihat.
"Dasar, tuan muda arogan bar-bar." seru mereka bersamaan dan kembali tertawa lepas.
mampir ke karya Uma yang baru yuk?
__ADS_1