Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 37


__ADS_3

"Alex," panggil Rebecca yang sedang menuruni anak tangga. "Aku, ikut denganmu ke kantor,! ujar Rebecca yang sudah dilantai utama dan berjalan mendekati Alex.


Hari ini adalah pesta menyambut Alex sebagai CEO tetap di perusahaan Pattinson dan pergantian nama perusahaan Pattinson group menjadi Graham group.


Penampilan Alex dan Rebecca hari ini begitu memukau, mereka terlihat seperti pasangan serasi yang selalu di penuhi kebahagiaan.


Alex dengan, stelan jas yang berlapis tiga berwarna hitam pekat, yang menambah kadar ketampanan Alex, sedangkan Rebecca mengenakan gaun yang begitu memukau, Rebecca terlihat seperti wanita bangsawa, jangan lupa perhiasan yang di kenakan Rebecca, yang begitu berkilau dan tentu saja yang memiliki harga yang sangat fantastik, membuat para wanita sosialita iri kepada Rebecca. Siapa yang mengira kalau yang semua Rebecca kenakan, adalah milik mendiang mommy Ruby.


"Ck! kau berangkat dengan supir." ucap Alex tanpa memandang Rebecca.


"Tapi, disana akan banyak media Lex! apa kata mereka, kalau tau kita ke perusahaan dengan mobil masing-masing, ingat kau harus jaga reputasi kita di depan publik, kau mau di cemoh, oleh orang lain lagi. " sungut Rebecca yang tak terima, jika tak bersama Alex ke perusahaan.


"Cih! aku, tak peduli." setelah mengatakan itu Alex meninggalkan Rebecca dengan raut wajah yang sudah memerah karena menahan kesal.


"Alex …!!! pekik Rebecca sambil mengejar langkah Alex. tanpa menunggu aba-aba, Rebecca masuk kedalam mobil Alex, saat sang sopir ingin menutup pintu mobil itu kembali. Rebecca pun tersenyum, saat sudah duduk tenang di kursi belakang mobil di samping Alex.


"KAU ….! geram Alex tertahan. Alex menarik nafas dan membuangnya kasar, bukan saatnya untuk berdebat dengan Rebecca saat ini, karena semua karyawan perusahaan dan para undangan sudah menunggunya.


"Jalan." perintah Alex kepada sang sopir. sedangkan Rebecca tersenyum puas.


Mobil yang mewah itupun melaju kearah jalan raya dan ikut bergabung di tengah kemacetan di salah satu jalanan di negara K. Alex mendegus kesal sambil terus, melirik jam tangan mahalnya.


"Cepatlah sedikit," perintah Alex gusar. karena sejak tadi asistennya mengiriminya pesan.


"Baik tuan ." ujar sang sopir, yang menambah kecepatan laju mobil mewah itu, saat bebas dari kemacetan.


**********


"No, baby! jangan pakai gaun ini,coba lihat ini, tunjuk Boy pada bagian dada Ruby dan "ini," tunjuknya lagi, di punggung terbuka ruby.


"Amber ganti," titah Boy, yang tak rela keindahan tubuh wanitanya menjadi bahan pikiran kotor para pria mesum.


"Tapi, paman aku suka gaun ini,! rengeknya sambil memperlihatkan wajah imutnya kepada paman posesif mesumnya itu.

__ADS_1


"Sekali no, tetap no,! kau tidak hanya membuat orang terkejut atas keberadaanmu, tapi semua orang juga akan menjadi kagum kepadamu baby, apalagi para pria yang akan menjadi bernafsu nanti kalau mereka, melihat punggung mulusmu ini baby.!" ujar Boy dengan raut tak rela kalau penampilan wanitanya menjadi tontonan gratis para pria mata seribu. "Cih." aku tidak akan rela dan aku akan mencongkel mata mereka." monolog Boy dalam hati.


"Paman ….! sendu Ruby, kali ini Ruby mengandalkan senjata ampuhnya, yaitu menangis


"Ck! no baby! tolak Boy, yang tidak terpengaruh dengan senja ampuh Ruby.


"Amber, ganti! titah Boy tak terbantahkan. dan meninggalkan Ruby dan Amber di kamar.


Alex menunggu Rubynya di ruang keluarga bersama asistennya Bram.


"Bram, kau sudah menyiapkan semuanya.? Boy bertanya kepada sang asisten, atas rencana yang mereka buat.


"Sudah tuan."


"Hm! kau tetap awasi mereka dan tetap yang terutama awasi Rubyku, jangan sampai mereka melukai Rubyku walaupun hanya tergores. perintah Boy yang tak ingin wanitanya terluka, walau sedikit saja. Boy tidak akan menemani Ruby, untuk mengungkap semua kejahatan Alex dan Rebecca, Boy hanya memantau dan melindungi Ruby dari jarak jauh.


"Baik tuan! jawab asisten Bram.


"Dasar paman posesif mesum." gumamnya kesal.


"Tapi, bukankah ada bagusnya juga, kalau aku memakai stelan kantor saja, jadi di saat Rebecca atau Alex macam-macam, aku tinggal menendangnya dengan mudah, bukan begitu Amber.? usul Ruby dan bertanya kepada Amber, yang hanya diam merapikan dandanan Ruby kembali.


"Gimana Amber." tanya Ruby sekali lagi, yang di jawab anggukkan kepala.


"Hah! Ruby hanya bisa menarik nafas atas sikap Amber yang terlalu datar. "Apakah dia benaran robot." monolognya dalam hati.


Akhirnya Ruby memakai stelan kantor, yang masih terlihat anggun dan modis. Ruby terlihat seperti wanita dewasa yang tangguh. dandanan yang sedikit mengubah wajahnya yang imut, terlihat lebih dewasa, rambut panjangnya dia ikat keatas menyerupai ekor kuda. Ruby keluar dari kamar setelah selesai dengan urusannya, dia berjalan mendekati Boy yang sedang menunggunya. Boy mengangkat kepalanya, saat mendegar langkah sepatu high heels mendekat kepadanya. Mulut Boy menganga dan pandangannya, tak lepas dari sang pujaan hatinya yang begitu terlihat sangat cantik.


"Oh, lihatlah dia cantik sekali." puji Boy dalam hati. Boy berdiri dan menyambut, wanitanya dan memeluknya erat, tak lupa kecupan manis di berikan di kening dan bibir Ruby, yang hari ini di polesi lipstik warna berani.


"Bram, jangan pandanganmu." pekik Boy, saat melirik sang asisten yang begitu terpesona kepada wanitanya.


"Maaf, tuan! saya tidak sedang melihat nyonya, tapi-! ucapan Bram terhenti saat mendapatkan tatapan tajam dari Amber.

__ADS_1


"Kau yakin tertarik dengan wanita tembok itu? gumam boy yang masih bisa terdengar oleh Bram


"Itu-! Perkataan Bram terhenti saat sang tuan mudanya menyelanya.


"Kau, sudah membuat adik bayi, bersama dia? pertanyaan Boy mampu membuat semua bola mata yang ada di sana membola.


"Jangan, lama-lama membuatnya, nanti ayahmu, paman Ruben terlebih dahulu memberikan adik bayi kepadamu." hahahah." cecar Boy sambil terbahak saat membayangkan ekspresi wajah asistennya saat mendapatkan adik bayi di usianya yang sudah 30 tahun lebih.


Asisten Bram hanya mampu melongo atas sikap bar-bar mode on sang tuan mudanya itu.


"Ya Tuhan, bisakah aku menjahit mulut lacknat tuanku ini." bisik Bram dalam hati.


"Bram, kau mengumpat ku.? tanya Boy dengan memicingkan matanya.


"ti ... tidak tuan! saya mana berani mengumpat anda," jawab asisten Bram.


"paman, ayo kita berangkat sekarang," ajak Ruby.


"aku, sudah tidak sabar melihat wajah terkejut mereka."


"ayo, paman! aku sudah tidak sabar, bermain-main dengan mereka." ujar Ruby dengan raut wajah semangat.


"ok, baby! mari kita berangkat." Boy keluar dari apartemennya dan menuju mobil Bugatti keluaran terbaru itu yang sedang menunggu mereka.


"kau, siap baby.? bisik Boy.


"siap! balas Ruby semangat.


"baiklah, saatnya bermain, baby." seru Boy


Ruby pun sudah siap untuk menghancurkan


pengkhianat yang sudah membuatnya hancur.

__ADS_1


__ADS_2