Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 104


__ADS_3

suasana rooftop hotel berbintang itu, kini terlihat semakin ramai oleh para, tamu undangan dari berbagai negara yang kebanyakan rekan bisnis Boy Raymond Cole.


Boy melangsungkan acara pernikahan tanpa kehadiran kedua orang tuanya ataupun keluarga besar Cole. bagi seorang Boy, itu semua tidaklah penting. yang terpenting baginya adalah menjadikan Ruby istrinya dan miliknya seutuhnya.


senyum Boy dan Ruby, tidak pernah pudar dari wajah mereka. terlihat jelas raut kebahagian kedua pembelai pengantin itu. para tamu begitu terpesona dan terpukau akan keindahan dekorasi yang begitu mewah dan penuh kehangatan. semua tamu undangan juga terpukau atas kecantikan dan ketampanan kedua pembelai pengantin yang sekarang, sedang memang pisau untuk melakukan pemotongan kue pengantin yang sangat tinggi dan mewah.


tepuk tangan para tamu undangan meramaikan suasana hangat nan romantis itu, saat kedua pengantin yang sangat romantis itu berciuman dengan sangat mesra.


manik mereka kini saling menatap penuh cinta dan kebahagiaan. terlihat jelas wajah bahagia mereka, karena akhirnya keduanya kini sudah mengikat hubungan mereka dengan pernikahan. manik hazel Ruby mulai berkaca-kaca dan manik hazelnya kini teras berat dan perih, berselang berikutnya air matanya pun tumpah membasahi wajah yang di polesi makeup natural itu.


Ruby, tidak percaya kalau dirinya akan melangsungkan pernikahan yang kedua kalinya. setelah kegagalan pernikahannya yang pertama, karena pengkhianatan yang harus ia terima dan juga luka yang ia dapatkan dari mantan suaminya terdahulu.


Ruby berdoa, semoga ini adalah pernikahan yang terakhir baginya dan ia, berjanji akan selalu menjaga cinta dan juga hati suaminya hanya untuknya. dia tidak akan membiarkan kejadian pernikahan pertamanya akan terulang, kembali. Ruby akan bersumpah akan menjauhkan suaminya, dari para wanita-wanita jaalang yang berusaha menggoda suaminya kelak.


"hey, ... kenapa kau menangis, baby.?" dengan suara lembut penuh kasih sayang, Boy bertanya kepada sang istri. yah sekarang ruby-nya adalah istrinya, istri dari Boy Raymond Cole.


Ruby meraih telapak tangan boy, yang sedang menghapus kristal bening yang membasah wajah cantik nan mulusnya itu.


Ruby mengecup telapak tangan Boy, dengan lembut dan penuh rasa cinta. Ruby menatap netra biru kehijau-hijauan Boy, yang juga menatapnya dengan binar kebahagiaan, penuh kasih sayang dan cinta.


"terimakasih, karena sudah mencintaiku dan menyayangi ku dengan tulus. terimakasih, sudah menerimaku dan membawaku kedalam hidup mu. terimakasih, sudah mau membawa ku, dan mengulurkan tangan yang penuh kasih sayang ini untuk menerima, istri cacat yang pernah terbuang ini. terimakasih, karena sudah mengobati semua luka dalam hatiku dan menemaniku untuk bangkit dari keterpurukan. terimakasih, ... terimakasih, semua yang telah kau berikan padaku. terimakasih, ... suamiku, Boy Raymond Cole," I love you." kata-kata tulus dan air mata kebahagiaan itu, mampu membuat hati Boy menghangat.


Boy bersumpah, akan selalu mencintai dan melindungi istrinya, Ruby. dia tidak akan pernah menyakiti Ruby-nya karena diapun akan ikut tersakiti.

__ADS_1


"love you too, baby." balas Boy, tak kalah lembutnya. Boy menarik istrinya dan membawanya kedalam dekapannya. mereka saling menitikkan air mata kebahagiaan. mereka berdoa semoga kehidupan pernikahan mereka selalu bahagia dan cinta mereka akan selalu bertambah.


Boy, mendorong tubuh istrinya pelan, dan menatap manik hazel istrinya itu, Boy memajukan wajah sehingga kini, nafas mereka beradu di udara, Boy menempelkan bibirnya di atas bibir istrinya dan memangutnya lembut, sangat lembut. seakan-akan dia baru merasai bibir lembut nan manis milik Ruby.


mata mereka kini terpejam dan tautan bibir keduanya semakin dalam, untuk menyalurkan perasaan yang di rasakan keduanya malam ini.


semua para tamu undangan, ikut terbawa suasana romantis pasangan pengantin itu.


mereka begitu iri, akan keromantisan mereka dan cinta tulus kedua pembelai pengantin yang masih berciuman itu.


"Aku, berharap keduanya akan selalu bahagia. dan semoga, Ruby mendapatkan cinta sejati dari tuan Boy. dan tidak merasakan lagi yang namanya dikhianati." Amber, mengucapkan doa tulusnya untuk sahabat baiknya itu.


Amber, ikut menitikkan air mata kebahagiaannya untuk Ruby. sejak tadi wanita itu ikut menyaksikan dan merasa terharu akan perlakuan manis nan penuh keromantisan pasangan pengantin baru yang ada di depannya.


"Rentangkan, tanganmu, sayang.!" perintah Bram lembut. lalu pria itu membuka jas-nya.


Amber menuruti perintah Bram dengan wajah binggung. dan tidak lama tubuhnya terasa hangat saat jas mahal Bram membalut tubuhnya, yang merasakan kedinginan sejak tadi, akibat gaun yang ia kenakan sedikit terbuka.


Amber, menoleh kebelakang dan tersenyum lembut pada Bram, " terimakasih, dear." ucap Amber, sambil merapatkan punggungnya di dada Bram, saat pria itu memeluknya dari belakang. Bram meletakkan dagu terbelahnya di kepala Amber dan sesekali pria dengan manik abu-abu itu menciumi kepala kekasihnya yang sangat dia cintai itu.


Amber merasakan berkali-kali kehangatan saat, Bram memeluknya seperti ini. sambil memandangi pemandangan kota K dari ketinggian di rooftop hotel. mereka ikut merasakan suasana romantis, apalagi di dukung oleh musik yang terdengar merdu dan syahdu.


"katakan, padaku sayang, apa kau tidak mendoakan hubungan kita juga.?" bisik Bram di telinga Amber dan dia juga meninggalkan kecupan di sana.

__ADS_1


Amber membalikkan, badannya dan sedikit mengangkat kepalanya untuk menatap manik teduh sang kekasih.


"aku, selalu berdoa setiap saat untuk hubungan kita, dear. aku selalu berdoa, agar kau selalu mencintaiku dan tidak akan meninggalkan ku. dan aku juga berdoa semoga kita bisa saling menjaga hubungan kita ini, tanpa adanya pengkhianatan. apa kau mau berjanji padaku, dear,? berjanjilah, kau akan selalu mencintaiku dan tidak akan pernah meninggalkan ku, apalagi mengkhianati ku. berjanjilah, dear atas apa yang aku katakan tadi." Amber berkata dengan wajah serius dan penuh harap.


Bram menunduk dan mengangkukkan kepalanya," aku, berjanji, sayang.!" balas Bram.


"Aku, berjanji akan selalu mencintai mu dan aku berjanji tidak akan meninggalkan mu dan aku berjanji tidak akan mengkhianati mu, sayang. aku mencintaimu, dan selalu mencintaimu, Amber Wilson," i love you, sayang." Bram, mengatakan rasa cintanya dengan sangat tulus.


Amber tidak dapat berkata, apa-apa lagi. dia langsung menghamburkan dirinya kedalam pelukan hangat pria-nya dan mempererat pelukannya.


"Aku, juga sangat mencintaimu, dear. sangat, ... sangat ... mencintaimu." setelah mengatakan itu, Amber melepaskan tangannya dan berpindah ke wajah Bram, sehingga kedua tangannya membingkai wajah rupawan Bram.


Amber mengecupi bibir bervelume sang kekasih bertubi-tubi.


Bram, menahan tengkuk Amber dan memangut dan menyesap bibir mungil dan indah Amber.


Bram mengangkat tubuh, Amber dan meletakkannya di pagar pembatas rooftop itu tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


mereka pun saling bercumbu di tengah suasana romantis dan di saksikan oleh hembusan angin malam dan juga sinar bintang yang begitu cerah di langit malam ini.


Tidak, jauh dari mereka. seorang wanita dengan tubuh seksi, sejak tadi menyaksikan dua sejoli itu bermesraan. wanita itu begitu berang dan tangannya sejak tadi sudah mengepal di kedua sisi tubuhnya.


dia menatap benci dan penuh iri hati kepada, Amber.

__ADS_1


"Aku, tidak boleh kalah dengan wanita datar dan dingin itu. lelaki itu harus menjadi milikku." gumamnya dan masih menatap pasangan yang masih asyik bercumbu itu.


__ADS_2