Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 106


__ADS_3

Mansion Cole.


Di ruangan mewah yang di hiasi oleh barang-barang klasik nan indah dengan harga selangit. Ruangan itu juga, dilengkapi sofa-sofa mewah berwarna crem keemasan dan juga sebuah bofet berukuran panjang yang di atasnya terdapat benda bersegi panjang berukuran sangat besar.


Seorang, pria paruhbaya mengeram marah saat netra biru kehijau-hijauannya yang di hiasi kerutan di sekitar netranya itu. Tuan Kevin Cole, melempar sebuah remote kearah benda persegi panjang itu hingga retak dan hancur. saat netra tajamnya melihat, sang putra tunggal sedang tersenyum bahagia bersama seorang wanita cantik, yang sekarang menjadi menantunya.


Tuan Kevin, berteriak di ruangan keluarga sambil melemparkan sebuah pas bunga kearah benda persegi itu yang masih terdengar suara orang-orang bersorak bahagia.


"Dasar, anak durhaka." sentak tuan Kevin yang sedang memaki gambar seseorang yang berada di dalam benda persegi tersebut.


"Anak itu, menikah tapi tidak mengabari ku. Ini sungguh sangat memalukan. apa yang harus aku katakan pada semua, rekan kerjaku dan pada semua keluarga Cole, kalau anak kurang ajar itu susah menikah."


"Akhh," dasar anak itu, ini tidak akan aku biarkan. Boy tidak seharusnya menikahi janda yang terbuang seperti wanita itu." murka tuan Kevin.


"Tenanglah sayang. jangan buang tenagamu hanya untuk marah-marah tidak jelas. sekarang kita harus melakukan sesuatu, untuk membuat Boy meninggalkan janda cacat itu." nyonya Lezi, menyela umpatan tuan Kevin Cole, Daddy Boy Raymond Cole.


"Kau benar, kita harus melakukan sesuatu supaya Boy, meninggalkan wanita cacat itu dan bersedia menikahi anak dari tuan Ramon." senyum licik itupun muncul di bibir tua tuan Kevin, yang di tumbuhi tunas cambang yang sudah memutih.


"Itu tidak akan terjadi. karena Boy harus menjadi milik Gaby, agar posisiku sebangai nyonya Cole aman." batin nyonya Lezi.


"Tapi, … dad. kenapa Gaby belum mengabari kita.?" nyonya Lezi tiba-tiba mengingat Gaby, yang sejak semalam tidak mengabari dirinya.


"Entahlah." jawab tuan Kevin acuh.


"Daddy, kenapa kau belum berubah juga. bagaimanapun Gaby anakmu, dad! dan sikapmu yang acuh seperti ini, membuatku kecewa. Gaby putri mu dad, … putri kita. bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada putrimu." nyonya Lezi memulai drama palsunya dan juga air mata buaya-nya.


"Cih." tuan Kevin hanya mendecihkan lidahnya.


"Daddy." sentak nyonya Lezi, saat tuan Kevin meninggalkannya sendiri di ruang keluarga.


"Dasar, pria tua kejam." geramnya tertahan. sambil menatap punggung tua tuan Kevin.


"Kemana, anak sialan itu.?" lirihnya binggung.

__ADS_1


Nyonya Lezi mencoba menghubungi ponsel Gaby tapi tetap sama, gadis itu tidak menerima panggilannya.


"Dasar anak pungut sialan." maki nyonya Lezi dan melemparkan ponselnya keatas sofa.


"Aku tidak akan membiarkan, Boy mengambil semua yang sudah aku nikmati. semua ini adalah milikku, cuma milikku." menolog wanita tua itu dengan manik tuanya yang menerawang tajam kedepan.


*


*


*


"Hg." suara lenguhan lembut terdengar di salah satu suite room hotel mewah di kota K.


Mata indah dengan bulu-bulu lentik panjang itu, mengerjap dengan berlahan saat sinar matahari pagi mengusik tidurnya melalui celah golden yang ada di samping ranjang.


Dengan, berlahan manik hazel itupun terbuka lebar dan berkedip-kedip sehingga bulu-bulu panjang nan lentik itu terlihat begitu mengemaskan.


Ruby mendekatkan jari-jari tangan mulus lentiknya, kearah Boy dan mengelus wajah yang dihiasi tunas cambang, yang menambah kesan gagah pada suaminya. jari lentik Ruby masih bermain-main di sekitar wajah Boy, menyentuhnya dan membelai dengan lembut. Ruby memiringkan badannya, lalu wanita itu menopang kepalanya dengan sebelah tangan kirinya. Ruby kembali membelai wajah tampan suaminya itu dan seutas senyum usil terpatri di wajah cantik alami wanita itu.


Ruby memajukan wajahnya, sehingga nafas hangat Boy yang keluar dari Indar penciumannya terasa menerpa wajahnya. Ruby mengecup kening, pipi kiri, pipi kanan dan berakhir di bibir merah alami nan manis Boy. Ruby mengecup lembut bibir manis suaminya berkali-kali.


Sedangkan sang suami, tidak terusik sedikitpun atas kelakuan istrinya itu. rasa lelah begitu melandanya saat acara pernikahan mereka selesai. tidak ada acara malam pertama buat pasangan pengantin baru itu. mereka sepakat akan mengistirahatkan tubuh lelah mereka terlebih dahulu . soal malam pertama mereka bisa melakukannya saat honeymoon nanti.


Ruby tersenyum, ketika Boy mulai terusik atas keusilannya, kembali Ruby mengecup gemas bibir seksi Boy, sampai pria itu mulai mengerjapkan mata tajam nan teduhnya.


"Morning." sapa Ruby di atas bibir suaminya, ketika manik biru kehijau-hijauan Boy terbuka lebar.


Boy tersenyum cerah, saat matanya terbuka dan hal pertama ia lihat adalah wajah cantik istrinya.


"Morning too, baby." balas Boy, dengan suara berat dan serak khas seorang pria bila bangun tidur.


Boy mengecup telapak tangan istri cantiknya yang masih berada di wajah khas bangun tidurnya. Boy menarik Ruby keatas dada keras polosnya yang memperlihatkan tato di bagian dada kanan pria itu. Boy mengecup seluruh wajah Ruby dan berakhir lama di bibir lembut istrinya.

__ADS_1


Boy menghirup nafas panjang saat tautan mulut mereka terpisah, meninggalkan sisa-sisa Saliva di sekitar bibir mereka.


Boy menatap sayu istrinya yang berada diatas tubuh kekarnya. dia tidak akan bisa menahan lagi ketika dia merasakan sang adik di bawah sana meronta-ronta ingin memasuki lembah pertama bagi pria itu.


"Baby, bisakah kita melakukannya sekarang. aku sudah tidak bisa menahannya, baby. apa kau tidak merasakan dia terbangun, baby.?"


"Bagaimana kalau kita, lakukan pagi ini. anggap saja kita sedang melakukan olahraga pagi." pinta pria itu, dengan suara berat yang sudah dikuasai hawa panas yang menuntun.


Ruby hanya mengangguk, diapun sudah ikut terbawa suasana panas di pagi hari ini.


Ruby menutup matanya saat Boy kembali menyatukan bibir mereka. membelit dan merasai benda manis masing-masing dari mereka.


Boy menggulingkan tubuh istrinya kesamping dan mengungkungnya di bawah dada lebarnya, sehingga terlihat punggung lebar dan keras Boy di hiasi tato kecil di tengah-tengah punggungnya.


Belitan bibir Boy, kini berpindah ke leher jenjang Ruby, mengecup, menyesap dan menyilati leher Ruby, terlihat tanda merah di atas bekas kecupan Boy.


Kini bibir pria itu mulai beralih ke dada Ruby yang terdapat bulatan yang pas di tangan pria itu.


Ruby hanya bisa terkesiap dan mengigiti bibir bawahnya dan jari-jarinya *******-***** rambut Boy, ketika pria diatasnya telah menyesap salah satu bulatan dadanya. Ruby sekuat tenaga menahan suara deesahannya, ketika telapak tangan Boy mulai membelai tubuhnya yaang sekarang sudah tak memakai sehelai benang pun. Ruby mencengkram kuat punggung Boy saat pria itu mulai mengelitik bagian inti tubuhnya.


Suara terkesiap Ruby, membuat Boy bertambah semangat untuk melakukan olahraga di kasur pagi ini.


"Apa kau siap, baby.?" tanya Boy berat dan tatapan yang sudah di kuasai oleh gairah.


Ruby kembali mengangkuk dengan dada naik turun dan nafas yang tersengal-sengal. jangan lupa wajah meronanya yang mengemaskan


Boy kembali megeerang dan mengeraskan rahang kokohnya saat menikmati pemandangan di bawahnya yang begitu menggoda gairahnya.


Boy, bersiap untuk memulai melakukan aktivitas menyenangkan mereka dan Ruby dengan wajah meronanya sudah siap untuk menerima sesuatu dari tubuh suaminya.


Boy sudah siap dengan posisinya dan bersiap akan memasukkan sang adik ke dalam lembah pertamanya, tapi semua kegiatan mereka gagal total saat ponsel Boy berdering di keheningan di kamar suite room itu. Boy hanya bisa megeerang kesal saat sang adik yang akan memasuki lembah pertamanya itu, tiba-tiba saja tertidur kembali, membuat Ruby mengerjap tidak percaya.


"SIAL.!!! umpat Boy kesal.

__ADS_1


__ADS_2