Istri Cacat Yang Terbuang

Istri Cacat Yang Terbuang
bab 86


__ADS_3

hari sudah pagi, cahaya matahari telah bersinar cerah. secerah senyum Ruby di pagi ini.


hari ini Ruby akan melakukan hobi, barunya. yaitu memancing di tepi danau.


semua persiapan Ruby sudah siap. alat pancing dan juga umpannya. sedangkan hari ini Ruby mengenakan pakaian santai, celana pendek di atas paha dan kaos milik Boy yang membungkus sebagian tubuhnya.


hari ini Ruby, akan memancing bersama Amber. sedangkan Boy, mengawasinya di kasebo yang tidak jauh dari jembatan danau.


hari ini Boy dan Bram memiliki banyak pekerjaan. jadi dia tidak bisa menemani Ruby.


"Amber, ... apa kau sudah siap,?" tanya Ruby dengan teriakan, karena Amber masih berada di dalam kamarnya.


"clek."


"Ayo, aku sudah siap.!" ujar Amber saat keluar dari kamarnya.


"Ayo, ....!!! seru Ruby semangat.


Mereka pun melangkah kearah danau, sambil bercanda dan tertawa. mereka tidak menyadari, seseorang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mereka yang sedang berpura-pura, membersihkan ruang tamu.


Orang itu juga memberikan, kode kepada temannya yang berada di area dapur. agar bersiap untuk melancarkan rencana mereka.


Sedangkan Ruby dan Amber sudah berada di belakang villa, mereka berjalan mendekati Boy dan Bram, yang sedang serius mengerjakan pekerjaan mereka.


"paman," seru Ruby.


Boy yang mendengar suara Rubynya, menghentikan sejenak pekerjaannya dan menoleh kearah Ruby dan Amber yang sudah siap untuk memancing.

__ADS_1


"kalian, sudah siap.?" tanya Boy.


"hu'um," gumam Ruby sambil menganggukkan kepalanya.


"baiklah, berhati-hatilah." pesan Boy dan mengecup kepala Ruby sebentar.


"Amber, aku titip, Ruby." perintah Boy pada, Amber.


"siap tuan." jawab Amber.


Bram hanya mengangguk kepalanya pelan dan membalas senyum kekasihnya.


"hati-hati," ujar Bram, tanpa suara.


"cih.! Boy berdecih saat melihat kadar kebucinan Bram.


"apa, kau serius dengannya, Bram." pertanyaan Boy, mengalihkan pandangan Bram dari loptop di depannya. pria itu menatap Boy lekat.


"Aku, harap kau bersungguh-sungguh, Bram.!"


"aku, melihat, Amber adalah gadis yang baik." ujar Boy, dan menatap kedua wanita yang berada di jembatan danau. boy mengangkat tangannya dan membalas lambaian Ruby.


Boy kembali mengalihkan pandangannya kepada Boy.


"aku, harap kau tak lupa dengan status mu, Griffin Philips.?" ucap Boy dengan tegas.


Bram menatap Boy tajam dan setelah itu diapun tersenyum miring.

__ADS_1


"aku, tidak akan pernah, melupakan statusku, Boy Raymond Cole." sinis Bram.


"cih," Boy kembali berdecih malas.


"aku, sarankan. kalau kau hanya menjadikan mainan saja, lebih baik jauhi dia. Amber adalah sahabat satu-satunya Rubyku. dan aku tidak ingin Rubyku merasa sedih, saat melihat sahabatnya sedih atau patah hati."


"aku, tidak pernah mempermainkannya, dan aku serius dengannya. aku mencintainya dan aku ingin menikahinya."


"apa, kau memberitahukan tentang mu, padanya." Boy menatap lekat Bram.


"tidak." jawabnya pendek.


"Aku, tidak bisa memberitahukan semuanya tentang ku padanya. aku takut dia akan menghindar, dan menjauhiku." ujar Bram dan menatap Amber yang sedang tertawa lepas di saja.


"tapi, tetap saja kau akan meninggalkannya, dude. ingat sebentar lagi kau akan mengambil ahli tahta yang sudah menjadi hakmu. dan aku yakin pak tua itu tidak akan menyetujui hubungan mu, dengan Amber. apa kau lupa kalau selera keluargamu itu sangatlah, berlebihan."


"jadi saranku, jangan biarkan hubungan kalian sampai ke telinganya. aku pastikan, kau dan Amber tidak akan bisa bersama. dan yang paling aku khawatir mereka, akan melenyapkan kekasihmu. Boy berkata sambil melirik para wanita di sana.


"aku, tidak akan, membiarkan mereka menyentuh milikku." geram Bram.


"hm, aku tau itu. tapi kau pasti tidak lupa dengan si tua bangka itu, sangatlah licik." ungkap Boy sambil terkekeh.


"aku, tidak akan membiarkan, si tua itu. menyentuh wanitaku. aku pastikan itu." ucap Bram dingin.


"baiklah, pangeran Griffin Philips."


"Boy Raymond Cole, jaga ucapanmu." sentak Bram.

__ADS_1


sedangkan Boy hanya terkekeh dan melanjutkan pekerjaannya.


sedangkan Bram menerawang dan berpikir keras. entah rahasia apa yang di sembunyikan oleh seorang Bram.


__ADS_2