
"Selamat pagi." Sapa Boy dengan wajah cerah, yang baru turun dari kamar mereka dengan 1 harian berkurung di kamar mereka. Hari ini dan pagi inilah mereka ikut bergabung untuk sarapan bersama.
"Kakak." Pekik Gaby. Ia menggeser kursi yang ia duduki dan berlari kearah Boy untuk mendapatkan pelukan hangat sang kakak.
Ruby yang berada di samping suaminya, dengan segera memeluk pinggang keras Boy dan Boy meranggul pundak sang istri, tidak lupa ia memberi kecupan di dahi Ruby dengan lembut, tanpa mempedulikan Gaby yang berhenti tidak jauh dari mereka.
"Kakak." Lirihnya, saat Boy dan Ruby sudah berada di dekatnya.
Gaby tersenyum manis saat Boy tersenyum padanya dan tidak memperdulikan wajah tidak suka Ruby.
Gaby pun berharap mendapatkan kecupan dan pelukan hangat Boy. Tapi ia harus kecewa, saat Boy dan Ruby melewatinya tanpa memberikan yang gadis itu harapkan.
"Kakak, aku merindukanmu." Lirih Gaby pelan.
"Selamat pagi mommy," sapa Ruby kepada mommy dan mengecup kedua pipi sang mommy.
"Pagi juga, sayang." Balas sang mommy.
"Duduklah, baby.!" Sela Boy, yang menggeserkan kursi makan untuk istrinya dan setelah itu untuk dirinya.
Sedangkan Gaby menyaksikan semua perbuatan manis dan lembut Boy kepada Ruby.
Membuat perasaannya kembali sesak dan terasa panas.
Iapun mendekati meja makan dan bermaksud ingin duduk di dekat Boy, tapi niatnya itu terhenti saat mommy menyuruhnya duduk di dekat beliau.
__ADS_1
"Duduklah, di dekat mommy, sayang." Suruh mommy, sambil menepuk kursi di sampingnya.
Gaby memindai kursi di samping Boy dan mommy.
"Ayo, sayang." Sela sang mommy.
Dengan berat hati Gaby duduk di dekat mommy, karena Boy sejak tadi tidak memperdulikannya sama sekali.
"Kau mau makan apa, baby.?" Tanya Boy, yang ingin mengambil makan buat istrinya.
"Terserah. Yang penting makanan, aku sudah lapar sekali, sayang." Jawab Boy manja.
Mommy hanya menggeleng kepalanya dan tersenyum senang melihat keceria sang putri.
Sedangkan Gaby, hanya bisa menatap kemesraan Boy dan Ruby dengan tatapan dan hati yang sudah mulai panas. Sejak tadi tangannya sudah mengepal di bawah meja makan.
"Makanlah." Suruh boy lembut dan tak lupa kecupan di dahi Ruby.
"Terimakasih." Balas Ruby.
Setelah itu Boy mengambil makanannya sendiri dan dia melihat piring Gaby yang masih kosong itu.
"Kau, tidak makan, girl." Tanya Boy heran.
"Aku, binggung mau memakan apa." Saut Gaby senang.
__ADS_1
"Bukankah, kau suka makanan pasta.?" Tanya Boy lagi.
"Hu'um, ternyata kakak masih ingat makan kesukaanku." Jawab Gaby dengan wajah berbinar bahagia. Dia melirik kearah Ruby yang asik memakan sarapannya.
"Sini, kakak ambilkan." Tawar Boy dan dia mengarahkan tangannya untuk mengambil piring Gaby yang di acungkan padanya.
"Sayang," sela Ruby yang mengagal niat Boy untuk mengisi Piring Gaby yang kini hanya menggantung di udara.
Boy kembali menatap istrinya itu yang sedang cemberut.
"Ada apa, baby." Tanyanya dengan heran
"Aku, ingin di suapi." Rengek Ruby.
"Baiklah, apa yang tidak bisa aku lakukan buat my wife ku tercinta."
"Ahh, sayang." Ujar Ruby dengan suara manja dan dia, melirik kerah Gaby yang wajah sudah merah merona.
"Cih, tidak aku biarkan kau mendapatkan perhatian, suami ku sedikitpun." Batin Ruby dan tersenyum miring pada Gaby.
"Sini, nak biar aku yang mengambilkan makan buat mu." Tawar sang mommy, yang langsung mengambil piring Gaby dan mengisinya dengan makanan kesukaan gadis itu.
Gaby hanya bisa menyimpan rasa panas dalam hatinya dan dia menggenggam sendok dan garpunya sangat erat.
Matanya pun mulai panas dan gatal oleh kenangan air mata. Dia begitu sesak melihat keromtisan pasangan di hadapannya.
__ADS_1
"Aku, akan membuatmu, menjadi milikku, kak." Batin gadis itu.