
"Bagaimana, apa semuanya sudah beres.?" tanya Boy kepada asistennya itu. sekarang mereka sedang berada di salah satu cafe tidak jauh dari rumah sakit. setelah cukup lama Bram dan mommy membujuk, Boy untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. dan disinilah sekarang mereka menikmati makan malam sambil membicarakan soal rencana mereka.
"Sudah, dan kita tinggal tunggu kabar dari media." jawab Bram enteng.
"Memangnya apa yang kau rencanakan kepada, wanita licik itu.?" tanya Boy lagi.
Bram hanya tersenyum penuh arti kepada Boy. sedangkan Boy hanya mencebikkan mulut dan meneruskan makanya.
"Aku, sudah selasai." ujar Boy, bangkit dari kursinya saat makan malamnya sudah habis.
"Kau, mau kemana.?" tanya Bram iseng. karena pria itu tau kemana lagi si tuan muda itu pergi, kalau bukan ke sisi Ruby.
Boy tak menjawab dan langsung meninggal cafe itu dan menuju kembali kerumah sakit.
Bram hanya tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya dan melanjutkan makannya.
*
*
*
Sedangkan di mansion Rebecca.
Rebecca yang sibuk memperbaiki dandanannya dan juga pakaian yang dia gunakan malam ini. sebuah gaun malam yang begitu terbuka, memperlihatkan lekung tubuh sintal Rebecca dan juga punggung mulusnya. gaun itu juga memperlihatkan bagian atas dada padat Rebecca. dan jagan lupa bagian belakangnya yang begitu menggoda.
"Perfect," puji Rebecca pada penampilannya.
"Aku, yakin tuan, Boy tidak akan memalingkan wajahnya kepada keindahan tubuhku," serunya dengan yakin.
__ADS_1
"Aku, tidak sabar ingin memeluk tubuh seksi tuan, Boy," dan aku sudah tidak sabar berada di bawah kungkungan tuan, Boy, " oh, Tuhan,!" Rebecca menerawang dan membayangkan dirinya berada satu ranjang dengan seorang tuan, Boy Raymond Cole.
"Ok, waktunya berangkat," ucapnya kegirangan, dia lalu mengambil tas tangannya dan berjalan keluar dari kamarnya.
Kini Rebecca sudah berada di dalam mobilnya. dia akan menuju ke salah satu hotel berbintang dan terkenal di negara K. sesuai petunjuk didalam surat itu. Kalau Rebecca akan bertemu janji dengan Boy di dalam sebuah kamar hotel, di lantai paling atas.
Dengan semangat dan hati bahagia Rebecca turun dari mobilnya dan berjalan kearah resepsionis yang sedang berjaga.
Rebecca ingin menanyai letak kamar yang sudah di pesan oleh orang suruh Boy.
Setelah mendapat informasi, Rebecca langsung menuju lift dan mengantarnya kelantai paling atas.
Rebecca kembali lagi merapikan penampilannya di dinding lift yang memantul bayangannya seperti di cermin.
"Ting," pintu lift itupun terbuka dan Rebecca pun keluar dengan langkah yang tidak sabaran.
*
*
*
"BABY, ….! pekik Boy saat melihat Ruby sudah sadar dan sekarang wanita itu sudah duduk di ranjangnya.
Dengan langkah cepat, Boy mendekati Ruby. dia lalu memeluk Rubynya dengan erat dan mengecupi rambut Ruby bertubi-tubi.
Boy membingkai wajah pucat Ruby dan menatap wajah kekasihnya itu.
"Kau, hampir membuatku gila, baby," lirih Boy dan menyatukan kening mereka. dan setetes air mata Boy jatuh.
__ADS_1
"Maaf, karena aku gagal menjagamu, baby." lirihnya lagi.
Ruby membalas tatapan Boy dan menyentuh wajah Boy yang terlihat kusut. bulu-bulu halus di wajah Boy pun mulai memanjang dan terdapat lingkaran hitam dimata prianya itu.
"Apa, yang terjadi pada wajah tampan ini, paman." tanya Ruby dengan suara lemah.
Boy terkekeh mendengar pertanyaan Rubynya. dia lalu membawa kembali Ruby dalam dekapannya dan memeluk tubuh lemah itu erat.
Boy, begitu bersyukur karena dia masih melihat dan mendengar suara Rubynya. entah apa yang akan terjadi pada dirinya seandainya terjadi pada Rubynya.
*
*
*
"Clek" pintu kamar hotel itu terbuka, saat Rebecca memasukkan sebuah kartu yang bisa membuka kamar hotel itu.
Rebecca melangkah masuk dan hanya kegelapan yang pertama kali Rebecca lihat.
"Apa, tuan Boy ingin memberikanku, sebuah kejutan.?" tanya dalam hati.
Rebecca lalu meraba-raba dinding hotel itu, untuk mencari letak benda yang bisa membuat ruangan itu menjadi terang.
Setelah menemukan benda tersebut, Rebecca lalu menyalakan lampu. dan seketika ruangan itupun terang. Rebecca lalu menoleh kebelakang dengan tersenyum bahagia.
"Tu, ….!!! ucapan Rebecca terhenti saat melihat pria di depannya. matanya pun membola seketika dan dia tertekun di tempatnya.
"Ka-u," ujarnya gemetar dan wajahnya pun sudah memucat.
__ADS_1