
"Sayang." Panggil Boy dan mengikuti Ruby kearah ranjang.
"Sayang." Lirihnya dan memeluk pinggang Ruby dari arah belakang.
"Jadi aku harus apa, baby." Bisik Boy di tengkuk Ruby.
"Aku, hanya ingin paman milik aku seorang. Tidak boleh ada yang lain, hanya aku yang boleh paman pikirkan , sayangi dan cintai. Tidak boleh ada yang lain, entah itu adik paman atau siapapun. Aku ingin paman hanya milik Ruby Pattinson seorang, aku tidak peduli paman menganggap aku egois, yang paling penting paman adalah milikku sekarang."
"Satu lagi. Tidak ada satu wanita pun yang boleh menyentuh mu selain aku," apa kau mengerti?" Ujar Ruby dengan wajah serius dan bercampur isakan.
Boy hanya tersenyum kepada istrinya itu. Ternyata Rubynya begitu mencintainya, dan lihatlah sikapnya mulai posesif padanya. Boy menggakuk dan menyambar bibir ranum Ruby dan menyesapnya lembut. Pria itu begitu gemesnya melihat raut wajah lucu istrinya.
"Aku, berjanji, baby. Kalau hati dan tubuhku hanya milik istriku ini. dan aku berjanji tidak akan menyentuh wanita manapun selain tuan putriku ini." Pungkas Boy dengan kekehan dan menyatukan kening mereka.
Mereka kini saling menatap penuh cinta. Terlihat di mata Ruby yang begitu takut kehilangan suaminya itu.
"Aku hanya milikmu, baby." Bisik Boy di depan wajah Ruby.
__ADS_1
"Aku, juga hanya milikmu, sayang." balas Ruby dengan binar wajah bahagia.
"Aku mencintaimu, baby."
"Aku, juga sangat, sangat, sangat mencintaimu, sayang." Balas Ruby dan menyatukan bibir mereka kembali.
Mereka pun saling bercumbu di sore hari dengan di saksikan cahaya jingga yang begitu indah di sore hari. Bibir mereka saling mengecup, melumut dan menyesap. Tangan mungil Ruby kini menyentuh kulit perut suaminya dan tangan itu kini turun dan turun sampai berhenti di benda terlarang sang suami. Boy mengeerang saat tangan mungi istrinya sudah membelai pusat tubuhnya dengan lembut. Handuk yang melilit di area terlarangnya pun kini terlepas.
"Hg." Leguhaan nikkmat keluar tanpa diundang dari mulut Boy, saat sang istri sudah bermain di area terlarangnya dengan mengunakan benda ranum alami istrinya.
Boy menengadahkan kepalanya dan mulutnya terbuka, ia memejamkan mata merasakan permainan sang mahluk kesayangannya di bawahnya sana. Boy menundukkan kepalanya dan menatap sayu mahluk kesayangan itu dengan manik yang sudah di penuhi hasraat. Ia membelai Bahkan meremas lembut rambut Ruby. Boy mengetangkan tulang wajahnya saat makhluk kesayangannya itu mempermainkannya di bawah sana. Ruby tersenyum usil dengan benda terlarang sang suami masih berada di Indra pengecap nya.
Mahkluk lembut nan indah itupun, mendorong tubuh kekar suaminya hingga terjatuh diatas kasur.
Iapun menaiki perut sang suami dan memulai tautan tubuh mereka dengan ia yang memegang kendali sore ini.
Deesahan bersamaan mereka terdengar nyari di dalam kamar mewah itu.
__ADS_1
Boy hanya mampu menahan diri saat makluk kesayangannya itu masih terdiam di atas tubuhnya.
"Baby." Geram Boy dengan nafas beratnya.
"Come on, baby," please." Mohon Boy dengan wajah frustasi. Ruby hanya diam dengan tersenyum usil.
"Oh, shitt." Umpat Boy dan langsung menghentakkan dari bawah. Meembuat Ruby terkesiap nyaring.
Merekapun kembali mengarungi lembah dan menyebrangi lautan haasrat di sore hari.
Sedangkan Gaby kini bolak-balik tiada hentinya di bawah tangga dengan pandangannya tidak luput dari arah pintu kamar Ruby. Dia berharap kakaknya muncul dan merentangkan tangannya seperti biasa padanya.
"Pasti, wanita sialan itu yang melarang kakak, Boy keluar." Gerutunya kesal.
"Ini, tidak bisa dibiarkan. Lama-lama kakak, Boy akan menjauh padaku." bisiknya dan mulai menapaki kakinya di setiap anak tangga di mansion itu. Dan kini gadis imut itu sudah berada di depan kamar Ruby. Tapi gadis itu tertekun saat telinganya sayut- sayut mendengar suara nikkmat sang kakak yang begitu nyari sambil menyebut nama istrinya.
Gaby tertekun dan bergeming di depan pintu Ruby dengan wajah yang berubah pias. Dadanya kembali sesak dan air matanya kini sudah luruh membasahi pipinya. Dengan perasaan hancur Gaby meninggalkan tempat itu dan berlari kearah tangga.
__ADS_1
"Kakak hanya milikku, milikku."