
"Katakan, siapa pelakunya." tanya Boy pada intim.
"Rebecca stawart," jawab Bram.
Boy menatap Bram tajam dan kini wajahnya sudah berubah merah darah dan buku-buku tangannya pun mulai terlihat akibat gepalan tangan Boy yang begitu kuat. sorot matanya pun terlihat sangat mengerikan. giginya bahkan saling bergesekkan dengan kuat.
"Akhh! akan aku habisi wanita sialan itu. karenanya aku hampir kehilangan Rubyku. aku harus cepat menyingkirkan wanita licik itu, sebelum dia melakukan hal lebih bahay lagi pada Rubyku." ucap Boy dengan geram.
"Lakukan sesuatu Bram, yang bisa membuat wanita tiada seketika tanpa mengotori tangan kita." perintah Boy.
"Aku, sudah mengatur rencana buat wanita itu. kita tinggal menunggu kabar besok." balas Bram dan seringai licik muncul di bibirnya.
Boy memicingkan matanya dan ikut tersenyum miring, dia tau persis watak licik asisten dan sahabatnya ini.
"Aku, harap kau memberikan aku kabar baik." cibir Boy.
Bram hanya mendegus kesal, karena sudah di remehkan.
"Kita, lihat saja nanti malam." cibir Bram tak kalah sengitnya.
"Cih! Boy berdecih dan meninggalkan Bram sendiri di rooftop rumah sakit.
Bram hanya menggeleng kepalanya saat di tinggal sendiri.
Bram lalu terdiam disana sambil mengedah keatas dan kedua tangannya di masukkan kedalam saku celananya. dia menghela nafas panjang dan menghembuskan secara berlahan dan teratur.
Bram menatap hamparan gedung-gedung tinggi disekitar rumah sakit itu. terlihat begitu banyak beban yang di fikiran pria itu. terlihat dari cara dia bernafas dan membuang nafasnya.
__ADS_1
"Sayang," ucapnya dengan nada terkejut, saat sebuah tangan mungil memeluknya dari belakang. dan dia mengetahui kalau kekasihnya pemilik tangan itu. dia bisa mengenal dari aroma parfum Amber.
"Kau, sedang apa disini, dear.?" tanya Amber dan berpindah kehadapan Bram, mendongakkan kepalanya menatap wajah lelah kekasihnya.
Bram menggeleng dan membawa wanita kesayangannya kedalam pelukannya.
"Kenapa, ikut kemari,? dia sini dingin, sayang.!" ujar Bram dan memasukkan Amber kedalam mantel tebalnya.
"Aku, merindukan mu," jawab Amber seadanya.
Bram terkekeh dan merapatkan pelukannya.
"Disini, dingin sayang, nanti kau bisa sakit. dimana baju hangat mu.?" tanya Bram sambil memasukkan kedua tangan Amber di saku mantelnya.
"Kan, ada pelukan mu, yang bisa menghangatkan ku." ujar Amber dan tersenyum manis pada kekasihnya.
Mereka saling berpelukan di atas rooftop rumah sakit, sambil menikmati pemandangan sore diatas sana. suasana yang begitu indah menambah keromantisan mereka.
Bram mengerat pelukannya saat sesuatu melintas di pikirannya dan dia menghirup dengan rakus aroma rambut Amber.
"Aku, berjanji akan selalu bersamamu sayang."
"Aku, juga berjanji akan melindungi mu dari mereka."
"Aku, rela kehilangan semuanya, asalkan tidak kehilangan dirimu, sayang." Bram terus bermonolog dalam hatinya.
Entah apa yang sedang membuat seorang Bram alias Griffin Philips itu begitu resah.
__ADS_1
*
*
*
Sementara di sebuah kamar pasien VIP dengan ruangan yang begitu mewah dan luas.
Dengan ranjang yang begitu besar dan terdapat sofa mewah dan juga terdapat kitchen set mini diruangan itu.
Ruby yang kini terbaring lemah di ranjang pasien, dengan beberapa alat medis terpasang di bagian tubuhnya.
Ruby masih dalam keadaan kritis. Wajahnya pun masih terlihat memucat. Boy yang sejak tadi duduk di sisi kiri Ruby. menggenggam tangan Ruby dan menciuminya. kata maaf pun tak henti-hentinya dia ucapkan pada Ruby yang sedang tak percaya itu.
"Cepatlah, bangun baby. dan mari kita menikah," bisiknya di dekat telinga kiri Ruby.
"Aku, berjanji kali ini, tidak akan membiarkanmu menjauh dariku, Baby."
"Aku, akan terus berada di sampingmu,"
"Cukup kali ini saja, kau membuatku ingin mati. tidak lain kali, cukup sekali ini saja." racaunya di dekat telinga Ruby.
"Please, bangunlah, baby," bisiknya lirih.
"Apa, kau tidak ingin melihat wanita licik itu, menghadapi ajalnya," bisiknya lagi dengan geraman.
"Bangunlah dan lihatlah kehancuran wanita licik itu, baby." ujar boy dengan seringai yang muncul di wajah tampannya.
__ADS_1