
seorang gadis mungil nan cantik, sedang berlari untuk sampai ke tujuannya yaitu, sebuah hotel berbintang yang terlihat ramai.
setelah mendapat kabar dari orang suruhannya, kalau hari ini pria, yang sangat dicintainya akan melangsungkan acara pernikahan.
Gaby, gadis berusia 19 tahun itu, begitu terobsesi dengan Boy. Gaby ingin memiliki Boy seutuhnya yang sudah menjadi cinta pertamanya. gadis itu tidak perduli kalau Boy adalah kakaknya, dia hanya ingin memiliki Boy bukan hanya sekedar kakak, tapi Gaby ingin menjadi pendamping Boy selamanya.
obsesi yang sudah membuat, gadis itu hilang akal. meskipun tidak ada darah yang sama dalam dirinya, tapi tetap saja Boy adalah kakaknya di mata masyarakat. apa jadinya kalau gadis itu berbuat nekat, bisa-bisa keluarga Cole akan mendapatkan cibiran pedas.
Gaby tidak memperdulikan itu semua, yang jadi tujuannya sekarang adalah, menjadikan Boy miliknya.
"Kakak, kau hanya milikku." gumamnya lirih, dengan nafas yang ngos-ngosan.
setelah melewati perjalanan panjang, akhirnya Gaby tiba di negara K. dan dia mendapatkan alamat tempat berlangsungnya acara pernikahan, Boy dan Ruby dan orang suruhannya.
disinilah, dia sekarang di depan hotel mewah yang sudah di sulap menjadi, bak istana di negeri dongeng.
Dengan keberanian dan rasa ingin memiliki, Gaby melangkah dengan setengah berlari. dia ingin membatalkan pernikahan kakaknya itu. yang dia dengar masih dalam tahap menyambut pembelai wanita.
"kakak, kau tidak boleh menikah dengannya. kau hanya boleh menikah denganku."
"aku, tidak akan membiarkan pernikahan ini terjadi. aku harus membatalkannya, bagaimanapun caranya. kakak Boy hanya milikku, ... milikku." Gaby terus saja meracau, sambil berlari memasuki lobby hotel. dan dia menambahkan laju larinya, saat melihat lift yang akan membawanya keatas rooftop hotel akan tertutup dengan beberapa orang di dalam sana.
yah, Ruby dan Boy mengadakan acara pernikahannya di atas rooftop hotel mewah itu.
Gaby, mengatur nafasnya saat sudah berada di dalam lift. gadis itu tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang melihat penampilannya yang berantakan.
Gaby hanya terus meracau dan berdoa agar dia bisa membatalkan pernikahan Ruby dan Boy.
"cepatlah, ... cepat, ... cepatlah ....!! pekik Gaby yang membuat semua orang di dalam sana menatapnya aneh. sedangkan Gaby merasa gusar, dia merasa perjalanan lift yang digunakannya semakin melambat.
"CEPATLAH, ... SIALAN.!!! teriak Gaby sambil memukuli pintu lift itu.
semua orang didalam sana tersendat kaget, melihat tingkah aneh Gaby.
__ADS_1
sedangkan Gaby masih memukuli pintu lift itu dan memakinya. orang-orang mulai ketakutan dan mereka meringsut menjauh dari Gaby. mereka berfikir gadis manis ini sedang tidak waras.
"CEPATLAH, ... Akkhh." teriak gadis itu lagi.
Gaby tidak memperdulikan dirinya dinilai gila, baginya sekarang adalah Boy yang tidak boleh menjadi milik orang lain.
setelah lift itu terbuka, dengan tergesa-gesa Gaby keluar dan berlari kearah rooftop hotel.
sementara di rooftop hotel.
kini rooftop hotel itu sudah di sulap menjadi, sebuah dekorasi yang bertema classi romance.
dengan dekorasi yang terlihat mewah dan penuh kehangatan. dihiasi oleh bunga-bunga mawar putih di seluruh rooftop itu.
Boy yang sedang berdiri untuk menunggu, calon mempelai wanitanya. dengan debaran jantung yang begitu kuat, membuatnya gugup seketika.
Boy yang mengenakan tuxedo berwarna putih, yang memperlihatkan aura ketampanannya dan juga terlihat berkarisma. Boy terlihat memukau oleh para tamu undangan yang hadir.
"oh Tuhan, kenapa aku begitu gugup.!" gumam Boy.
"dimana, asisten sialan itu, kenapa dia menghilang disaat seperti ini." Boy mendegus kesal saat asistennya itu menghilang.
tidak lama, terlihat wanita cantik bak putri yang memakai gaun pengantin yang begitu mewah dan glamor. gaun pengantin dengan warna sedana dengan tuxedo Boy. gaun yang memperlihatkan pundak mulus Ruby dan memperlihatkan sedikit area dadanya.
dada Boy bergemuruh saat melihat penganti wanitanya sedang berjalan kearahnya di dampingi oleh, sang mommy dan juga Amber.
setetes air mata, bahagia Boy jatuh mengenai wajahnya yang di tumbuhi tunas-tunas halus itu yang menambah kesan maskulin pada pengantin pria. Boy mengulurkan tangannya untuk menggapai telapak tangan Ruby dan membawanya kehadapan seseorang yang akan menikahkan mereka.
"kakak, " lirih Gaby, saat melihat Boy tersenyum manis pada Ruby.
dadanya naik turun saat melihat sang pengantin wanita begitu cantik.
"tidak, ... kakak boy hanya milikku." lirih gadis itu, dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
__ADS_1
Gaby melangkah mendekati sang pembelai dengan langkah yang tergesa-gesa, bahkan dia setengah berlari kearah Boy dan Ruby yang akan saling menukar cincin pernikahan.
"TID, .... ! Gaby yang ingin berteriak harus terhenti saat sebuah tangan kokoh dan terdapat sapu tangan yang membekap mulut gadis itu. tidak lama Gaby pun tak sadarkan diri. pria itu lantas membawa Gaby menjauh dari area pernikahan, sebelum seseorang menyadari keberadaan Gaby dan itu bisa membuat pernikahan Boy dan Ruby batal.
Bram merangkul pundak Gaby dan membawanya masuk kedalam lift kembali.
"ck," dasar gadis licik." cibir Bram dan menatap sekilas wajah Gaby.
Bram keluar dari lift saat benda tersebut berhenti dan terbuka dengan sendirinya. Bram masih merangkul gadis itu dan membawanya kesebuah mobil berwarna hitam yang sudah menunggunya.
"kalian, darimana, ... hah. hampir saja wanita sialan ini, menganggu acara pernikahan Boy. untuk aku lebih dulu melihatnya. katakan kenapa kalian bisa lalai seperti ini." Bram membentak semua anak buahnya yang sudah lalai.
"bawa, gadis itu di tempat biasa. jangan sampai dia lolos dan mengganggu rumah tangga, boy dan Ruby." Bram memerintahkan anak buahnya untuk menyekap Gaby.
"siap, tuan." jawab para anak buah Bram, serentak.
"dasar, ****** kecil tidak tau diri." desis Bram.
Gaby akhirnya di amankan dan di bawa pergi oleh orang suruhan Bram. untuk saja pria itu, lebih dulu melihat Gaby yang sedang berjalan mendekati Boy dan Ruby.
"hah, hampir saja." ujar Bram dan menghela nafas lega.
Bram pun melangkah kembali masuk kedalam hotel. dia tidak akan melewatkan acara penting atasannya sekaligus sahabatnya itu.
Bram menyandarkan punggungnya di dinding lift yang terlihat mengkilat itu. Bram mendongakkan kepalanya keatas sehingga terlihat jangkung seksinya naik turun, dengan kedua tangannya di masukkan kedalam saku celananya. yang membuat pria itu terlihat menawan dan maskulin.
"glek." seorang wanita cantik yang sejak tadi berdiri di sudut lift, meneguk ludahnya dengan susah. tenggorokannya terasa kering dan dadanya tiba-tiba bergemuruh saat melihat jangkung Bram yang seksi naik turun.
wanita itu terlihat tercengang dan terpesona dengan ketampanan Bram.
"oh my God. dia tampan sekali." gumam wanita dalam hati.
Bram yang memejamkan mata, tidak menyadari dengan sosok wanita yang terlihat menganguminya.
__ADS_1