
"nyonya." sapa seorang laki-laki, kepada Rebecca.
"apa, yang kau dapatkan,?" tanyanya pada orang suruhannya untuk memata-matai Ruby.
"wanita, itu sedang berada di villa, tuan Boy Raymond Cole, nyonya." jawab orang suruh Rebecca.
Rebecca yang mendengar laporan, orang suruhannya menjadi emosi.
"akhh."
"prangg."
Rebecca melemparkan gelas yang ada di genggamannya dan mengenai tembok kamarnya.
"Ruby Pattinson, sialan!!! aku akan menghancurkanmu, ... kau tidak boleh bahagia dan mendapatkan yang lebih dariku."
dengan emosi yang sudah menguasainya, Rebecca menghancurkan kembali semua, barang-barang yang ada di kamarnya.
Rebecca, mengalihkan pandangannya kepada orang suruhannya dan senyum menyeringai terbit di wajahnya.
"aku, ingin kau membunuh wanita itu disana. lakukanlah seakan-akan semuanya hanya kebetulan." Rebecca menyerigai saat otak pintarnya, memiliki rencana yang sangat bagus.
"lakukan sekarang." perintah Rebecca dan melemparkan sebuah amplop coklat, pada orang suruhannya.
"siap, nyonya dan anda akan terima beres semuanya." balas pria mengerikan itu, sambil tersenyum puas saat mendapatkan bayaran yang sangat fantastik.
"hm," pergilah." usir Rebecca.
pria itupun pamit, untuk menjalankan rencana nyonyanya itu.
"semoga, kali ini rencana ku, berhasil." gumam Rebecca.
"aku, sangat yakin kalau kali ini rencana ku, pasti berhasil." senyum licik terbit dibibir cap plastik Rebecca.
"ah, Ruby Pattinson yang malang, hidupmu tidak akan aman, selagi aku masih ada," hahaha." Rebecca tertawa puas, dia membayangkan kalau Ruby akan tiada hari ini. dan dia akan mendekati tuan, Boy Raymond Cole.
__ADS_1
"oh, tuan Boy Raymond Cole, kau akan manjadi milikku." gumam Rebecca dengan ******* tertahan.
*
*
*
"Baby, ...!! terdengar pekikan Boy dari atas balkon.
"Apa, yang kau lakukan, baby." pekiknya lagi, saat melihat Ruby menaiki, sebuah perahu kecil.
"Baby, ....!!! sekarang bukan lagi pekikan, tapi teriakan.
"Stop, baby ....!!! teriak Boy lagi, saat perahu yang di tumpangi Ruby sudah bergerak ketengah danau.
"ah, sial." umpatnya. saat Ruby tak menghiraukan panggilannya.
"awas, kau Bram,. sialan." makinya pada sang asisten.
"awas, saja kali sampai, Rubyku tengelam. aku bersumpah menghancurkan danau ini." Boy terus melangkahkan kakinya, sambil mengomel.
Boy kembali berteriak saat, sudah berada di jembatan hias di danau itu.
"Ruby ... hey, baby ....!!! teriaknya sambil melambaikan tangannya.
"kemarilah, baby." perintahnya.
"Bram, sialan!! kembalikan, babyku, ....!!! pekik Boy sambil mencak-mencak di atas jembatan.
dia merasa ngeri dan tidak bisa membayangkan kalau perahu itu terbalik dan Rubynya tenggelam.
"oh, itu tidak boleh terjadi." gumamnya, saat membayangkan Rubynya, tenggelam.
"Brammmm,!!! teriaknya.
__ADS_1
"KEMBALI, ... RUBYKU, SIALAN." teriak Boy, dan menyumpahi asistennya.
"Bram!!! kalau kau tak kembali kemari, dalam waktu 2 menit. maka aku akan menjodohkan wanita tembokmu dengan Lukas." ancam Boy, yang masih mencak-mencak tidak jelas di jembatan itu.
"dasar, asisten kurang di hajar!!! kayaknya kau perlu di hukum seumur badan." gerutu Boy dengan kedua tangannya di pinggang dan melakukan gerakan maju-mundur.
"Brammm!!! teriak sekali lagi.
"akhh." teriaknya frustasi, saat dia melihat perahu yang di tumpangi Ruby sudah menjauh.
"penjaga!!!! teriak Boy, memanggil salah satu penjaganya.
dengan berlari tergopoh-gopoh, sang penjaga dengan usia setengah abad itu.
"ambilkan, aku perahu." perintah Boy.
"perahu, tuan." tanya sang penjaga.
"iya, perahu!! apa lagi, ....! geram Boy.
"ta-pi, tuan ... itu ... itu,"
"itu ... itu, apa,!!! sentak Boy, membuat si penjaga tua itu terloncat kaget.
"pe-rahunya, cu-ma satu, tuan." dengan nada gugup si penjaga tua memberi tahukan kepada sang tuan.
"satu." Boy membeo.
sang penjaga itu hanya mengangguk.
"akhhh!!!
"aku, ingin kalian hancurkan, danau sialan ini." perintah Boy frustasi. dia lantas melangkah memasuki villa kembali dengan emosi.
hai .... mampir ke karya ke dua Uma yuk
__ADS_1