
Dengan wajah, kesal Boy menghampiri ketiga manusia, yang tega meninggalkannya sendiri di villa.
"Paman, … sayang!!! pekik Ruby dengan tersenyum cerah. mendengar panggilan sayang dan senyum cantik Rubynya, membuat kekesalan Boy hilang. pria itu bagai terhipnotis dengan senyum cantik wanitanya.
Boy menghampiri Ruby, lantas menarik Ruby dalam pelukannya dan tak lupa kecupan manis di seluruh wajah Ruby.
"Miss you." ujarnya, memperlihatkan wajah sedihnya.
"Cih," padahal hanya 1 jam di tinggal." gumam Bram.
"Dear, aku langsung, ke kamar yah," sela Amber.
"Aku, ingin mandi, tubuhku terasa lengket." ujarnya lagi, membuat Bram tertekun di tempatnya.
"Kamar, tubuh, … lengket,?" Bram membeo, dengan pikiran yang sudah kemana-mana.
"Sayang, … tunggu aku ….!! Bram memanggil Amber dan mengikuti sang kekasih memasuki kamar.
"Dasar, Bram muka kaku. ternyata dia sudah bucin akut dengan si tembok itu.?" cibir Boy.
"Baby, aku suka, kau memanggilku, sayang." Boy memeluk Ruby yang sedang sibuk mengeluarkan ikan hasil pancingannya.
"Kau, habis memancing, baby.?" tanya Boy, dengan dahi mengerut melihat ikan yang di keluarkan Ruby masih hidup.
"Hu'um," gumam Ruby pendek.
"No, baby! jangan lakukan itu? tanganmu bisa terluka, apa kau tidak lihat, ikannya masih hidup dan duri ikannya bisa melukai jari-jari cantik dan berhargamu ini, baby." Boy yang melihat Ruby, ingin membersihkan ikan hasil pancingan, merasa tidak rela. pria itupun melarang sang kekasih.
__ADS_1
"Aku, bisa paman.?" ujar Ruby yang bersikeras ingin membersihkan ikan, hasil tangkapannya.
"No, baby, aku tidak ingin kau terluka."
"Sekarang, tinggal ikan menjijikkan itu. biarkan pelayan dan koki yang melakukannya, ayo." Boy menarik paksa Ruby keluar dari dapur.
"Apa, kau bahagia, baby." Boy membawa Ruby ke halaman belakang dan menikmati udara sore hari itu.
"Hu'um, aku bahagia, … sekali, kau tau paman, ternyata memancing itu sangat menyenangkan." Ruby begitu antusias menceritakan semua pengalaman pertamanya dalam memancing.
"Benarkah." balas Boy, dan menarik Ruby duduk di pangkuannya.
"Iya, sangat seru." ujar Ruby lagi sambil bertepuk tangan.
"Baiklah, karena kau sangat senang hari ini, jadi aku akan membatalkan untuk menghancurkan danau itu." Perkataan Boy, membuat Ruby menatap kearah pria itu.
"Paman, ingin menghancurkan danau itu.?" gumam Ruby.
"Awas, saja kalau paman menghancurkannya. aku tidak mau bicara dengan, paman lagi.!" ujar Ruby dengan raut wajah merajuk.
Boy hanya terkekeh, melihat wajah mengemaskan rubynya. pria itu lantas menarik tubuh Ruby, hingga kini tubuh mereka saling mendekat tanpa jarang.
Boy yang sejak tadi tak tahan dengan bibir Ruby, langsung menyambar vitaminnya itu. Boy menyesap bibir Ruby lembut dan memasukkan lidahnya yang sudah menari-nari di rongga Ruby.
Ruby pun membalas cumbuan Boy, dia mempererat tangannya yang sudah berada di leher Boy.
Mereka pun saling bercumbu di bawah cahaya sinar matahari sore yang begitu indah.
__ADS_1
*
*
*
"Dear, …!!! lirih Amber, saat bibir seksi Bram sudah menari-nari di lehernya.
"Please, dear! lirih Amber yang sedang mengigit bibir bawahnya menahan desahannya, saat jari-jari kokoh Bram sudah ikut menari-nari di tubuhnya.
"Dear, … aku mohon," mohon Amber.
Bram yang sudah di kuasai hasrat itu, tak menghiraukan penolakan Amber. pria itu sangat mengagumi tubuh indah sang kekasih, saat tak sengaja melihat Amber hanya melilitkan tubuhnya dengan handuk yang hanya menutupi bagian tengah tubuhnya.
Akal sehat Bram menolak tapi dia hanya seorang pria normal. apalagi Amber adalah kekasihnya dan di negara mereka bebas melakukannya tanpa pernikahan.
Bram terhenyak saat merasakan sesuatu air yang membasahi tangannya yang sedang menari-nari di dada Amber.
Pria itu membalikkan badan Amber dan dia tertekun melihat wajah Amber yang sudah dibanjiri air mata.
"Sa-ya-ng," ucapnya terbata.
"Maaf, … maafkan aku." ucapnya menyesal.
Bram menggutuk dirinya sendiri, karena membuat kekasihnya menangis dan ketakutan. dia lantas meraih handuk Amber yang ia lemparkan ke atas ranjang. dan memakaikannya kembali di tubuh sang kekasih.
"Maafkan, aku sayang." mohonnya lagi, dan menarik Amber kepelukannya.
__ADS_1
"Maaf, … maaf … aku khilaf, sayang." bisiknya memohon di telinga Amber.
Sedangkan Amber tak mengatakan apapun, dia pun tidak tau harus melakukan apa? bukankah dia seharusnya membiarkan Bram menyentuh, Bram kekasihnya dan sudah sewajarnya dia melakukan itu dengan Bram. tapi Amber memiliki alasan lain untuk menolaknya.