
🌹🌹🌹
#part 17#
matahari menyinari seluruh bumi, menembus kaca jendela membuat sang empu terbangun dari tidurnya.
gadis cantik itu mengerjap beberapa kali sebab sinar matahari itu memantulkan cahaya kearahnya.
ia mengerjap kan matanya berkali kali, menahan rasa sakit di kepalanya dan masih tersisa rasa nyeri di pergelangan tangannya.
ia menatap pergelangan tangannya yg kini telah di balut dengan sempurna
"mengapa dia masih mengobati luka ku, jelas jelas ia yang melukainya" Ariana menatap sendu kearah pergelangan.
ia turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
kemudian ia turun mencari keberadaan suaminya.
"dimana tuan Alberto?"
"tuan muda sudah berangkat sedari tadi pagi nona"
Ariana hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, kemudian ia segera bersiap siap untuk berangkat bekerja.
ia memesan taksi online untuk bisa sampai kesana, meski sedikit memaksa para pengawal agar mengizinkannya.
Ariana menuju restoran milik arka.
"hai Ariana"
__ADS_1
"hai lisa"
"tumben kau berangkat pagi sekali, biasanya kau datang paling lambat"
"ohh karna aku tidak ada pekerjaan di rumah hari ini"
"kau tinggal dimana?"
Ariana terdiam, tidak mungkin ia akan memberitahukan jika ia istri seorang tuan penguasa di negara ini.
"ak-aku tinggal di sebuah kontrakan kecil" ujar Ariana berbohong.
"kapan kapan bolehkah aku bermain di kontrakan mu?"
"boleh saja, hanya saja aku jarang berada di kontrakan Lisa aku sering berada dirumah bibiku" ujar Ariana gugup
Ariana mengangguk membenarkan perkataan lisa
Ariana membersihkan meja² para pelanggan agar bersih kembali, namun tatapannya kini menuju pintu masuk.
ia melihat pria yg kini masih menempati hatinya.
pernikahan yang ia bayangkan dengan nya hancur tak tersisa.
Alfian kini tengah bersama bela memasuki restoran dan tertawa bahagia dengan cincin tunangan yg masih melekat di jari manisnya.
"sayang kau mau makan apa"
"aku terserah saja"
__ADS_1
bela ingin memanggil pelayan, namun ia terkejut saat melihat Ariana yang berdiri tak jauh dari mereka.
bela tersenyum sinis, ia menatap Ariana dengan tatapan mengejek.
"cihh ternyata kau sekarang bekerja sebagai pelayan restoran, memalukan" ujar bela dengan sinis.
"ohh iya, aku ingin memesan makanan termahal di sini dan aku ingin pelayanan yang baik"
Ariana hanya terdiam dan tetap menjalankan tugas, meski hatinya terasa hancur ia berusaha tetap tenang dalam menghadapi masalah ini.
Alfian bisa melihat dengan jelas ada raut kesedihan yang mendalam.
ingin sekali Ariana pergi dari muka bumi ini, melihat wajah orang orang munafik seperti mereka berdua.
tak lama Ariana menghidangkan pesanan bela, dan bela menerimanya dengan angkuh.
"sayang aku suapi kamu ya, aku tidak mau tangan kamu kotor" ujar bela dengan sengaja mengeraskan suaranya agar ariana mendengar nya.
namun Ariana tak menghiraukan sehingga membuat bela menjadi kesal sendiri
Alfian hanya terdiam, sebenarnya di lubuk hatinya yg terdalam ia masih sedikit mencintai wanita itu namun egonya mengalahkannya sehingga ia menganggap ia sudah bosan dengan Ariana.
"sayang, aku ingin acara pernikahan kita nanti yang mewah"
"iya sayang, nanti pasti mewah kok" ucap Alfian tersenyum
Ariana pergi meninggalkan mereka hendak melayani pelanggan yang lain, sebisa mungkin ia menahan tangisnya.
baginya pria pengkhianat seperti Alfian tak pantas mendapatkan air matanya.
__ADS_1