
๐น๐น๐น
#part 64#
Ariana menatap binar sup yang tersaji rapi di mangkuk, namun ia seger menepisnya dan berwajah cemberut.
"apa non sakit, mengapa nona sedih"
"bolehkah aku meminta nomor tuan Alberto, aku ingin berbicara sesuatu padanya"
"baiklah kemarikan ponsel anda nona" Ariana memberikan ponselnya pada bi asih, dan wanita tua itu memasukkan nomornya kedalam ponsel ariana.
"terimakasih bi"
"sama sama nona"
Ariana meninggalkan ruang dapur menuju sofa untuk menghubungi suaminya, jika ia tidak keluar, ia harus bekerja di mana? apalagi kini ia harus mencari pekerjaan.
"halo tuan"
"ini siapa?"
"ini aku, Ariana tuan"
"tuan bolehkah aku keluar, aku mohon aku harus bekerja tuan"
"tidak boleh!"
"ku mohon tuan, jika aku tidak bekerja maka bagaimana aku akan menyukupi kebutuhanku"
"mulai saat ini aku yang mencukupimu, dan jangan coba coba kau membantah atau aku patahkan kakimu" ujar Alberto dari sebrang.
Ariana menghela nafasnya dengan berat, ia meninju angin saat suaminya mematikan ponselnya.
ia membaringkan tubuh nya di sofa dan memutuskan untuk menonton tv.
__ADS_1
*
*
*
tampak di dalam pesawat.
alberto tersenyum senyum sendiri membuat Lucas dan anggota lainnya mengernyitkan dahinya, terutama asisten Alvaro.
"apa menurutmu Alberto masih waras" bisik Lucas pada Alvaro
"aku juga tidak tau, mungkin dia lagi kesambet" bisik Alvaro dan langsung berpas Pasan dengan Alberto menatap kearah mereka.
"kalian berani membicarakan aku" ujar Alberto dengan nada tinggi.
"maaf tuan, kami tidak membicarakan anda" ujar Alvaro dengan gugup
"kalian berani berbohong, tapi tak apa karna suasana hatiku hari ini lagi bagus aku memaafkan kalian" ujar Alberto dengan santai.
Alberto turun di sambut dengan para pengawal dan ia berjalan diikuti Lucas dan Alvaro di belakang nya.
"Maxim, apa kau tau ada apa dengan Alberto"
"mungkin dia lagi bucin, biasanya pria jahat jika sedang bucin akan berubah seperti boneka tedy" ujar maxim tertawa hingga semua menoleh kearahnya.
Maxim langsung bungkam dan berusaha kembali bersikap cool.
"kita kesana sekarang" ucap Alberto dengan tatapan tajamnya.
Alvaro menganggukan kepalanya dan menekan pedal gas nya menuju hutan tempat markas red bat berada.
jauh dari pemukiman dan cukup terkenal kekejamannya dalam menculik anak anak.
*
__ADS_1
*
*
*
di mension alberto.
Ariana kini sedang duduk di balkon kamar.
gadis itu menatap bangunan kota dari atas balkon.
"Lisa aku sangat bosan"
"kalau begitu ayo kita jalan jalan, dan Ariana tuan arka memberikan restorannya padaku" ujar Lisa dari sebrang.
"benarkah" ujar Ariana dengan berbinar.
"iya, aku dengar tuan arka berkata jika tuan Alberto yang membelikannya untukku"
"syukurlah"
"aku sangat berterimakasih padamu, aku yakin kau yang meminta pada suamimu bukan" ujar Lisa dari sebrang sana.
"hehe, aku hanya bingung jadi aku meminta pekerjaan padanya namun, ia tidak mengizinkan ku bekerja lagi, akan tetapi restoran arka dia beli dan menggantinya menjadi milikku akan tetapi aku tidak mau jadi aku berikan saja padamu" ujar Ariana tersenyum manis.
"ohh ya tuhan, terimakasih kau mengirimkan sahabat sebaik Ariana" ujar Lisa tampak bergembira
"aku senang jika kau senang"
Ariana dan Lisa tampak berbincang bincang. tanpa Ariana sadari, ia sedang di awasi dari bawah sana.
seseorang memakai jubah hitam dengan sebuah pistol di tangannya.
pria itu tersenyum menyeringai saat ia ingin membidikkan pistolnya tepat pada Ariana, namun gadis itu sudah masuk kedalam membuat nya mengumpat.
__ADS_1
"aku tidak akan melepaskan mu"