
๐น๐น๐น
#part 9#
Ariana menaruh perlahan nampan yang berisi gelas coklat panas.
Ia menaruhnya di atas meja dan kemudian permisi agar keluar dari ruangan, ia tidak ingin berlama lama dalam satu ruangan dengan suami iblis nya.
"Tak apa Ariana jalani saja sampai ia benar benar bosan denganmu dan membuangnya dan air matamu tidak pantas untuknya" gumam Ariana meski kini air matanya lolos di pipinya.
Ariana segera mengusapnya dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam suaminya.
Dengan perasaan bercampur aduk hingga ia tak sadar telah menambahkan 2 sendok garam ke dalam sup yang sudah terhidang di mangkuk.
Ariana menaruhnya di atas meja dan ia menyiapkan makanan lainnnya, ia ingin sekali memakan makanan itu karna ia belum makan siang.
"Nona Ariana anda bisa memanggil tuan muda untuk makan malam" ujar BI asih pada gadis itu
"Baik bi" Ariana melangkahkan kaki nya menuju kamar suaminya hendak memanggil pria itu.
Ia mengetuk pintu dan membuka nya dengan perlahan, dan ia mengintip kedalam.
"Tuan, makan malam anda sudah siap"
Ariana melihat suaminya dengan memegang sebuah pistol di tangannya dan itu membuat Ariana membulatkan matanya.
Alberto menodongkan pistol kearahnya dan itu membuat Ariana terkejut setengah mati.
"Tu-tuan apa yang anda lakukan" ujar Ariana ketakutan di depan pintu keringat dingin mulai membasahi tubuhnya
Ariana memejamkan matanya, mungkin ini terakhir dari hidupnya dan ia sudah menantikan saat-saat dimana ia meninggalkan semuanya
"Tembak saja saya tuan, saya tau anda marah karna saya membunuh istri anda dan saya akan menerimanya" ujar Ariana tersenyum menahan rasa sakit di hatinya tanpa meneteskan air mata.
__ADS_1
Dan itu membuat Alberto menjadi marah dan kesal, ia membuang pistolnya dan mendekati istrinya.
Ia menunduk ke bawah karna istrinya lebih pendek darinya, Alberto menarik rambut Ariana agar menatapnya keatas.
"Cihh aku tidak akan membunuhmu secepat itu, karna aku..!!! Akan menyiksamu sampai kau meminta ampun padaku" teriak Alberto di depan wajah Ariana dan menatap nyalang bagaikan raja iblis yang siap membunuh siapa saja.
Ariana menatap kedalam mata biru milik suaminya, ia menatap ada kesedihan yang mendalam dan itu membuat Ariana menjadi merasa bersalah.
"Lakukan jika itu membuatmu senang tuan, aku akan melakukan apa yang kau inginkan sampai kau benar benar bosan memakaiku dan setelah itu kau boleh membuang ku karna aku hanya seorang gadis pembawa sial yang menghancurkan kehidupan orang lain"
"Ya, aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan di dunia ini, sebab aku terlahir dengan membawa bencana"
Alberto yang mendengar perkataan Ariana tertawa keras di hadapan wanita itu.
"Kau baru sadar jika dirimu pembawa sial? Kau memang tidak pantas mendapatkan kebahagiaan Ariana karna kau! Kau pembunuh istriku!!" Alberto mendorong kasar istrinya hingga terhempas ke lantai
Alberto meninggalkan Ariana yang tersungkur di lantai akibat ulahnya. Tanpa sepengetahuan nya Ariana menangis menahan rasa sakit di kepalanya.
Ia sudah tak perduli dengan hidupnya, karna ia juga akan dibunuh saat suaminya sudah puas menyiksanya jadi, ia akan menikmati hidupnya dengan cara seperti ini.
Di rumah jaya.
Tampak pria tua itu sedang tertawa bahagia karna sebentar lagi pernikahan bela akan di langsungkan dengan Mega.
Ia berniat mengundang Ariana untuk datang ke acara pernikahan kakaknya, ia tidak mau public menilainya buruk karna putri kandungnya. Tidak di undang.
"Pa, nanti pernikahan bela harus mewah ya pa" ujar bela menggelayut manja di lengan jaya.
"Kamu tenang aja sayang, papa akan membuat pernikahanmu berlangsung dengan mewah agar menjadi kenangan terindah bagi keluarga.
Bela yang mendengarnya tersenyum sumringah
*Rasakan kau Ariana aku menang, dan kau kalah* batin bela tersenyum kemenangan
__ADS_1
Mereka pun makan malam sembari tertawa ria menikmati hidangan nya, seolah olah mereka tidak memiliki Ariana.
Gadis yang tidak memiliki salah itu harus mendapatkan penyiksaan dari keluarga dan suaminya.
Hingga gadis itu menyerah untuk semuanya dan menyerahkan hidupnya pada suaminya karna ia tak bisa melawan kekuasaan suaminya yang di takuti di berbagai negara.
*
*
*
Di mension alberto.
Pria itu kini sedang mengotak stik laptop nya, memeriksa berkas berkas yang di kirim asistennya.
Namun, tiba tiba pikirannya tertuju pada istrinya. Seketika ia menutup laptopnya dan berjalan menuju kamar.
Ia membuka pintu dengan kasar dan ia mengedarkan pandangannya mencari setiap sudut.
Ia mendengar gemercik air di dalam kamar mandi, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ranjang.
15 menit kemudian.
Ariana keluar dengan pakaian lengkap, ia terkejut saat melihat suaminya yang berbaring di ranjang dan menatap kearahnya dengan tatapan tajam.
"Tu-tuan Alberto" Ariana menundukkan kepalanya merasa takut saat pria itu berjalan mendekatinya.
"Tidak usah sok suci di hadapan ku karna aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu, dan kau, kau tidak akan pernah mendapatkan rasa kasihan dariku" bisiknya di telinga gadis itu dan berjalan memasuki kamar mandi.
Sementara Ariana hanya terdiam, lagi lagi umpatan kata kata kasar yang ia dapatkan dari sang suami.
Ariana mendekati ruang ganti untuk menyiapkan pakaian suaminya
__ADS_1