
πΉπΉπΉ
#part 23#
ALBERTO AROON CHAIDEN SMITH
ARIANA DELANIA
ALVARO ALEXANDER
segitu dulu ya visual Mimin, nanti kalian bisa request apa yang cocok jadi visual twins A dan devano.
πππ
...βοΈβοΈβοΈ...
kini mobil arka sampai di depan gerbang yang menjulang tinggi itu.
Ariana turun dan tersenyum pada arka. "terimakasih arka kau sudah mengantarkan ku pulang"
"tidak masalah ariana lain kali kau tidak boleh bermain tengah malam" ujar arka, kemudian arka pun pamit untuk kembali.
Ariana masuk dengan sedikit lari, karna jarak mension dengan gerbang sangat jauh jadi membutuhkan waktu yang sangat lama.
__ADS_1
Ariana sampai dengan nafas yang memburu, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang menjadi suaminya.
Ariana melangkahkan kakinya menuju kamar hendak mengganti pakaian.
ia masuk kedalam kamar dengan hati hati ia melangkahkan kakinya, pandangannya tak menemukan pria tampan yang selalu menjadikannya sebuah boneka.
"baru pulang" ucap seorang pria yang duduk di sofa dengan buku ditangannya
"tu-tuan" Ariana menundukkan kepalanya entah apa yang akan ia dapatkan dari sang suami.
"apa saja yang kalian lakukan di dalam mobil" ujar Alberto membuat Ariana tak mengerti.
"maksud anda tuan..???"
"heh! masih berpura pura tak mengerti? jelas jelas kau pulang dengan seorang pria tadi" ujar Alberto menatap garang kearahnya.
"hanya berbicara? cihh kau memang seorang wanita murahan, aku tak tau sudha berapa banyak pria hidung belang yang menjamah tubuhmu itu" ujar Alberto menatap jijik kearahnya.
Ariana sakit mendengarnya namun ia menutupi dengan sebuah senyuman, berusaha bersikap tenang agar tidak di cap lemah oleh pria dihadapannya.
"ya, anda salah menilai saya tuan karna saya tidak pernah bersentuhan dengan seorang laki laki" ujar Ariana tersenyum
"wanita ini, jelas jelas tubuhnya bergetar dan ketakutan, masih berpura pura kuat. heh! menarik, kita lihat sampai mana ia kuat di hadapanku" batin Alberto menyeringai tajam.
"cihh semua wanita sama saja, berpura pura suci dihadapan ku sangat menjijikan" Alberto meninggalkan Ariana sendirian di dalam kamar.
dan seketika itu juga tangis Ariana lirih begitu saja.
__ADS_1
"kenapa aku selalu ingin menangis saat mendengar perkataannya"
Ariana menuju bathroom untuk membersihkan diri, ia melangkahkan kakinya dengan cepat takut suaminya kembali kedalam kamar.
ditempat lain.
"tuan, ada pengiriman paket" ucap pengawal itu menundukkan kepala.
"paket? aku tidak memesan paket" uajr Aron merasa bingung.
"pria itu mengatakan dari nona sila tuan"
"adikku? tetapi dia tidak berbicara apapun. buka!" titahnya.
pengawal tersebut segera membuka kotak tersebut, saat terbuka ia terkejut dan langsung memundurkan badannya, nafasnya memburu."ada apa? apa didalam kotak itu"
"itu..anu tuan.." pengawal tersebut tak bisa berkata kata tubuhnya bergetar hebat.
Aron yang kesal karna tidak mendapat jawaban langsung menatap isi kotak tersebut. "Baj*ngan....!!! keparat!!" teriaknya marah saat menatap kepala anak buahnya.
...βοΈβοΈβοΈ...
Ariana menundukkan kepalanya saat kini suaminya berdiri dihadapannya.
"karna kau saat ini sedang sehat dan tidak sakit, maka kau tidak boleh tidur diranjangku lagi, ataupun di sofa"
Ariana masih diam tak bergeming.
"kau tidur di lantai" ujar Alberto dan melemparkan bantal serta selimut kewajahnya
__ADS_1
Ariana menerima dana kemudian tersenyum. "terimakasih tuan"
"cihh berpura pura kuat lagi" gumam Alberto pelan dan kemudian pria itu membaringkan tubuhnya di ranjang.