ISTRI PENGGANTI BOS MAFIA

ISTRI PENGGANTI BOS MAFIA
Chapter 73


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


#part 73#


keesokan.


tampak Ariana terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya berkali kali, tampak ia merasa bingung berada di mana.


"ohh ya tuhan, aku lupa jika aku sudah pergi dari mension" ujarnya mengusap ngusap wajah cantiknya.


tiba tiba ia merasa pusing di kepalanya, ia merasa mual di perutnya dan segera berlari menuju closed untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Hoek...Hoek.." Lisa baru saja masuk kedalam kamar dengan membawa sarapan untuknya dan juga Ariana.


namun mendengar Ariana tampak tersiksa di kamar mandi, ia segera berlari mendekati sahabatnya.


"Ariana!" pekiknya saat melihat sahabatnya terduduk lemas di lantai, Lisa segera mendekati Ariana dan membawanya masuk kedalam kamar.


"apa yang terjadi padamu Ariana, kita harus ke rumah sakit sekarang kau terlihat cukup parah"


"tidak perlu Lisa, aku baik baik saja mungkin ini efek karna semalam aku tidak makan"


"baiklah sekarang ayo kita makan untuk mengisi perutmu"


Ariana menganggukkan kepalanya dan menuju meja yang berada di dalam kamar Lisa, mereka makan berdua dengan tenang, namun Ariana sedikit merasakan sakit di kepalanya.


"jika sakit Katakan saja, tak apa"

__ADS_1


"aku baik baik saja,tidak perlu khawatir"


saat sedang makan, tiba tiba ponsel Ariana berdering membuat ia menoleh kearah ponselnya.


"halo"


"Ariana bisakah kau bertemu ibu di cafe hari ini"


"baiklah aku akan kesana"


seseorang tersebut memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak, Ariana merasa jantungnya berdetak, ia tak tau apa yang di rencanakan ibu tirinya.


"ada apa Ariana"


"ibu ku menelfon, dia menyuruhku untuk menemuinya di cafe"


"Lisa, kau tunggu lah disini, aku akan pergi ke cafe sebentar"


"baiklah hati hati"


Lisa membiarkan wanita itu pergi, sementara kini Ariana mengenakan jaketnya dan tak lupa masker untuk menutupi mulutnya, agar orang suruhan Alberto tak dapat mengetahuinya.


ya meski pria itu tak mungkin mencarinya.


Ariana memesan ojek online, kemudian ia pun menuju cafe dengan cepat.


tak butuh waktu berapa lama, Ariana langsung masuk kedalam mencari keberadaan wanita paru baya itu.

__ADS_1


ia melihat wanita paru baya yang sedang duduk membaca koran di tangannya dan juga segelas jus menemaninya.


meski terlihat tua, itu tidak menghilangkan kecantikannya.


"ibu" panggilnya membuat wanita itu menoleh ke arahnya.


"oh kau sudah datang, duduklah ada yang ingin ku bicarakan"


wanita itu menatap taj ramah pada Ariana. Ariana hanya diam menunduk, apalagi kini kepalanya terasa sangat sakit.


Laura mengeluarkan secarik surat, dimana membuat Ariana semakin bingung.


"ibu ini apa"


"ibu ingin kau menandatangani surat ini, surat pernyataan jika kau keluar dari kartu keluarga" ujarnya dengan sinis tanpa memikirkan perasaan wanita itu.


Ariana terdiam membeku, lidah nya terasa kelu, seolah olah sulit untuk berbicara.


"mengapa aku dikeluarkan dari kartu keluarga, apa salahku?" tanyanya dengan bergetar dan berusaha menahan air mata yang hendak jatuh.


"kau tidak memiliki salah apapun, hanya saja kau selalu membuat hidup kami menjadi berantakan" ujar Laura dengan tatapan tajamnya.


"padahal aku selalu menuruti perkataan kalian, aku mengalah pada kak bela dan juga Bili, kalian membelikan mereka baju baru sedangkan aku tidak dan aku tidak perduli akan hal itu"


"bahkan kalian tak segan segan menyuruhku makan bersama para pelayan dan aku tidak mempermasalahkannya, lalu kenapa kalian tetap membuangku" ujar Ariana menangis dan kemudian segera ia menandatangani surat itu.


Laura yang melihatnya hanya diam, kemudian Laura beranjak dari tempat duduknya pergi meninggalkan Ariana yang masih menangis itu.

__ADS_1


__ADS_2