
🌹🌹🌹
#part 48#
olivia mengernyitkan dahinya merasa kurang percaya apa yang di katakan putranya.
"apa kau yakin? mom rasa Ariana tak mungkin seperti itu" ujarnya menatap tak percaya pada putranya.
"sudahlah mom, ngapain mom memikirkan gadis pembunuh itu" ujar Aurel dengan jutek.
"Aurel kau tidak boleh berbicara seperti itu" ujar Olivia mengapa tegas putrinya.
"sudahlah mom, aku kemari hanya sebentar karna aku masih banyak urusan"
"mengapa cepat sekali kak?"
"kakak harus mengerjakan berkas² yg belum kakak selesaikan"
Aurora mengangguk, dan kemudian mereka pun makan malam bersama tanpa bersuara. karna jika bersuara sedikit saja sudah di pastikan Dedy Kenzo akan marah.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
di restauran
masih sama, Ariana melayani pelanggannya.
tiba tiba ia melihat bela bersama Alfian masuk dengan bergandengan tangan, tak hanya itu keluarganya yang lain ikut datang.
"papa, ibu, mengapa mereka berada disini? dan billi" Ariana bergetar hebat, apalagi melihat ayahnya Alfian ikut datang, pria tua yang ingin menikahinya.
Ariana menundukkan kepalanya, rasa sakit di hatinya kembali muncul bersama ingatan² serta janji² palsu yang membuat Ariana selalu berharap kepadanya.
"eh ma, itu ariana" ujar bela pada Laura.
"ohh ternyata benar katamu, dia ternyata hanya bekerja sebagai pelayan haha aku rasa tuan Alberto tidak ingin menafkahinya" ujar Laura tertawa sinis.
"kau benar, bagaimana kalau kita permalukan saja dia, mama yakin dia tidak akan Bernai melawan karna dia masih membutuhkan kita sebagai keluarga"
"mama benar, kak Ariana sangat mudah untuk di sakiti, dia pernah berkata padaku, ia masih akan mengalah karna dia sangat membutuhkan keluarga" ujar Bili ikut berbicara.
"ma, mengapa berdiri disitu, cepat kemari dan anak anak juga" ucap jaya memanggil istrinya.
"ohh iya pa" Laura segera menyusul suaminya dan diikuti bela juga Bili.
tak lama karyawan lain datang membawa buku catatan, setelah mereka semua usai memesan karyawan tersebut menyerahkan buku catatan pada Ariana sebab Ariana berada di bagian dapur dan mengantarkan makanan.
__ADS_1
"jangan terlalu lama ya Ariana"
"iya kak"
Ariana pun membawa buku catatan menuju dapur untuk di serahkan pada chef. setelah itu Ariana mengantarkan makanan dibantu karyawan lainnya.
setelah karyawan lain mengantar kini giliran Ariana yang mengantar makanan paling akhir.
ia menundukkan kepalanya berusaha untuk berpura pura tidak mengetahui apa yang terjadi.
"ini pesanan nya bu" ujar Ariana menunduk sopan
"ohh jadi ini pekerjaanmu menjadi istri tuan Alberto, aku tidak habis pikir ternyata tuan alberto tidak menafkahimu" ujar Laura menghina gadis itu.
Ariana hanya tersenyum, ia tak berniat untuk membalas nya sebab ia masih membutuhkan keluarga ini untuk dirinya. "apa ibu ingin memesan sesuatu, jika tidak ada saya pamit dan permisi" ucap Ariana hendak meninggalkan tempat itu dan berusaha menahan air mata yang hendak jatuh itu.
"heh! tidak usah mengalahkan pembicaraan, kau itu hanya wanita miskin yang tidak tau diri, aku merasa malu karna telah merawatmu" maki Laura habis habisan.
Ariana melirik ayah kandungnya, tampak jaya tidak bergeming dan sama sekali tidak menghiraukan, ia malah sibuk berbicara dengan Herman.
"mah, sudah mah jangan membuat keributan disini" ucap Alfian berusaha membela Ariana.
"sayang kamu masih belain dia? kamu kan suami aku ko kamu malah belain wanita lain" bela menatap kesal suaminya lantaran pria itu masih membela gadis itu.
__ADS_1