
๐น๐น๐น
#part 87#
kini Alvaro menuju kediaman vila.
Alvaro menemui vila dan meminta agar Ariana bertemu dengannya.
"baiklah tuan, tunggu sebentar saya akan panggilkan"
Alvaro menganggukkan kepalanya, pria itu duduk di sofa dengan jus di atas meja yang di hidangkan para pelayan.
tak lama, tampak Ariana turun dengan dress di atas lutut.
Ariana duduk di depan Alvaro dan menatap datar pria itu. "ada apa kau menemuiku? apa tidak bosan tuanmu itu mengganggu ku"
"maaf nona kalau saya lancang karna Bernai ikut campur urusan pribadi anda dengan tuan alberto, akan tetapi bisakah nona memaafkan tuan Alberto? saya mohon kembali padanya nona, tuan Alberto sangat hancur tanpa anda"
Ariana tertawa sinis mendengarnya, ia mengepalkan tangannya, meski ia tidak memiliki apapun namun ia tidak perduli akan melawan para orang orang besar, baginya jika selalu mengalah mereka akan semakin menyakiti dirinya.
"apa yang bisa aku lakukan? aku hanyalah gadis sebatang kara yang tidak memiliki apa apa, apa aku pantas dicintai tuan alberto?, lagi pula aku dengan dia sudah bercerai jadi aku dengannya tidak memiliki hubungan apa apa" ucap Ariana menatap tajam kearah Alvaro.
__ADS_1
"anda salah nona, tuan alberto belum menceraikan anda, dia membatalkan perceraian nya dengan anda" Ariana terkejut ia membulatkan matanya.
"apa apaan ini? jika tidak bisa mengurus surat perceraian, biar aku saja yang mengurusnya"
"tapi tuan alberto tidak akan menceraikan anda nona" mendengar hal itu semakin membuat Ariana kesal.
terus apa status nya ia sekarang, yang ia ingin kan hanya ingin hidup bebas tanpa terjerat oleh lelaki itu.
"aku tidak perduli asisten Alvaro, yang jelas aku tidak akan kembali pada siapapun itu"
setelah mengatakan hal itu, ariana pergi dari hadapan Alvaro. sementara pria itu menghela nafasnya dengan kasar.
dikamar.
Ariana terlihat sedang membereskan pakaiannya, ia tidak mungkin terus menerus hidup bergantung pada orang lain, ia akan mencoba hidup sendiri dengan usaha yang ia miliki.
ia akan berjualan saja dari hidup membebani orang lain.
Alvaro kembali ke hotel dengan wajah sedikit di tekuk.
ia masuk kedalam kamarnya untuk memeriksa beberapa berkas perusahaan yang harus alberto tanda tangani, meski sangat terpuruk Alberto tidak pernah meninggalkan pekerjaannya.
__ADS_1
kamar Alvaro berhadapan dengan alberto, jadi jika ada apa apa, Alvaro tidak jauh jauh untuk berlari ke kamar alberto.
Alvaro menangkap kamera cctv mension, Alvaro melihat ibu tiri dan kakak tiri Ariana sedang berbincang bincang Elina yang kini sah menjadi mantan istri alberto.
"apa yang mereka rencanakan?" gumam Alvaro pelan dan mengeraskan volume cctv agar lebih jelas.
"heh! ingin menyingkirkan nona Ariana? tidak akan bisa"
Alvaro segera membawa laptopnya menuju kamar Alberto, ia harus memberitahukan informasi ini pada Alberto.
saat masuk, ia melihat Alberto masih duduk dengan memandangi jendela besar, sedari tadi pagi pria itu tidak ingin sarapan.
"tuan, ada yang ingin saya sampaikan tuan"
Alberto tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Alvaro memberikan laptop nya dan membuka vidionya, sehingga Alberto dapat dengan jelas melihatnya.
Alberto mengeraskan rahangnya, matanya yg merah karna habis menangis itu membuatnya bagai raja iblis di neraka yang siap menyeret orang orang kedalamnya.
"hancurkan semua perusahaan nya, dan Elina jangan biarkan wanita itu semena mena"
"baik tuan"
__ADS_1