
Fakta pertama yang dia ketahui tentang suminya yaitu, pria yang mempermainkan dirinya, mempermainkan dirinya. Laras melipat kedua tangan didada, mamandang cemberut pada suaminya yang sedaang membeli cemilan khas jepang.
Setelalah sarapan pagi yang membuatnya bagaikan kepiting rebus, pada akhirnya Laras meminta jalan - jalan dan tidak mau berada di dalam kamar seharian. Dia terlalu takut untuk membayangkan apa yang akan terjadi di dalam sana. Laras bergidik ngeri.
"Kamu kenapa?"
Dia membuka mata dan Ray sudah berdiri di hadapannya, dengan kedua tangan penuh dengan makanan, dengan cepat Laras mengambil salah satu makanan yang ada di tangan Ray dan memasukkan kedalam mulut, "Enak," pujinya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Ray menggeleng dan duduk di bangku sebelah Laras dan melakukan hal yang sama dengan Laras.
Suasana makan sangat hening, sehingga Laras membuka suara, "Kamu pernah kesini?"
"Hanya beberapa kali."
Laras mangguk - mangguk, "Kenapa?" tanya Ray.
"Bahasa jepangmu pasti fasih."
Sementara Laras hanya basa basi.
"Saya sudah menyuruh pegawai hotel untuk mengemasi pakaian kita. Malam ini kita tidak menginap di hotel."
"Kenapa?" tanya Laras cepat. Pikirannya
sudah membayang kan hal - hal yang bisa meracuni otaknya.
Adam menoleh dan menjawab, "Kita akan tidur di villa malam ini."
Dengan wajah kesal Laras berdiri, dia kembali melipat kedua tangannya di dada kemprotes Ray, "Apa ini rencanamu?"
"Bukan, ini rencana Mama."
Laras kesal dan menghela nafas nafas panjang, "Seharusnya kalau begitu kita tidak perlu menginap di hotel segala," kesal Laras dan memalingkan wajahnya.
Pria ini benar - benar mempermainkan dirinya. Pria ini bahkan tidak tahu bagaiman perasaannya semalam yang sangat gugup sampai - sampai tidak bisa tidur, banyak bergerak kesana kemari, bahkan dia terdiam tak terasa menahan nafas saat melihat tubuh Ray menggeliat di sampingnya.
"Kamu marah?"
Mendengar itu Laras menoleh pada Ray, "kamu bertanya padaku? Dengan bahasa informal?"
Ray mengangguk, Laras melanjutkan, "Setelah aku marah, kamu langsung berganti bahasa."
"Aku hanya sedikit canggung. Jadi sebaiknya kita jaga jarak."
"Tapi kamu tadi mempermainkan aku!" kesal Laras, dia mengingat peristiwa di restoran tadi.
Salah tingkah, Ray menggaruk belakang kelalanya yang tak gatal, "Aku hanya iseng, wajahmu sangat imut."
__ADS_1
Walaupun mereka saling kenal sudah lama, tapi interaksi begini ada hal yang baru untuk mereka.
Mendengar kata terakhir yang di katakan Ray, membuat mulut Laras melongo dengan kata - kata terakhirnya, "K_kamu bilang apa barusan?"
"Apa?" Ray balik nanya.
Laras menunjuk Ray, "Itu kalimatmu yang iseng...."
"Iseng?"
"Ya."
"Wajahmu sangat imut," ulang Ray kalimat terakhirnya.
Mendengar itu, Laras terdiam. Dia berbalik dan menutup mata gemas. Ray bilang wajahnya sangat imut. Benarkah? Tanpa sadar dia menangkupkan kedua tangannya di pipinya. Pipi memanas, seperti gadis remaja saja.
Ray menahan tawa melihat tingkah istrinya itu. Fakta yang baru dia tahu tentang istrinya yaitu, Istrinya gampang sekali di puji dan sangat polos, fakta lainnya yang tak boleh di lewatkan, dia mulai senang menggoda istrinya, membuat pipi Laras memerah seperti kejadian di restoran tadi pagi, dia menikmati saat - saat itu dan senyumnya tidak pernah hilang. Hidung nya akan berubah ... dia yakin itu.
Tak terasa hari sudah mulai gelap. Mereka masih saja berkeliaran di luar sambil menikmati indahnya malam di negara sakura.
"Laras," panggil Ray.
"Hmmmm," Laras tidak memalingkan wajah, Dia fokus pada pertunjukan air yang dilihatnya.
"Aku banyak berfikir sebelum pernikahan ini, pada akhirnya kita sama - sama menerima pernikahan ini."
Mata mereka bertemu, Ray melanjutkan kalimatnya, "Aku menganggap sakral sebuah pernikahan, janji dan ikatan yang dibuat di hadapan Tuhan, tak ingin mendoai hal itu...." Ray mengerjab lalu tersenyum, "Aku menginginkan jawabanmu...."
"Apa? Kamu bahkan belum pernah bertanya padaku."
Ray memberanikan diri menggenggam kedua tangan Laras, "Aku ingin membawa hubungan ini kedalam keseriusan yang lebih, walau belum terlalu ada cinta di antara kita dan kuharap akan ada cinta di kedepannya yang tumbu, melebihi cinta yang kemarin - kemarin dan tidak jatuh cinta sendirian."
"Jadi?"
"Maukah kamu membuka pintu hati dan membiarkan kita mengenal lebih dalam lagi, untuk sebuah kenyamanan dan kebahagian untuk kedua orang tua kita."
Lama Laras terdiam, kemudian Ray bertanya, "Kenapa? Kamu tidak mau?"
"Bukan begitu."
"Begitu ya."
"Apa?"
"Kenapa?"
Laras menggelang.
__ADS_1
Tiba - tiba Ray melepas genggaman tangan Laras dan menggaruk belakang kepala, kebiasaan yang mulai Laras pahami dari suaminya, jika suamimya sedang dalam keadaan gugup dan salah tingkah.
"Laras ... aku bukan orang yang romantis...." ucap Ray kaku sambil terus menggaruk belakang kepalanya. "Aku bingung harus melakukan apa padamu, contohnya candaanku tadi pagi, aku minta maaf aku tidak ada maksud apapun."
Laras berfikir berusaha mencerna kalimat Ray.
Laras salah menilai Ray yang di maksud menggoda.... Ray hanya bingung harus bersikap apa pada Laras. Laras bingung harus bersikap apa jika di dekat Ray.
"Kita akan memulai dari awal semua dengan perlahan, bukan?"
"Ya," sahut Ray singkat.
"Ku pikir hubungan kita baik - baik saja dan sudah ada kemajuan dan perkembangan."
Ray mengangkat kedua alisnya, bingung, "Dari cara kita bicara semalam, sudah berbeda...."
"Kamu fikir itu kemajuan?"
"Tentu saja," Laras menyahut lalu tersenyum menatap Ray, lalu buru - buru memalingkan wajah dan melihat pertunjukan air yang tidak lama lagi selesai.
Hening sejenak, kemudian Ray melanjutkan kalimatnya, "Aku baru saja memikirkan hal kecil apa yang dapat membuat kemajuan dalam hubungan kita...."
Mendengar itu Laras pun menoleh, dia penasaran, "Apa?" tanya Laras.
"Hal kecil ini...." Ray tiba - tiba meraih tengkuk Laras dan menempelkan bibirnya di bibir Laras.
Mata Laras langsung melotot dan seketika tubuhnya tegang. Bibir Ray sangat dingin, sama halnya dengan bibirnya. Tapi kenapa? Lama kelamaan bibirnya terasa hangat dan tubuhnya menjadi rileks, serta panas menjalar keseluruh tubuhnya. Tubuhnya yang semula kaku kini lunglai karena ciuman dari Ray.
Mata Laras perlahan menutup, mendalami serta merasakan bagaimana rasa bibir Ray yang terus sama menuntut dan mempermainkan dirinya.
"Kamu menangis?"
Ray tersentak, Dia mengusap pipinya dan mendongak, "Ada debu yang masuk kedalam mataku...." kilah Ray.
Laras memiringkan kepalanya dan meniti wajah Ray, "Bohong!"
Mata Ray terbelalak, "Kenapa aku harus berbohong padamu...." lalu Ray memasang wajah biasa - biasa saja, menegakkan tubuhnya dan batuk beberapa kali walau tenggorokannya tidak sakit. "Kamu suka pemandangannya?" tanya Ray mengalihkan pembicaraan.
"Suka ... suka sekali ... mungkin suatu hari nanti, aku akan kesini lagi..." ujar Laras menegakkan kepalanya lalu berjalan kesalah satu pohon sakura yang sedang mekar.
Kepalanya mendongak dan memandang senang akan beberapa kelopak sakura yang bertebaran karena hembusan angin.
💖💖💖
Teman - teman, mari saling mendukung ya...
Terima kasih....
__ADS_1
💖💖💖