
Kini aku dan Antony sudah tiba di rumah Bunda.
Di ruang tamu.
"Kalian duduk saja dulu, Ara mau kebelakang buat minum untuk kalian!" ujarku kepada Bunda dan Antony.
Mereka hanya menganggukan kepala. Tidak ada percakapan di antara mereka. Kini aku sudah kembali dengan nampan di tanganku, dan meletakkan nampanku di atas meja dan duduk di samping Bundaku.
Sambil bergelayut manja di lengan Bunda ku, "Bun, kok pulang tidak bangunkan Ara sih?" tanya ku pada Bunda seraya memanyungkan bibirku.
Bunda pun menatap wajah ku, "Bagaimana cara Bunda membertitahukan kamu kalau kamar saja sangat tertutup rapat," seraya berbisik, "Takut mengganggu," seraya menyunggingkan senyum.
Aku hanya menatap Bunda tak percaya dengan kata - kata nya itu. Melihat kami yang asyik bercanda, "Hm ... hm ... hm ... kacang ... kacang ... kacang...." sontak aku dan Bunda menghadap ke asal datang nya suara. "Eh ... maaf ... maaf lupa," ujar ku seraya menggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Ayo di minum airnya nanti keburu dingin," ujar ku pada Antony dan Bunda.
"Katanya tadi ada yang mau di ambil, ayo aku bantu!" ujar Antony setelah meminum teh angat nya lalu meletakkan kembali ke atas meja.
Aku pun menoleh ke arah Bunda, seraya memegang tangannya, Bun, Ara atas dulu ya, ada yang mau Ara ambil di dalam kamar."
__ADS_1
"Kamu tidak tidur disini malam ini?" tanya sang Bunda dengan wajah sedihnya.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban nya.
"Ya sudah tidak apa - apa, sebagai seorang istri kamu memang sudah menjadi tanggung jawab suamimu, dan sudah seharusnya kamu ikut suamimu di mana pun dia berada," ucap sang Bunda yang tiba - tiba menitikan air mata nya.
"Bunda, jangan menangis dong," ucap ku seraya menghapus air matanya.
"Bunda tidak menangis sayang, Bunda tidak menyangka saja kalau putri Bunda ini sudah dewasa sekarang dan sudah bersuami. Rasa - rasany baru kemarin kamu di lahirkan ke dunia ini, tapi, hari ini kamu akan memulai hidup mu yang baru dengan suamimu menuju rumah tangga sakinah, mawadah dan warohmah," ucap sang Bunda kini dengan air mata yang sudah tidak bisa di bendung lagi seraya memelukku.
Masih dalam pelukan, "Maaf kan Ara Bun yang belum bisa membahagia kan Bunda, yang belum bisa menjadi anak yang baik untuk Bunda, yang bisa nya hanya merepotkan Bunda," ucapku yang kini sudah tidak bisa menahan laju air mataku yang terus menetes membasahi pipiku.
Mereka pun saling melepas pelukan, seraya memegang kedua tangan putrinya itu, "Seharusnya Bunda yang minta maaf sama kamu, walau pun kamu tidak lahir dari rahim Bunda tapi di saat kamu tau kebenarannya tentang mu, kamu masih mau menganggap Bunda sebagai Bunda dan tidak pernah membenci Bunda."
Aku pun menutup mulut Bunda dengan satu jariku, "Bun, bagaimana pun keadaannya tidak akan merubah apapun di dalam diri Ara, Bunda tetap Bunda terbaik yang pernah Ara punya," ucap ku seraya memeluk Bunda ku.
"Terima kasih sayang," ucap sang Bunda seraya menepuk - nepuk bahuku.
...************...
__ADS_1
Kini aku dan Antony sudah di dalam kamarku.
Antony hanya mengedarkan pandangan nya kesana kemari, hingga dia berhenti pada satu benda yang tergantung di dinding kamarku. Dia pun berjalan menedekat, "Yang ini masih kamu simpan?"
Aku pun menghentikan aktivitasku memilih baju apa saja yang akan aku bawa dan menoleh keasal datangnya suara, "Tidak ada alasan untuk aku membuangnya," ucapku seraya menghentikan aktivitas ku dan berjalan mendekat kearah di mana Antony berada.
Aku pun mengambil biola itu dan meletakkan di atas meja dan duduk di sana di ikuti Antony di sampingku.
Setelah sama - sama duduk Antony pun bertanya, "Kenapa kamu masih menyimpannya? Kenapa tidak kamu buang? Kan kamu tau sendiri kalau orang yang sudah memberikan kamu biola ini sudah menorehkan luka yang sangat dalam bahkan untuk kata maaf untuk dia tidak akan cukup."
Aku pun menoleh ke arah Antony yang duduk di sampingku, "Tidak ada gunanya membahas itu lagi. Semua sudah berubah dan jadikan kejadian kemarin sebagai pelajaran untuk menuju di kehidupan selanjutnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
Antony pun meraih tanganku, "Terima kasih sayang," ucapnya kemudian memelukku, aku pun membalas pelukannya dan menepuk - nepuk pundaknya, "Sudah - sudah, kita lupakan yang sudah berlalu dan mari kita membuka lambaran baru bersama anak - anak kita kelak," ucapku seraya melepas pelukanku namun ditahan oleh Antony, "Bisakah kita melakukannya sekarang?" refleks aku pun mencubit perutnya. "Itu adalah jawabanku," ucap ku seraya berdiri dan kembali melanjutkan aktivitas ku yang sempat tertunda.
...❤❤❤...
...Mari saling mendukung...
...Terima kasih...
__ADS_1
...❤❤❤...