
Semakin hari mereka semkin dekat saja entah mereka sadari atau tidak. Kini pertemanan dan kedekatan mereka sudah mendekati satu tahun selama itupula tidak ada kejelasan hubungan diantara mereka.
Siang itu.
"Fhan, bantu aku dong!" ujar Fadil mengawali percakapannya disiang hari itu.
"Aku harus membantumu apa?" jawab Fhani seraya mengerutkan keningnya.
"Kamu kan tau, aku dekat dengan Ara. Aku mau memberikan dia surprise dan aku perlu bantuan kamu," ujar Dhaffin dengan wajah serius.
"Aku bisa bantu apa?"
"Kamu cukup hadirkan orang tua Ara dan kerabat - kerabat dekat Ara, dengan kata lain teman - temannya."
"Kapan?" tanya Fhani.
"Nanti aku memberitahumu," ujar Dhaffin seraya berlalu pergi.
Beberapa hari kemudian.
Dipagi itu.
"Fhan, tolong ya sampaikan ke Ara kalau hari ini aku tidak masuk kerja," Ujar Dhaffin dari telepon.
"Kalau boleh tau, kamu mau kemana?" Tanya Fhani.
"Kepo aja lo," Ujar Dhaffin dari seberang.
__ADS_1
"Nanti deh aku ceritain, tidak usah cemberut gitu," Ujar Dhaffin kemudian.
"Siapa yang cemberut," Kilahnya.
"Ya, sudah aku tutup dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," Seraya menutup teleponnya.
💖💖💖
Kini Dhaffin sudah berada di halaman rumah Ara. Setelah turun dari mobil dia pun segera melangkahkan kakinya keteras rumah.
Tok...tok....tok
"Assalamualaikum."
"Oh iya sampai lupa, mari silahkan masuk!" ujar ibu paruh baya itu yang tak lain adalah Bunda Amira, Bunda Ara.
Merekapun masuk bersama - sama berjalan masuk hingga keruang tamu.
"Silahkan duduk!" ujar bunda Amira mempersilahkan tamunya duduk.
"Terima kasih, Bu," ujarnya seraya duduk di salah satu sofa yang ada diruang tamu.
"Mau minum apa?" tanya Bunda Amira kepada tamunya itu.
"Apa aja boleh, Bu."
__ADS_1
Bunda Amirapun melangkahlan kakinya pergi kebelakang untuk membuatkan minum tamunya tadi. Sesaat kemudian, Bunda Amira pun keruang tamu, bersama 1 gelas jus jeruk dan cemilan yang diletakkan didalam nampan.
"Silahkan diminum, Nak airnya!" ujar Bunda Amira seraya meletakkan nampannya diatas meja. Setelah, Bunda Amira duduk di sofa yang ada di hadapan pria itu, Bunda Amira pun bertanya, "Maaf mau bertemu dengan siapa?" tanya Bunda Amira sopan.
"Maaf, Bu saya mau bertemu dengan Mama Ara?" kata pria itu.
"Maaf ada apa ya mencari saya?" tanya Bunda Amira seraya menyunggingkan senyum.
"Maaf...." ujarnya kikuk.
"Jadi, ada perlu apa kamu mencari saya?"
"Maaf sebelumnya atas kelancangan saya, tapi ini harus saya sampaikan." hening sejenak. Kemudian dia melanjutkan kata - katanya "Beberapa bulan terakhir ini, saya menyukai Ara dan berencana mau mempersuntingnya untuk jadi istri." ujar Dhaffin to the poin.
Bunda Amira tidak bisa berkata apa - apa. Bunda Amira cukup salut dengan keberanian pria yang ada di hadapannya sekarang ini. Seumur - umur belum ada laki - laki yang langsung bertandang kerumahnya untuk melamar putrinya itu.
"Bagaimana Bu, apa Ibu merestui kami berdua?" tanya penuh harap. Kemudian Dhaffin melanjutkan kata - kata nya, "Dan maaf, Bu jangan katakan ini kepada Ara, kalau saya ada kesini menemui Ibu!" ujarnya kemudian.
"Kalau Ibu sih terserah Ara saja, Ibu tidak bisa memutuskan karena yang akan menjalani kehidupan rumah tangga adalah Ara." ujar Bunda Amira kemudian.
"Baiklah Bu, tapi mohon dukungannya ya Bu!" ujarnya penuh harap.
"In Sya Allah."
💖💖💖
Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like, vote, komen dan jangan lupa jika kalian suka di rate lima ya. Terima kasih...
__ADS_1
💖💖💖