
Ray menikmati pemandangan itu, tiba - tiba tubuhnya menghangat seketika, ada perasaan aneh muncul, tangannya terangkat menyentuh dada dimana letak jantung nya berada. Ray menarik nafas panjang dan menghembuskannya, berkali - kali, berharap jantungnya kembali berdetak seperti biasanya, tapi sayang ... hal itu malah membuatnya semakin gugup, hal - hal lain muncul dalam fikirannya. Tubuhnya bergerak mendekati Laras tanpa dia sadari.
Laras menoleh dan menyadari langkah cepat Ray menghampirinya serta wajah suaminya yang tampak aneh, "Ray ada apa?" Ray langsung menarik tangan Laras dan membawa tubuh istrinya dalam pelukannya.
"Kamu kenapa?"
"Diam. Ku mohon, jangan bicara, biarkan kita seperti ini sebentar...." bisik Ray.
Laras menuruti, dia terdiam, tubuh kaku, perlahan - lahan santai dalam pelukan Ray.
Bahkan tangannya terangkat dan memeluk Ray. Hangat ... pikirnya, matanya terpejam dan mengeratkan pelukan, begitupun dengan Ray.
Setelah cukup lama berpelukan, Ray melepaskan pelukannya, menundukan kepala menatap mata Laras, "Kamu sangat cantik...."
Laras menunduk menyembunyikan rona merah dipipinya, "Ray kamu sudah membuat aku menjadi kepiting rebus berkali - kali...." ucap Laras dalam hati.
Senyum Ray tercetak jelas di wajah tanpannya, dia mengangkat dagu Laras, membuat matanya beradu temu, dia bisa melihat rona merah di wajah Laras.
"Kamu pasti kedinginan?" ucap Ray.
Dia segera melepas jaketnya dan memakaikannya pada Laras, lalu dia meraih tangan Laras lalu menggenggam tangan Laras, "Kita lanjut jalan - jalan."
kedua kembali berjalan - jalan sambil bergandengan tangan. Tertawa bersama selayaknya pasangan kekasih, hingga tanpa mereka sadari hari sudah berganti malam.
Kini mereka melanjutkan jalan nya ke arah restoran untuk makan malam, "Aku akan melihat - lihat...." ucap Laras, dia bosan karena menunggu pesanan makan malam mereka. Tempat ini sangat ramai, dan Laras suka itu. Dia berjalan - jalan tidak jauh dari restoran, dilihatnya langit malam yang sudah menunjukan jutaan bintang.
"Indah," bisik Laras.
Terus Laras memandang langit, hingga tak menyadari Ray sudah berdiri di sampingnya.
"Kamu lihat apa?"
Laras menoleh dan tersenyum, "Bintang ... ada banyak bintang disana ...." lalu memandang bintang lagi. Ray mengikuti arah pandang Laras dan tersenyum, ide kecil muncul dibenaknya.
"Aku akan menunjukkan sesuatu mengenai bintang di rumah...." ujar Ray masih menatap langit.
__ADS_1
Kepala Laras menoleh menatap Ray yang masih memandang bintang di langit, "Sesuatu mengenai bintang, katamu?"
Ray mengangguk, namun masih menatap langit.
Mata Laras berkedip, dia mengamati Ray dan tiba - tiba wajahnya memerah lalu dengan cepat, Laras menangkup kedua pipinya. Karena gerakan Laras yang tiba - tiba, Ray menoleh dan bertanya, "Kamu kedinginan lagi?"
Laras menunduk sambil menggelengkan kepalanya berkali - kali masih dengan menangkup kedua pipinya.
Melihat tingkah istrinya, Ray tersenyum, "Ayo kita masuk...." ajaknya.
Kemudian Laras mengangguk dan berjalan mendahului Ray.
*****
"Kamu bilang akan menunjukan sesuatu...." Laras mengingatkan Ray. Dia sangat penasaran dengan apa yang akan Ray katakan.
Mereka sudan tiba di vila dan langsung menuju kamar.
"Mandi lah terlebih dahulu dan tunggu aku di balkon...." ucap Ray sambil memasang wajah cerianya.
Laras langsung mengangguk dan langsung melesat pergi untuk membersihkan diri. Dia keluar kamar mandi masih menggunakan jubah mandi. Pandangannya menyeluruh mengamati kamar, tidak ada orang? Kemana Ray?
*******
Laras mengamati dirinya di cermin, lalu berputar, gerakan itu membuat dress selututnya mengembang. Kira - kira apa yang akan Ray tunjukan padanya? Senyum merekah menghiasi wajah Laras. Setelah cukup yakin penampilannya luar biasa, dia berbalik dan melangkah menuju balkon, langakahnya perlahan memasuki balkon indah itu ... luar biasa ... kenapa tidak mulai kemarin Laras melihat balkon ini?
Sangat luas bahkan, bahkan disana sebuah pohon yang dikelilingi bangku kayu, serta Ray....
Suaminya sedang berkutik dengan sesuatu, Laras tidak tahu karena Ray sedang memunggunginya. "Ray," panggil Laras di belakang Ray.
Pria itu menoleh dan tersenyum, sweter hitam dengan kerah yang menutup leher, membuat Ray terlihat begitu tampan, apa lagi dengan celana panjang hitam yang membalut kaki Ray dengan sempurna.
"Kemarilah," ucap Ray sambil menepuk bangku kayu di bawah pohon. Laras melangkah dan duduk di samping Ray.
"Teleskop," ujar Laras sambil menunjuk benda di hadapannya.
__ADS_1
Ray mengangguk dan tersenyum. Ray merangkul tubuh Laras, menempatkan sebelah mata di lubang teleskop. "Dengan menggunakan ini kamu akan bisa melihat bintang dengan jelas," ucap Ray.
Laras menelan ludah, menjauhkan sedikit tubuhnya, takut jika Ray mendengar detak jangtung nya yang berdegum kencang. Dia menghela nafas berkal - kali.
"Kenapa?" tanya Ray memandang Laras, "Kamu tidak suka?"
Dia hanya menoleh dan memberi jawaban dengan tersenyum, kenapa aku mempunyai suami yang bisa membuatku mati karena jantungan?" "Aku akan melihatnya," ucap Laras meraih teleskop dan mulai melihat bintang - bintang.
"Indah sekali ... begitu banyak bintang terlihat ... oh ... disana ada yang paling bersinar terang dan ada yang sangat besar ... luar biasa ...." Laras terus saja menggerakan teleskopnya, melihat kepenjuru ara dan mencari bintang.
Setelah puas Laras pun meletakkan teleskopnya kembali.
"Ray," lirihnya sambil merangkul pelukan disekitar leher Ray.
"Aku mempunyai impiaan, suatu hari nanti, aku akan melihat bingang - bintang bersama anak - anakku kelak, disini ... seperti saat ini ...."
"Aku yakin impianmu akan terwujud, Ray, aku yakin....."
Ray tersenyum dan memeluk Laras. "Aku harap juga begitu."
Suasana hening dan Laras memikirkan impian Ray. Impian Ray pasti terwujud, ya ... pasti ... Laras mengeratkan pelukannya. Mereka terus begitu hingga merasakan nafas Ray normal, Laras merenggangkan pukan Ray dan menatap suaminya.
"Hari sudah malam, kamu pasti kedinginan ..." Ray handak bergerak menjauh, Laras menahannya.
"Impianmu akan terwujud."
Sambil tersenyum dan mengecup kening Laras, "Kamu sudah mengatakannya tadi ... hari sudah malam, sebaiknya kita masuk...."
Laras mencium Ray dan semakin mempererat pelukan di sekitar leher Ray. Awalnya Ray terkejut dan kaku, lama - kelamaan tangannya memeluk tubuh Laras, memperdalam, ciuman mereka terus hanyut dalam kemesraan.
Sampai pada akhirnya, Ray merebahkan tubuh Laras di atas kursi kayu, terus mencumbunya, lalu kemudian mereka pindah ketempat tidur untuk menuntaskan seluruh hasrat biologisnya.
💖💖💖
Mari saling mendukung, teman - teman...
__ADS_1
Terima kasih.....
💖💖💖