
Malam menyelimuti sepinya hari yang merubah segala keceriaan menjadi sejuknya jiwa dalam ketenangan jiwa dalam peristirahatan. Indahnya rembulan bak bunga mekar di taman dan bintang bagaikan kumbangnya.
Namun semua itu berubah saat dia meninggalkan aku sendiri disini. Teringat janjinya yang membuai jiwa seakan hati ini terbelah dan dirinya mudah dengan mudahnya masuk ke dalam jiwaku membawa sejuta harapan dan keinginan yang mendalam kepadanya.
Sinar rembulan seakan ikut meratapi kesedihanku, ingin rasanya kucurahkan isi hatiku pada rembulan, namun apa daya dia bahkan lebih jauh dari yang kuharapkan.
Membuat hati ini semakin merasa sangat kesepian dan membuatku seakan tak berdaya dengan semua keadaan ini.
******
1 Tahun kemudian.
Kutatap pemandangan yang indah di ujung sana seraya mendengarkan lagu Kerispatih mengenangmu teringat akan sosok Dhaffin yang pernah mengucap kata cinta padaku disini, dipantai ini. Kita pernah menghabiskan waktu bersama.
Andai kata waktu dapat di putar kembali, aku akan menunggumu disini, walau sampai kapan pun. Tapi ku rasa itu tidak akan pernah bisa terjadi karena dunia kita sudah berbeda. Meskipun begitu cintamu akan tetap abadi dan tetap bersemi di hati ini. Saat ini terasa ada Dhaffin duduk di depanku dan tersenyum padaku.
******
Aku pun berdiri dan beranjak dari tempat dudukku menuju parkiran. Sesaat kini aku sudah berada dalam mobil dan siap - siap pergi entah kemana hati ingin pergi.
Sesaat kemudian kini mobilku sudah melaju di jalan raya. Tidak lama kemudian mobilku kini sudah memasuki halaman restoranku. Setelah mobil terparkir aku pun segera turun untuk lalu masuk kedalam restoran.
"Assalamualaikum. Siang...." sapa ku pada karyawan yang sedang bertugas di siang hari ini.
"Waalaikumsalam," jawab para karyawan barengan.
Fhani yang melihat aku datang, dia pun berjalan ke arahku, "Kamu dari mana?" tanya Fhani ketika sudah berdiri di depanku seraya tersenyum kepadaku.
"Aku tidak dari mana - mana, hanya kebetulan lewat saja," jawab ku berbohong.
Dia pun meraih sesuatu yang ada di atas meja kemudian menyodorkannya padaku, "Ini ada undangan dari Ray dan Laras, besok putri mereka mau ngadain Tasmiah dan Aqiqah."
Aku pun menerimanya, lalu membuka undangan itu.
__ADS_1
"Kamu sudah mempersiapkan hadiah belum?" tanya ku pada Fhani.
Fhani hanya menggeleng sebagai jawabannya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke toko perlengkapan bayi?" usulku pada Fhani seraya menatapnya meminta persetujuan.
"Baiklah, ayo!"
Kami pun berjalan keluar restoran menuju parkiran dimana mobilku berada. Sesaat kemudian kini mobilku sudah berada di jalan raya dan siap menuju toko perlengkapan bayi terdekat.
******
"Undangan untuk Ara dan Bunda Amira sudah sampai belum ya?" tanya Ray pada Laras serya menimang - nimang bayinya.
Laras yang sedang sibuk melipat baju Anaknya dan memasukkannya dalam lemari pun menoleh, "Sudah diantar Pak Solihin tadi pagi kerumah Bunda Amira dan kerestoran Ara," jawabnya kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.
Tok... tok...tok.... ketukan pintu dari luar.
"Masuk."
Nampak dari balik pintu kamar seorang laki - laki yang tak lain adalah Antony berjalan mendekat kearah di mana Ray dan putrinya berada.
Setelah berada di tepi tempat tidur Antony pun menyapa putri kecil itu. "Hallo putri cantik, boleh kenalan tidak? Siapa sih nama kamu? Aduh cantik nya?" ujar Antony mengajak ngobrol bayi Ray dengan menirukan suara anak - anak.
Ray pun membalasnya dengan menirukan suara anak - anak, "Hallo om ganteng... nama aku Keyla Adiba Wijaya."
"Selamat ya sudah jadi Ayah sekarang dan saya jadi om. Oh ... ternyata aku sudah tua," ujarnya seraya tertawa ha ... ha ... ha ....
Ray pun membalasnya dengan masih menirukan suara Anak - anak, "Makanya om ganteng segera cari bini biar Kayla punya sepupu! Biar rumah nenek tambah rame tidak sunyi," ujar Ray seraya tertawa ha ... ha ... ha ....
"Sialan lo Ray, mentang - mentang kamu punya bini, jadi seenaknya mengata - ngatai aku," ujar nya seraya melayangkan tinjuan halus kelengan saudaranya itu.
Laras yang hanya menjadi pendengar setia percakapan dua pria itu kini ikut menimpali, "Benar itu Ny, kapan kamu menikah lagi? Kenapa tidak balikan sama Ara saja? Aku yakin Ara pasti masih menyimpan rasa untukmu walau mungkin hanya sedikit bahkan secuil."
__ADS_1
Antony pun menjawab, "Mana mungkin Ara mau sama aku. Orang yang dulu pernah menyakitinya," kini dengan wajah sedih.
Ray pun menepuk - nepuk pundak saudaranya itu, "Benar kata Laras, dicoba tak mengapa, kalau gagal ya silahkan di coba lagi, lagi, dan lagi. Hingga kamu berkata aku bosan."
Hingga terbesit ide konyol di benak Ray. Dia pun manggut - manggutkan kepalanya kemudian tersenyum, Laras dan Antony hanya bisa saling menatap tanda "Ada apa dengannya".
Setelah mereka sibuk dengan pemikiran masing - masing. Antony pun mencairkan suasana.
"Hallo Nona kecil ... bolehkah aku menggendongmu?"
"Tentu boleh dong om, itung - itung belajar jadi Ayah di mulai dari sekarang dan belajar bagaimana cara menggendong bayi," ujar Ray menirukan suara Anak - anak dan memberikan Keyla yang kini ada dalam gendongan Ray.
"Hati - hati," ujar Laras.
"Oh ya kalian disini dulu, aku mau kebawah buatkan kalian minum dulu," ujar Laras yang kini sudah bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya keluar kamar.
Mami Yoel yang melihat Laras lewat, dia pun memanggilnya kemudian bertanya, "Laras di mana cucu oma?"
Laras pun menjawab, "Kayla ada di atas Mi, bersama Ray dan Antony."
"Mami dan Mama mau minum apa? Biar sekalian Laras buatin," tawar Laras kepada dua wanita paru baya itu.
"Air putih aja," ujar Mami Yoel singkat.
Laras pun pergi meninggalkan ruang tamu menuju dapur untuk menyiapkan minum untuk Mami Yoel dan Antony beserta orang - orang yang kini ada di rumah.
💓💓💓
Mari saling mendukung......
__ADS_1
Terima kasih....
💓💓💓