JATUH CINTA SENDIRIAN

JATUH CINTA SENDIRIAN
JCS 2. Bagian. 110.


__ADS_3

"Kadang manusia harus sampai kepada titik "KEHILANGAN" untuk mengerti arti sebuah kehadiran, kasih sayang, dan kesetiaan."


💓💓💓


Ketika mereka terdiam cukup lama, "Kamu jangan pergi kemana - mana lagi! Kamu lupa kalau sebentar lagi kita akan menikah?" tanya ku pada Dhaffin yang tak lain adalah Antony.


"Iya, aku akan disini bersamamu, dan tidak akan kemana - mana lagi."


Beberapa saat kemudian....


"Kamu, dan kalian semuanya ngapain disini?" tanya Ara seraya menatap wajah Antony dan yang lainnya.


"Sedari tadi kami semua sudah ada di sini," ujar Antony.


"Keluar kalian semuanya dari dalam kamarku!" usir Ara seraya mendorong tubuh Antony mengarah pintu kamarnya.


"Keluar...."


Mereka pun keluar dari dalam kamar Ara. Setelah mereka semua berada di luar.


"Maaf atas perbuatan Ara sama kalian semuanya, terutama untuk mu Inggit dan Yoel serta anak - anak, maafin Ara ya!" ujar Bunda Amira meminta maaf dengan tulus kepada Inggit dan Yoel.


Mama Inggitpun berjalan kearah Bunda Amira dan berdiri tak jauh dari Bunda Amira, "Sudah lah Mira, tidak apa - apa kami semua disini paham. Biarkan saja dulu Ara sendirian dia butuh waktu untuk menerima semunya. Aku tahu kalau ini akan sangat sulit baginya, kamu yang sabar jangan menyerah untuk selalu memberikan dia semangat dan dukungan," ujar Mama Inggit seraya menepuk -nepuk pundak Bunda Amira lalu kemudian memeluknya. Begitu pula dengan Mami Yoel melalukan hal yang sama dengan Mama Inggit.


"Ya sudah kalau begitu, kami pamit pulang," ujar Mami Yoel kemudian menjabat tangan Bunda Amira lalu cium pipi kanan kiri. Begitu pula dengan Mama Inggit melakukan hal yang sama dengan Mami Yoel, kemudian beralih ke Mama Ajeng.


"Bunda ... kami pamit pulang dulu, Assalamualaikum," ucap Fhani kemudian mencium punggung tangan Bunda Amira dan Mama Ajeng, dan diikuti Laras, Kevin, Ray dan Antony.


"Terima kasih ya, kalian sudah mau datang tengoki Ara," ujar Bunda Amira seraya mengantar tamu - tamunya sampai keteras rumah.


Setelah tiba di teras rumah.


"Mira kami permisi pulang dulu. Assalamualaikum," ujar Mama Inggit.


"Waalaikumsalam, hati - hati."


Kini mereka sudah pergi. Bunda Amira dan Mama Ajeng kembali masuk kedalam rumah.


Kini mereka duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Di atas Ara sedang apa ya?" tanya Mama Ajeng mengawali pembicaraan seraya menatap wajah Bunda Amira.


"Entahlah," jawab Bunda Amira singkat.


*****


Merelakan kepergian dengan ikhlas, "Titik terendah bukanlah titik terakhir."


******


Apa yang sudah terjadi tentu sudah menjadi takdir yang tak bisa di ubah. Meski luka yang di rasakan masih begitu perih dan menganga, Aku pun harus merelakan calon suamiku pergi untuk selama - lamanya.


Rencana untuk membangun rumah tangga, menggapai impian bersama - sama harus berakhirnya pupus.


Perlahan - lahan, wanita berhijab ini mencoba untuk tidak tenggelam dalam kesedihan dan berusaha ikhlas melanjutkan kehidupan meski rasanya tak lagi sama.


*****


***Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahami selalu dari sisi yang pergi. Bukan sisi yang di tinggalkan. Kalau kamu memaksakan diri memahaminya dari sisimu, maka kamu akan mengutuk Tuhan, hanya akan mengembalikan masa - masa gelap itu.


Cara mengikhlaskan terbaik adalah ketika kamu mengerti bahwa semua hal memang tidak bisa kita kembalikan, dan karena pergi tidak selalu diiringi dengan pamit maka hargailah setiap detik.


Titik terendah bukanlah titik terakhir. Semua orang akan pergi, hanya saja waktu yang berbeda. Dhaffin sudah bahagia di sana, tempatnya in sya Allah indah, terima kasih sudah membuat cerita hidup sehebat ini. Al fatihah untukmu sayang***.


*******


Aku berusaha memluknya dan menggenggam tangan nya, dia membalas pelukanku, dia mendekapku, kembali aku merasakan kenyamanan bersamanya, aku merasakan dia memberi ku kekuatan, ketegaran, dia membelai hijabku dengan penuh rasa sayang, tapi pelan - pelan dia melepaskanku, lalu menjauh dari ku, semakin jauh, jauh dan hilang dari penglihatanku.


Sesaat aku pun terbangun, aku menangis, aku menangis bukan karena sakit, tapi aku menangis karena hatiku yang teramat sangat sakit.


Sekarang dunia bagiku terasa kelam, hatiku seolah - olah tidak berhenti menangis, menangisi orang yang telah pergi untuk selama - lamanya, dia tidak akan pernah kembali lagi.


Tiba - tiba mataku tertuju pada buku yang ada di atas meja, aku baru ingat kalau itu adalah buku yang di berikan Dhaffin waktu pulang dari luar negri.


Aku pun mengambilnya dan membuka satu demi satu halaman buku itu, beberapa menit kemudian aku tenggelam dalam ceritanya. Aku menangis membaca buku itu, sekilas seolah - olah aku melihat wajah Dhaffin tersenyum di dalam buku itu.


Entah kenapa sekarang aku kembali merasakan kekuatan itu, kekuatan cinta yang di berikan Dhaffin, aku merasakan dia ada di dekatku, merangkulku, menenangkanku, aku dapat merasakan cinta dan sayangnya.


Dhaffin, aku sangat mencintaimu dan menyayangi kamu, aku yakin kamu bahagia di sana, walaupun kamu sudah pergi dari kehidupanku, tapi kamu tidak pernah pergi dari hatiku, kamu abadi untukku. Kepergianmu tidak pernah mengakhiri cinta ku.

__ADS_1


*******


Keesokan harinya.


Hari ini aku berencana untuk pergi kemakam Dhaffin. Setelah merapikan tempat tidurku, membersihkan tubuhku, aku pun segera keluar dari kamarku menuju lantai bawah.


"Bunda," panggilku seraya berberjalan mendekat ke arah dimana Bunda sedang duduk.


Sang Bunda pun menoleh keasal datangnya suara, "Ya ada apa sayang?" tanya sang Bunda seraya berdiri menatap ke arahku, "Kamu mau kemana sepagi ini sudah rapi?" tanya Bunda lagi.


"Ara mau ke makan Dhaffin," jawab singkat sang Anak.


"Mau, Bunda temani?" tawar sang Bunda.


seraya tersenyum walau kesan di paksa, "Tidak usah ... Ara pergi sendiri saja," ucap ku meyakinkan sang Bunda kalau aku baik - baik saja.


"Ya sudah, kamu hati - hati di jalan."


"Assalamualaikum," ucap Ara seraya meraih tangan sang Bunda lalu mencium punggung tangan Bundanya.


"Waalaikumsalam."


*****


Kini Ara sudah berada di dalam mobil dan siap melajukan mobil nya kejalan raya. Sesaat kemudian mobil Ara sudah melaju di jalan raya menuju pemakaman.


Sesaat kemudian...


Ara sudah berada di makaman Dhaffin. Aku menghadiahkan surat Yasin kepadanya karena kemarin adalah hari ulang tahunnya . Kutaburi makamnya dengan bunga yang ku beli tadi di tepi jalan raya. Kubacakan ayat demi ayat dari surat Yasin. Ku panjatkan do,a untuk nya. Ku cium batu nisannya. Dan ku ucap selamat ulang tahun sayang dan selamat jalan.


Semoga semua dosamu di ampuni oleh Allah, dan kamu bahagia di surga. Namamu akan selalu hidup di dalam hatiku, aku sayang kamu.


💓💓💓


Mari saling mendukung.....



__ADS_1


Terima kasih......


💓💓💓


__ADS_2