JATUH CINTA SENDIRIAN

JATUH CINTA SENDIRIAN
JCS 2. Bagian 105.


__ADS_3

Kini aku sudah memarkir mobil ku di tempat parkir. Aku pun keluar dari mobil dan berjalan ke meja di mana Dhaffin sudah menunggu ku disana.


Aku pun kesana dan mengahampirinya dan dia langsung mempersilahkan aku duduk. Aku duduk di depannya. Dia sudah memesankan aku makanan dan minuman.


Hari - hari yang ku jalani dengan bahagia bersamanya. Dia selalu menjagaku, selalu mengingatkan aku, menghiburku di saat aku sedih, memberikan aku semangat walau kadang dia menyebalkan, tapi aku menyukainya dan berusaha saling menerima segala kekurangan kami masing - masing.


"Kamu sudah lama datang?" tanya ku mengawali pembicaraan.


"Baru saja."


"Kenapa kamu belum ambil cuti sampai sekarang? Kamu kan punya anak buah yang akan menyelesaikan segala keperluan kita?" tanya ku seraya mengaduk - aduk minuman ku lalu meminumnya.


Dhaffinpun menatap wajah Ara, "Aku mau di hari istimewaku, aku yang merancang segalanya, aku ingin memberikan hasil yang terbaik untuk kita di hari special kita." ujar Dhaffin sambil menyuap makanannya kemulut dan sesekali menatap wajah wanita yang sekarang duduk di depannya, yang tidak lama lagi akan resmi menjadi istrinya.


Ara hanya mangguk - mangguk tanda mengerti walau sebenarnya ada pertanyaan yang bergejolak di dalam hatinya.


Tapi, ada juga rasa tersanjung mendengar penuturan Dhaffin yang ingin menampilkan yang terbaik, dan istimewa di hari bahagia mereka.


Setelah mereka lama terdiam dan sibuk dengan pemikiran mereka masing - masing, Dhaffin pun berkata, "Tadi kamu sama Bunda sudah pilih gaunnya?" tanya Dhaffin seraya menatap wanita yang ada di hadapannya sekarang.


"Sudah," jawab Ara singkat.


Kini mereka sudah menyelesaikan makan siang, dan segera kembali ke aktivitas masing - masing.


"Kamu hati - hati di jalan ya, sayang," ujar Dhaffin mengingatkan Ara sebelum mereka berpisah.


"Kamu juga hati - hati, jangan ngebut - ngebut."


"In sya Allah. Assalamualaikum," ucap Dhaffin seraya membuka lalu masuk kedalam mobilnya, kemudian melaju kejalan raya.


"Waalaikumsalam," jawab Ara seraya melakukan hal yang sama dengan Dhaffin.


Hari - hari yang kami lewati penuh dengan canda tawa. Bahagia itu sederhana, sesederhana hari - hari yang kita lalui bersama, dilingkupi tawa, yang berbalut dalam rasa,semesta cinta.


*****

__ADS_1


Kini Ray dan Laras sudah tiba di Indonesia, dan segera mencari mobil untuk membawanya pulang segera kerumah.


Sesaat kemudian kini mereka sudah berada di dalam mobil, tidak ada percakapan di antara mereka, mungkin mereka lelah dari perjalanan jauh hingga akhirnya mereka pun tertidur.


*****


Kini sore sudah berganti malam. Keluarga Pak Abdul, Ayah Zahra kini sedang makan malam bersama, tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya dentingan sendok yang menemani makan malam mereka.


Kecanggungan demi kecanggungan sangat nampak jelas disana, entah apa yang ada di pemikiran mereka saat ini.


Kini Antony sudah menyelesaikan makan malamnya lebih dulu.


"Kok sedikit makannya?" tanya Ayah mertua basa basi seraya menatap wajah menantunya itu.


Antony pun menoleh ke Ayah mertuanya kemudian berucap, "Antony sudah kenyang Yah."


Katika mereka sudah menyelesaikan makan malam, mereka pun kini berkumpul di ruang keluarga.


Mereka kini hanyut dalam susana hati masing - masing, hingga akhirnya sang Ayah mertua mencairkan suasana kecanggungan yang ada di antara mereka.


Mereka pun sontak menoleh ke arah Ayah yang sedari tadi diam, dan tiba - tiba saja bicara dan minta maaf.


"Ayah mau bicara apa?" tanya Zahra seraya mengerutkan kening tanda tak mengerti.


Hening sesaat, hanya bunyi jam dinding yang menemani keheningan malam mereka. Hingga akhirnya setelah cukup lama terdiam, sang Ayah pun melanjutkan kata - kata nya, seraya menatap wajah Antony, "Nak, jika memang itu keputusan mu. Apa pun itu Ayah ikhlas dari pada kalian hidup dalam satu atap tanpa cinta bukankah itu lebih sangat menyakitkan...." ujar Ayah mertua terputus.


Semua yang ada di dalam ruangan itu tiba - tiba tercengang dengan penuturan Pak Abdul.


"Maksud Ayah?" tanya Antony seraya mengerutkan kening.


Ayah pun menghembuskan nafas untuk membuang rasa sesak yang ada di dalam hatinya.


"Ayah tau, apa yang saat ini sedang kamu rasakan, dan jika itu memang sudah menjadi keputusan finalmu kalian tetap ingin bercerai dari putri Ayah, Ayah hanya bisa berkata semoga kamu tidak menyesal dengan keputusan mu itu," kini dengan mata berkaca - kaca memikirkan nasip sang putri yang tidak lama lagi akan menyandang status janda.


"Ayah...." panggil Zahra. Kemudian berpindah duduk, dan duduk di samping sang Ayah.

__ADS_1


Kemudian Pak Abdul kembali melanjutkan kata - kata nya, "Ayah sudah mendengar semua pembicaraan kalian tadi siang. Dan Ayah juga sudah bicara dengan Zahra, dan Zahra juga sudah menyetujui itu," ucap Ayah berbohong.


Mami Yoel dan Antony hanya bisa diam dan tercengang dengan penuturan besan dan mertua untuk Antony. Ada rasa penyesalan di dalam hati Mami Yoel, jika bukan karena dia yang memaksakan kehendak kepada Antony, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.


"Zahra ... Mami minta maaf, kalau bukan karena Mami mungkin semua ini tidak akan terjadi," ujar Mami Yoel yang kini dengan wajah sedih, dan menunduk menyesal jika mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.


Ini semua karena keegoisannya sebagai orang tua yang selalu menuntut untuk memenuhi segala ambisinya.


"Mami ... tak perlu menyalahkan diri sendiri, mungkin jodoh kami memang cukup sampai disini, dan Zahra sudah ikhlas untuk itu," ujar Zahra seraya berpindah duduk, dan kini sudah duduk di samping ibu mertuanya itu.


Mereka pun berpelukan dan menumpahkan segala beban di hati masing - masing dengan menangis ketika mulut tidak lagi mampu untuk berbicara.


Antony hanya bisa diam menyaksikan itu.


Hingga pada akhirnya, suara Ayah membawa mereka kembali kedunia nyata mereka.


"Ayah, akan mengurus segalanya," ujar Ayah kemudian berdiri dan berlalu pergi dari hadapan mereka semua.


Sebenarnya ada rasa sedih di dalam hati sang Ayah, tapi tidak banyak yang bisa Pak Abdul lakukan untuk tetap mempertahankaan hubungan rumah tangga sang Anak yang baru beberapa bulan terjalin. Karena di sini yang lebih berperan adalah Zahra dan Antony. Karena ini adalah rumah tangga mereka.


Zahra


Aku hanya tersenyum, itu caraku menghiasi luka. Aku hanya tertawa, itu caraku bersembunyi. Kamu datang saat hati ini hampa, dan kamu pergi saat hati ini penuh olehmu.


Tak pernah ada kata menyesal untuk mencintamu. Namun, yang paling aku sesalkan adalah hubungan kita yang tak pernah bisa di lanjutkan. Maaf aku tak akan pernah melupakanmu, karena kamu pernah mengisi hari - hari indah ku.


💖💖💖


Teman - teman mari saling mendukung...


Terima kasih....



💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2