
"Sepertinya kamu sangat menyukai bayi Laras? Dari tadi aku perhatikan kamu sangat sibuk dan asyik sendiri dengan tu bocah, ha ... ha ... ha ...."
Krik....
Krik....
Krik....
Kini aku termenung dengan kata - kata Reza, dan mengingat kejadian kemarin. Kejadian dimana aku sudah tak ingin untuk mengingatnya, kejadian dimana aku sudah tidak ingin untuk mengenangnya.
Mungkin berbahagia dengannya hanya seperti mimpi, tapi biarlah mimpi ini tersusun rapi menemani di setiap langkah ku.
"Apakah kamu baik - baik saja?" tanya Reza membuyarkan lamunanku. Aku pun memalingkan wajah ku ka arah yang lain. Lalu berucap, "Bisa tidak? Tidak mengganggku?"
"Yang mengganggu kamu siapa?"
"Bisa tidak jangan mengganggu aku, atau bisa tidak kamu pindah dari hadapanku! Setidak nya kamu gabung dengan Ray dan yang lain di sana! Aku hanya ingian berdua dengan Keyla. Kamu di sini hanya merusak mood dan pemandanganku saja," ujar Ara yang kini kembali sibuk dengan dunianya bersama keyla.
Reza pun kembali berkata, "Kamu jangan lupa yang ada di gendonganmu sekarang adalah keponakanku," ujar Reza menekankan kata - kata keponakan.
Ara pun menoleh kebelakang dengan ekspresi datar kemudian berucap, "Kalau dia ponakanmu lantas kamu mau apa? Toh cuman sebatas ponakan. Bukan anakmu."
Mereka yang sedari tadi memperhatikan itu, dengan senyum Ray pun berkomentar, "Mereka cocok ya? Satu ganteng dan satu nya cantik?" ujar Ray meminta pendapat seraya menatap wajah mereka satu - satu.
Mereka pun sontak menatap wajah Ray dengan penuh tanda tanya. "Kalau dilihat sepintas sih iya memang mereka cocok pake banget," ujar Fhani berpendapat seraya menatap punggung Ara dan Reza yang tak jauh dari mereka.
"Iya, aku juga setuju dengan pendapat Fhani," ujar Kevin meiyakan seraya mangguk - manggukkan kepalanya.
Ada seseorang yang merasa sedang terpojokkan dengan situasi yang tidak sama sekali menguntungkan buatnya untuk saat ini. Andai kata orang itu bisa menghilang sejenak dari hadapan mereka saat itu juga, mungkin itu lah pilihan yang tepat buat nya.
"Antony, bagaimana menurutmu?" kini Laras yang bertanya seraya menatap wajah lawan bicaranya. Antony gugup dan tak tau harus menjawab apa, karena hatinya saat ini benar - benar sedang tidak bersahabat akibat pemandangan yang tidak ingin di lihatnya.
Tapi, bagaimana pun juga dia harus menjawab pertanyaan Laras, dengan sedikit gugup dia pun berkata, "Aku sependapat dengan kalian," ucapnya seperti tidak merelakan dengan ucapannya sendiri.
"Bagus," ucap Ray dalam hati.
Dia harus sadar diri karena, dia bukanlah siapa - siapa lagi untuk Ara. Ara berhak bahagia dengan pilihan nya.
Hari sudah beranjak siang.
Mereka kini sudah pulang kerumah masing - masing.
Saat ini aku sudah berada di kamar, sedang beristirahat sambil merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku.
..."Ting...." bunyi notifikasi pesan....
...- "Siang cantik."...
...Ara...
...- "Siang."...
__ADS_1
...- "Lagi ngapain?"...
...Ara...
...- "Menurutmu aku harus ngapain disiang hari ini?"...
...- "Menurutku, sebaiknya kamu mikirin aku aja. Bagaimana?"...
...Ara...
...- "Tidak penting, aku mikirin orang kayak kamu. Orang tidak jelas."...
...- "Tidak jelas gimana?"...
...Krik.........
...Krik.........
...Krik.........
...- "Apakah masih ada orang?"...
...Krik........
...Krik.........
...Krik.........
...- "Setiap melihat senyumanmu aku dapat meraskan hangatnya matahari. Setiap melihat mu tertawa aku melihat indahnya bintang."...
...Krik........
...Krik.........
...Krik.........
Ara memilih mengabaikan pesan itu, hingga akhirnya dia pun bertidur.
...*************...
Di rumah Mami Yoel.
Sejak pulang dari rumah Mama Inggit sepertinya Antony sedang tidak baik - baik saja.
Semenjak mereka pulang dari rumah Mama Inggit juga Antony langsung menuju kamarnya tanpa berucap sepatah kata pun.
Barang kali ini ada hubunganya dengan Ara dengan Pria yang selalu dekat dengan Ara sewaktu di rumah Mama Inggit.
"Aku harus cari tau siapa dia sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan Ara?" gumam Mami Yoel dalam hati.
...***********...
__ADS_1
Di kamar.
Antony sedang rebahan di sofa panjang yang ada di dalam kamarnya. Kejadian - kejadian yang terjadi di rumah Mama Inggit kini sedang mengahantuinya.
"Apa hubungan Ara dengan pria yang aku lihat di rumah Mama Inggit," tanya pada diri sendiri.
"Tapi, kenapa juga harus tahu. Bukankah aku dan Ara hanya sebatas teman tidak lebih. Lagi pula mana mungkin Ara kembali mencintai ku dan menyukai setelah apa yang dulu ku perbuat padanya." ucapnya kemudian.
Karena kelelahan dia pun akhirnya tertidur.
Kini hari sudah beranjak sore. Di tempat yang berbeda Ara dan Antony sudah sama - sama bangun dari tidurnya.
Arapun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya, kemudian menuju kamar mandi. Begitu pula dengan Antony.
Beberapa saat kemudian kini Ara sudah menyelesaikan mandinya. Aku pun segera melangkah kelemari untuk mengambil pakaianku, setelah mendapatkan nya aku pun segera memakainya.
Setelah semua beres mulai berpakaian dan berdandan, "Jalan - jalan sebentar ah...." ucapku dalam hati.
Beberapa saat kemudian, kini Ara sudah berada di pantai.
Melukismu saat senja. Memanggil namamu keujung dunia. Tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku selain hatiku dan ombak berderu.
"Ara." Panggilan itu membuyarkan lamunanku, aku pun menoleh keasal datangnya suara.
Disana sudah berdiri 2 laki - laki yang kukenal. Tapi, Antony memilih untuk berbalik lalu kemudian melangkah pergi.
Reza pun berjalan mendekat. Setelah dekat dia pun bertanya, "Ngapain kamu disini?"
Arapun menjawab, "Menurutmu aku disini mau ngapain?"
"Kenapa dia pergi?" tanya Ara dalam hati.
Karena mereka cukup lama terdiam, "Aku pulang dulu ya?" Ara pun berbalik dan hendak melangkah pergi. Tapi belum jauh Ara melangkah, "Tunggu." Ara pun menoleh keasal datangnya suara. "Ada apa?" Reza pun berjalan kearah Ara, "Bolehkah kita mengenal lebih jauh?". Namun Ara hanya diam.
"Kita sudah mengenal selama beberapa hari, tapi aku belum tau namamu?" ucap Reza kemudian.
Dengan jawaban datar dan tanpa ekspresi, "Ara."
"Reza."
"Baiklah aku pulang dulu."
Pada saat Ara mau keparkiran, di saat yang bersamaan Antony juga baru tiba di sana. Dan dia memarkir mobilnya di dekat mobilku. Aku pun tersenyum padanya, tapi dia cuek saja dan segera masuk kedalam mobilnya, dia pun segera memacu mobilnya kejalan raya.
Reza yang menyaksikan itu dari jauh, "Bagus," seraya tersenyum lalu memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celananya.
...💖💖💖...
...Mari saling mendukung...
__ADS_1
...Terima kasih...
...💖💖💖...