
Hening sejenak setelah air mata bunda Amira berhenti, dia pun menoleh ke arah Kirana lalu berjalan ke arah Kirana untuk memohon.
Bunda Amira seraya menangkupkan kedua tangannya didada, "Kirana tolong, tolong selamatkan Ara, cuma kamu yang bisa menolongnya." kini dengan tubuh meluruh kelantai dengan air mata yang kembali menetes di pipinya.
Kirana melangkah mundur, "Tante apa - apaan sih, sudah ayo berdiri."
"Saya tidak akan berdiri sebelum kamu berkata iya." ujar bunda Amira.
Kirana pun berjalan maju lalu menunduk untuk membantu Bunda Amira berdiri. Dengan berat hati Kirana pun menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian berucap, Kirana "Baiklah Kirana akan bantu Ara. Sudah tante ayo berdiri!"
Bunda Amira pun mengangkat wajahnya kemudian berucap, "Serius kamu akan menolong Ara."
"Serius tante, ayo berdiri." ujar Kirana menyakinkan.
Bunda Amira pun berdiri dan memeluk Kirana. Setelah itu Kirana pun kedokter yang menangani Ara yang sedari tadi berdiri di ambang pintu menyaksikan kisah harus di antara mereka itu.
__ADS_1
"Saya siap dok, jadi pendonor untuk Ara." ujar kirana.
"Ya sudah nanti akan ada suster yang akan mengarahkan, dan membantumu untuk melakukan serangkaian evaluasi sebelum operasi itu di adakan." Dokter itu pun pergi berlalu pergi dari hadapan mereka semua.
Ray berjalan kearah Kirana, "Terima kasih Kirana kebaikanmu tidak akan pernah aku lupakan."
Sesaat kemudian suster pun datang menjemput Kirana.
"Ayo ikut saya!" ajak suster pada Kirana.
"Terima kasih Amira karena kamu sudah merawat, dan menjaga Ara dengan baik selama ini, dan maaf karena gara - gara Kirana, Ara harus mengalami hal seperti ini. Aku harus banyak belajar dari kamu bagaimana mendidik anak agar kelakukannya tidak seperti Kirana." mama Ajeng.
"Sudah lah jeng jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, kamu seperti ini kan juga untuk dia walau sebenarnya dalam hal ini bukanlah harta yang terlalu dia perlukan, dia hanya perlu perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya." ujar bunda Amira.
Mama Ajeng seraya memegang tangan bunda Amira, "Sekali lagi terimakasih Amira. Jika bukan karena aku terlalu gila harta mungkin semua ini tidak akan terjadi. Aku yang membuat anak - anak ku menjadi seperti sekarang ini, aku memang ibu yang egois dan tak berguna untuk anak - anak ku."
__ADS_1
"Sudah lah jeng jangan terlalu meyalahkan diri sendiri. Ini bukan salah kamu, bukan salah Kirana bukan salah siapa - siapa. Keadaan lah yang membuat kalian hidup seperti ini, keadaan yang memaksakan kalian untuk terpisah lantaran tugas yang tidak bisa di tinggalkan. Jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri karena ibu manapun tidak akan ada yang mau dan rela melihat anak - anaknya hidup miskin, melarat dan menderita. Mungkin cara mu sajalah yang salah dalam menunjukan kasih sayang itu kepada Kirana hingga terbentuklah karakter seperti sekarang." ujar bunda Amira panjang lebar menasehi mantan madunya itu.
"Terima kasih Amira, terima kasih." ujar mama Ajeng seraya memeluk Bunda Amira.
Sesaat kemudian dokterpun datang memberitahukan kalau operasi akan segera di laksanakan. Kini Ara sudah didorong keluar dari kamarnya oleh suster, dan siap menuju ruang operasi. Kini mereka semua sudah berada di depan ruang operasi.
Dokter sebelum masuk keruang operasi, "Banyak - banyaklah berdoa semoga pendonor dan penerima bisa semua di selamatkan dan operasi dilaksanakan paling lama 12 jam paling cepat 6 jam tergantung si penerima."
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dok!" ujar bunda Amira.
"Iya bu kami akan melakukan yang terbaik yang kami bisa. Mohon do,a nya." ujar dokter menenangkan setelah itu dokterpun masuk kedalam ruang operasi dan mulai melakukan tugasnya.
💖💖💖
Maaf kata - katanya bertele -tela. Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like, vote, komen dan beri rate 5 ya. Terima kasih.
__ADS_1
💖💖💖