
Lantas hari - hari melesat cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh menjadi dewasa, besar. Mulai menemui pahit kehidupan. Maka disalah satu hari itu, kita tiba - tiba terguguh sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam sesak, tersungkur luka, berharap hari segera berlalu. Hari - hari buruk mulai datang. Dan kita tidak pernah tahu kapan dia akan tiba mengetuk pintu. Kemarin kita masih tertawa, untuk besok lusa tergugu menangs, kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari - hari menyakitkan.
Lupakan saja yang telah berlalu. Hidup terus berjalan, siapa yaang dapat membuatmu bahagia, itulah yang pantas kamu pertahankan. Dalam hal perasaan yang pernah kurasakan padamu, kamu memang sebaiknya kukenang sebagai luka, lalu ku biarkan berlalu. Membuka lembaran baru, lepaskan, biarkanlah berlalu. Hari kemarin telah berlalu. Tidak akan datang lagi. Jangan katakan seharusnya melakukan sesuatu. Menjadi diri yang baru, lepaskan beban. Hari ini adalah hari baru. Yang dulu biarlah berlalu. Sekarang ini dan esok adalah masa depan. Apapun yang datang padamu, itu pasti sudah kehendak tuhan.
💖💖💖💖
Beberapa bulan kemudian.
Hidup adalah pilihan. Malam telah berganti pagi. Udara malam yang sangat dingin telah terkikis halus oleh nampaknya matahari pagi. Kian membangunkan ku dalam keterpurukan, memberikan harapan untuk tetap hidup di hari ini.
Kini aku sudah siap untuk memuali aktivitasku di hari ini. Aku segera melanglahkan kakiku ke bawah untuk menemui Bundaku.
"Pagi Bunda," sapaku pada bunda setelah berada di bawah.
"Pagi sayang. Sudah mau berangkat kerja?" Tidak sarapan dulu?"
"Bunda, nanya itu satu - satu, Ara bingung mau jawaab mana lebih dulu."
Sambil menatap jam tangan dipergelangan tangan kirinya, "Bun, Ara berangkat kerja dulu, Bunda hati - hati dirumah. Assalamualaikum."
"Tunggu ... kamu tidak sarapan dulu?"
"Tidak usah Bun, Ara sarapan direstoran saja. Ara pamit berangkat kerja dulu. Assalamualaikum," ujarku sambil melangkahkaan kakiku kearah bunda lalu meraih tangan lalu mencium punggung tanga Bunda.
"Waalaikumsalam. Hati - hati dijalan!"
Kini aku sudah dimobil dan siap melajukan mobilku kejalan raya. Tidak butuh waktu lama kini aku sudah tiba di halaman restoranku. Aku pun segera memarkirkan mobilku di tempat parkir dan segera turun dari mobil. Segera kulangkahkan kakiku masuk kedalam restoran. Suasana masih pagi karyawan yang datang baru ada beberapa orang. Mereka sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing - masing.
Kini aku sudah berada di ruanganku, kududukan tubuhku di kursi kebesaranku. Beberapa jam kemudian.
Tok ... tok ... tok ... ( Suara pintu di ketuk ).
"Masuk," suara dari dalam.
"Ceklek," suara pintu terbuka.
__ADS_1
"Maaf Bu, ada tamu di bawah yang ingin ketemua Ibu," ujar Mala salah satu karyawan restoran Bunda.
"Siapa Mala?" tanya ku padanya.
"Satu wanita paruh baya, satu pria dan ada satu wanita muda, saya kurang tau siapa mereka Bu."
"Baiklah saya akan menemui mereka, silahkan balik bekerja!"
"Baik Bu."
"Siapa sih yang mencari aku, tidak mungkin Dhaffin dan Bunda kan yang nyari aku kan sekarang Dhaffin lagi diluar negri 1minggu kedepan baru pulang," gumam ku dalam hati.
Karena penasaran aku pun berdiri, lalu berjalan keluar dari ruanganku menuju lantai bawah. Setelah tiba di bawah aku pun kaget ternyata yang datang adalah Antony, mami dan satu wanita muda yang tak kukenal, mungkin itu adalah wanita pilihan sang mami.
Akupun berjalan kearah mereka dan sebisa mungkin bersikap biasa - biasa saja. Setelah berada di dekat mereka, "Assalamualaikum, Mami," sapa ku seraya meraih tangan mami untuk menciumnya.
"Waalaikumsalam," ujar Mami, Antony dan satu wanita lagi bersamaan.
"Apa kabar mami, kapan datang sudah lama kita tak berjumapa," tanya ku pada Mami Yoelitta.
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, silahkan duduk!" ujar mami Yoelitta.
"Begini Ra, kedatangan kami disini mau memberikan ini," seraya menyodorkan undangan kepadaku.
"Datangan ya! ajak Bundamu dan seluruh karyawanmu," ujar mami Yoelitta lagi.
Sejenak ku pandangi undangan itu, ada rasa yang tak biasa yang kurasakan saat ini, tapi sebisa mungkin aku menguasai diriku di hadapan mereka, aku tidak boleh lemah di hadapan mereka.
"In sya Allah, Ara pasti datang tante," ujarku kemudian yang kini sedang menahan tangis.
Walaupun kini aku sudah berdua dengan yang lain, tapi hatiku masih belum sepenuhnya berasama dia, karena jauh dilubuk hatiku masih terukir namamu, nama yang sempat dulu mengisi hari - hariku.
"Ara apa kamu baik - baik saja?" tepukan lembut di bahuku menyadarkan aku dari lamunanku.
"Iya tante Ara baik - baik saja," ucapku kemudian.
__ADS_1
"Oh iya Ara perkenalkan wanita di samping Antony itu adalah calon istrinya," ujar mami Yoelitta lagi.
"Senang berjumpa denganmu, namaku Ara" ucapku seraya menyodorkan tanganku untuk berjabat tangan.
Wanita itupun menyambut uluran tanganku lalu berucap, "Senang berjumpa denganmu perkenalkan namaku Zahra."
"Selamat ya Antony," ucapku seraya menatap Antony, orang yang selama ini aku rindukan tapi ternyata jodoh belum berpihak kepada kami.
"Terima masih Ara, datang ya di acara kami," ucapnya kemudian.
"Ya sudah kami pulang dulu, mau mencek segala persiapan buat pernikahan Antony dan Zahra beberapa hari kedepan," ujar mami seraya berdiri dan diikuti Zahra dan Antony.
"Baiklah tante hati - hati dijalan," ucapku seraya berdiri dan mencium punggung tangan tante Yoelitta.
"Mungkin kebahagian bersamamu hanyalah seperti mimpi, tapi biarlah mimpi itu tersusun rapi menemani ku di setiap tidurku," ujar ku dalam hati.
Kopi sempurna karena rasa pahitnya, demikian pula cinta. Biarkan saja berjuat kata terangkai dalam benak yang masih tak berani menampakkan didepanmu. Namun tanpa kusadari ternyata pikiranku telah jauh menguasai hingga berharap bisa bersanding denganmu. Aku hanyalah setitik cahaya yang tak ada artinya dalam gemerlap diluar sana. Namun jika malam gelap mendekapmu, aku akan jadi mentarimu.
Aku pernah berfikir untuk menghilang saja dari dunia ini. Dunia ini terlihat begitu gelap dan aku menangis sepanjang hari. Apakah aku akan merasa lebih baik jika aku menghilang?
Ketika tiba di sebuah persimpangan dan harus memilih jalan yang di lalui. Terkadang, rasanya seperti berjalan di atas bebatuan tanpa alas kaki, berlarian di tempat yang sama. Jatuh hati mengajarkan aku bagaimana memberanikan diri. Juga bagaimana menjadi sabar saat kamu tinggalkan sendiri dengan pilihan orang tuamu.
"Huffffffff," kuhembuskan nafasku secara kasar. "Aku telah belajar sekarang bahwa sementara mereka yang berbicara tentang kesengsaraan seseorang biasanya terluka, mereka yang berdiam diri lebih terluka."
"Mala, ada apa dengan Ara? Dan ngapain dia disana duduk sendirian?" tanya Fhani pada Mala.
"Kurang tau mbak tapi tadi ada tamu untuk Bu Ara. Satu laki - laki, satu wanita paruh baya dan satu wanita sebaya dengan Bu Ara," terang Mala.
"Siapa mereka Mala?" tanya Fhani pada Mala.
"Kurang tau mbak, aku juga baru bertemu dengan mereka hari ini dan ini baru yang pertama kali," ujar Mala.
"Ya sudah silahkan balik bekerja!" perintah Fhani pada Mala.
💖💖💖
__ADS_1
Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like, vote, komen dan jangan lupa jika kalian suka rate lima ya. Terima kasih....
💖💖💖