JATUH CINTA SENDIRIAN

JATUH CINTA SENDIRIAN
JCS 2. Bagian 96


__ADS_3

Kini Ara sudah berada di kamarnya dan sudah menyelesaikan acara mandinya. Kini aku sedang duduk di taman belakang rumah sambil menikmati suasana senja. Senja mengajarkan kita bahwa apapun yang terjadi hari ini pasti akan berakhir indah.


Di dalam dekapan sang senja, diriku mengharapkan sebuah asa, yang dapat membuat semesta yang fana menjadi semesta yang pernuh warna.


"Ara apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya sang Bunda ketika tak sengaja melihat putrinya itu duduk termenung di kursi taman belakang rumah.


Aku pun menoleh keasal datangnya suara.


"Eh Bunda."


"Kamu kenapa?" tanya Bunda.


"Tidak apa - apa," jawab ku singkat.


"Dari pada kamu duduk bengong disini, bagaimana kalau kita jalan - jalan ke taman komplek sekitar sini!" tawar Bunda.


"Ayo."


Kami pun pergi jalan - jalan ke taman komplek.


"Kita duduk disini saja ya," ujar Bunda ketika kami sudah tiba di taman dan duduk di salah satu kursi panjang yang ada di sana.


"Kita mau ngapain kesini Bund?"


"Untuk membuang sejenak kegalauan yang ada di dalam dirimu," ujar Bunda seraya menatap wajah putrinyaa itu.


"Siapa yang galau Bun," sangkal Ara.


"Oh...."

__ADS_1


Disini aku duduk. Di bawah dinginnya senja menghampiri. Merasakan goresan - goresan luka, mengingat kembali rangkaian - rangkaian kata. Mungkin aku telah bisa melupakanmu, tapi tidak dengan rasa sakit yang kamu beri untukku.


"Mari kita pulang, sebentar lagi azan maghrib," ajak sang Bunda.


Mereka pun pergi meninggalkan taman dan kembali pulang kerumah.


💖💖💖


Kini mereka sudah menyelesaikan makan malam, sekarang mereka sedang berkumpul diruang keluarga.


"Antony kapan mami di kasih cucu?" tanya sang mami mengawali pembicaraan.


Zahra yang sedang meminum teh hangat, tiba - tiba tersedak, "Sayang minumnya pelan - pelan," ujar ibu mertuanya itu.


"Bagaimana bisa hamil, tidur berdua aja tidak pernah," ujar Zahra dalam hati seraya menatap wajah suaminya itu.


"Sabar mi, kami lagi usaha kok untuk segera memberikan kalian cucu," jawab Antony berbohong.


"Cepatan dong, mami dah tidak sabaran nih pingin segera gendong cucu."


"Iya mi, Antony juga sedang tidak sabaran ingin segera punya anak, iya kan sayang," ujar Antony seraya menatap wajah istrinya itu.


"Iya Mi, sabar semua butuh proses," ujar Zahra menimpali.


Didepan Mami dan Ayah mertuanya, mereka akan terlihat baik - baik saja, dan tidak segan - segan mengumbar kemesraan untuk menutupi drama yang sedang mereka mainkan. Agar terlihat pasangan sempurna.


"Mi, Antony kekamar dulu ya istirahat," ujar Antony kemudian seraya berdiri dan berlalu dari hadapan sang mami dan Ayah mertua.


"Zahra juga pamit kekamar dulu ya," seraya berdiri dan menyusul suaminya kekamar.

__ADS_1


Setelah mereka sama - sama di kamar, Zahra mendapati Antony sedang duduk termenung di sofa yang ada di kamar itu. Dia pun berjalan mendekat kearah dimana suaminya berada.


"Kamu kenapa?" tanya Zahra ketika sudah duduk di samping suaminya.


Antony pun menoleh keasal datang nya suara kemudian berucap, "Maafkan aku, maaf kan aku karena belum bisa menunaikan kewajibanku sebagai suami yang baik untukmu. Maafkan aku, aku harus jujur sama kamu, kalau aku sama sekali tidak pernah menyukai kamu. Aku sudah berusaha menyukai kamu tapi tetap tidak bisa. Aku tahu kalau ini akan menyakiti kamu tapi, dengan kita tinggal satu rumah begini, membuat kita akan saling menyakiti lebih lama lagi."


"Benarkah, tidak ada ruang sedikit saja di hati kamu untuk ku walau itu hanya seujung kukumu," ujar Zahra yang kini menahan tangis.


"Coba tanyakan pada dirimu, apakah pantas memberi sikap seperti itu ke aku?"


"Aku sudah berusaha melupakannya, tapi semakin aku berusaha, semakin rasa cinta ku untuknya semakin bertambah besar."


"Kamu cantik, pasti di luar sana banyak pria yang tertarik denganmu."


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Zahra.


"Sebaiknya kamu pergi tidur sekarang," perintah Antony pada Zahra.


Zahra pun berdiri dan melangkahkan kaki nya kearah tempat tidurnya.


"Aku sedang mencari cinta untuk kebahagiaan, apabila hanya kekecewaan yang aku dapatkan untuk apa aku bertahan?" kini dengan derai air mata.


"Andai kata aku tak pernah bertemu dengan mu, mungkin aku tidak perlu merasa terbang terlalu jauh dan jatuh pun tidak terlalu keras."


Saat kita kehilangan orang yang kita cintai, air mata yang jatuh memanggil kenangan tentang waktu di saat kita saling mencintai, yang selalu rasa kurang.


💖💖💖


Maaf bertele - tele.....

__ADS_1


💖💖💖


__ADS_2