
Kini Ara dan Bunda Amira sudah di dalam mobil, dan Ara mengemudi mobil di atas kecepatan rata - rata.
Sanak saudara Bunda Amira yang saat ini berada di rumahnya hanya bisa bertanya - tanya, "Ada apa dengan Ara dan Bunda Amira" karena mereka ditanya tidak ada yang menjawab. Malahan mereka pergi dalam keadaan menangis.
Kini mobil Ara sudah masuk ke halaman rumah Dhaffin. Setelah mobil terparkir Aku pun segera turun. Ternyata sudah banyak orang yang datang untuk takziah. Aku pun pingsan dan di gendong oleh orang - orang yang sementara ada di luar dan di bawa keteras rumah Dhaffin.
Clarissa ade angkat Dhaffin yang melihat ada keributan diteras rumah itu pun keluar dan melihat keributan apa yang sedang terjadi di sana. Setelah dia mengetahui apa permasalahannya, dia pun membantu Bunda untuk menyadarkan ku.
Saat aku tersadar, aku baru ingat ajakan Dhaffin yang kemarin yang aku tolak. Sebenarnya aku sudah berencana akan mengganti ajakan Dhaffin yang kemarin dengan hari yang lain setelah menikah.
Yaitu tepat di hari ulang tahun dan aku akan memberikan kejutan. Aku sangat menyesalinya, karena aku tak bisa bersamanya lagi.
Saat jenazah sudah datang, aku menangis dan akhirnya aku pingsan lagi. Saat aku siuman, aku melihat satu - satunya pria yang aku sayangi sudah terbujur kaku di ruang tamu.
Bunda pun berusaha menegarkan ku. Ini semua di luar kehendak manusia.
"Kamu yang sabar sayang, jangan nangis terus, andai kata Dhaffin masih ada pasti dia akan sedih melihat wanita yang beberapa jam lagi akan dinikahinya menangis," ujar Bunda Tamara menenangkan ku. Kenapa Tuhan begitu cepat mengambilnya, padahal sebentar lagi kami akan menjadi orang yang berbahagia dan menjadi raja dan ratu walau hanya sehari.
"Hiks ... hiks ... hiks ...." seraya memeluk Bunda Tamara.
"Sabar sayang, sabar," ujar Bundaku mengusap bahuku.
Aku melihat semua keluarganya menangisi kepergian Dhaffin. Di mata keluarga, Dhaffin dikenal sebagai anak yang baik, jujur dan giat bekerja.
Clarissa adik angkat Dhaffin juga menangis dan hampir jatuh pingsan. Clarissa sangat sayang pada kakaknya. Karena kakaknya itu sangat baik dan sayang padanya.
Clarissa tidak percaya kalau sang kakak yang disayang telah pergi lebih awal dalam sebuah insiden tabrak lari. Padahal kemarin mereka masih sempat bercanda bersama.
Aku langsung pergi melihat jenazah Dhaffin. Aku ingin melihat wajah Dhaffin untuk yang terakhir kalinya. Aku buka jarik yang menutupi wajahnya, perlahan kubelai rambut hitamnya, dan kucium keningnya yang agak retak di sebelah kanan. Ku lihat dia agak tersenyum. Kuucap selamat jalan sayang.
Ara, "Hidup ini seperti buku. Cover depan adalah tanggal lahir, cover belakang adalah tanggal kematian. Tiap lembar adalah adalah hari - hari dalam hidup kita. Kematian adalah kehidupan dialah jantung keabadian dan keburukkan, kebahagiaan dan penderitaan."
Kini jenazahnya sudah di sholatkan, dan liang lahat sudah di gali, jenazah Dhaffin segera di berangkatkan kepemakaman. Aku dan Bunda juga ikut kepemakaman. Setelah sampai disana, perlahan - lahan jenazah Dhaffin di turunkan keliang lahat.
Lalu di hadapkan kekiblat dan diazani oleh Ayahnya. Lalu perlahan tanah di tutupkan ke liang lahat. Di pasang batu nisan yang bertuliskan nama, tanggal lahir, dan tanggal wafat dan di beri kembang mayang karena Dhaffin belum menikah.
Satu persatu warga kini sudah kerumah masing - masing. Aku masih disini di pemakaman bersama Bundaku. Aku memeluk batu nisan pria yang sangat aku sayangi dan ku doakan semoga dia bahagia disana.
__ADS_1
Aku tidak mau meneteskan air mata ku di atas pemakaman Dhaffin, karena aku takut jika tetesan air mataku akan membuatnya sengsara disana.
Hari - hari yang kujalani kini semua akan terasa sunyi, walau hampa pasti akan kuhadapi, tapi aku berusaha bersabar dan ikhlas.
"Sayang, ayo kita pulang...." ajak sang Bunda kepada putrinya.
Kini aku dan Bunda sudah berada di rumah. Aku masih belum percaya dengan kejadian hari ini, aku berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk dan berharap akan segera bangun dari mimpi buruk ini.
Pesta yang mewah, gaun nan indah kini hanya tinggal kenangan. Hari ini adalah hari bahagiaku, bahagia kami berdua. Tapi, Allah punya cara lain untuk mencintaiku lebih dari ini.
*****
Beberapa hari kemudian.
Beberapa hari ini aku tidak bisa tidur karena aku selalu ingat Dhaffin. Dimataku terlihat nyata senyum dan tawanya. Seakan - akan dia sekarang ada di depanku. Aku sangat rindu.
Kutitipkan rasa rinduku pada gemerlap bintang di langit. Bila memang harus berpisah, aku akan tetap setia. Bila memang ini ujungnya, kamu akan tetap di dalam jiwa.
"Sayang hari ini tanggal 23 November adalah hari ulang tahunmu, dan hari ini kamu genap berusia 27 tahun sayang. Aku tidak bisa memberimu hadiah berupa barang. Aku hanya bisa mendoakan mu. Aku masih tidak percaya, mengapa kamu meninggalkan aku secepat ini?? Aku kangen sama kamu dan aku ingin bertemu sama kamu. Tapi Allah berkata lain. Walaupun ragamu sudah tiada, tapi yakinlah kamu akan selalu ada disini, dihatiku. Walaupun tubuhmu sudah mati, tapi Aku yakin cinta kita berdua tidak akan pernah mati selamanya."
Kemarin jika kita saling merindu, kita bisa sama - sama sms. Namun sekarang hanya doa yang bisa aku panjatkan. Karena itu adalah satu - satu nya cara agar aku bisa memelukmu dari jauh. Aku akan selalu ingat nasehat darimu. Aku janji tidak akan lupa sholat, tidak akan telat makan, dan selalu jaga diri. Selamat ulang tahun sayang dan kuhadiahkan surat yasin untukmu. Aku sayang kamu selamanya.
*****
Pagi itu.
Ketika Mama Ajeng dan Bunda Amira mengobrol ringan di ruang tamu,
"Assalamualaikum," ucap orang dari balik pintu utama.
"Waalikumsalam," ucap Mama Ajeng menjawab salam seraya berjalan kearah pintu utama dan membuka pintu.
"Eh... kamu Inggit, Yoel, dan anak - anak, mari silahkan masuk!" ajak Mama Ajeng mempersilahkan tamunya masuk.
Mereka kini sudah duduk disofa ruang tamu.
"Amira maafkan aku karena, baru hari ini bisa kesini buat menjenguk Ara," ucap Mami Yoel mengawali pembicaraan setelah mereka semua lama terdiam.
__ADS_1
Bunda Amira pun tersenyum, "Tidak apa - apa, walaupun lambat tapi kan tetap datang juga. Oh ya Yul, mana mantumu?" tanya Bunda Amira setelah sadar kalau Mami Yoel datang tidak dengan menantunya.
Mami Yoel pun kikuk dan menjadi salah tingkah. Bunda Amira yang menyadari perubahan raut wajah Mami Yoel, "Tidak usah difikirkan," ucapnya kemudian mencairkan suasana.
Di ruang tamu Bunda Amira masih terpasang lengkap dekorasi pengantin yang di rencanakan untuk tempat akad nikah.
"Bunda ... kami bisa tidak menemui Ara?" ujar Fhani meminta persetujuan kepada Bunda Amira.
"Oh... bisa ... bisa ... mari kita kelantai dua," ajak Bunda Amira seraya berdiri dan berjalan lebih dulu di depan dari pada mereka semuanya.
Tok... tok... tok.... bunyi ketukan pintu ketika mereka sudah berada di lantai dua.
Tanpa aba - aba mereka pun masuk dan menghampiri Ara yang kini duduk dan meringkuk dengan tatapan kosong dan hampa hanya air yang menetes dari pipinya.
"Sayang ... ada Laras, Ray, Fhani, Kevin dan juga ada Antony," ujar Bunda seraya mengelus pundakku.
Saat mataku tertuju pada mereka, tiba - tiba penglihatanku berubah. Aku pun beridiri dan berjalan kearahnya, "Dhaffin Kamu dari mana saja aku sudah lama menunggumu disini," ucapku seraya memeluk tubuhnya dan tak ingin lepas dari nya.
Semua orang yang hadir di kamar itu hanya bisa tercengang dan menatap heran serta tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Kusandarkan kepalaku di dada bidangnya lalu kutumpahkan tangisku disana, "Kamu jangan pergi lagi, kamu jangan tinggalkan aku sendiri di sini, kalau kamu mau pergi bawa aku bersama mu?" ucapku di sela - sela tangisku.
Dia pun mengusap kepalaku, "Aku masih disini, aku tidak pernah pergi kemana - mana. Sudah kamu jangan menangis lagi tersenyumlah, kami semua ada di sini untuk memberikan kamu dukungan agar kamu dapat bangkit lagi dan melanjutkan hidupmu seperti kemarin - kemarin."
Aku pun mengangkat wajahku, melihat wajahnya, wajah yang masih sama dengan wajah yang kemarin yang selalu mengisi hari - hari ku dengan cinta, dan mengajarkan aku banyak hal tentang arti kehidupan dan apa saja. walau kadang aku harus bersabar dengan kebohongan - kebohongan yang dia perbuat.
💖💖💖
Tema - teman mari saling mendukung....
Terima kasih.....
💖💖💖
__ADS_1