
"Ayo, silahkan diminum!" ujar tante Yoelitta mempersilahkan tamunya untuk minum.
Mereka pun masing - masing meraih gelas yang ada di atas meja. Lalu kemudian meminumnya. Setelah minum dan meletakkan kembali gelas ke atas meja.
"Jadi ada keperluan apa Nak Ara kerumah tante?" ujar tante Yoel seraya membelai lembut tangan Ara.
Ara pun seakan tersentuh dengan perlakuan hangat tante Yoelitta hingga tak terasa bening - bening kristal kini jatuh satu persatu membasahi pipi mulusnya.
"Kok jadi nangis sih, sudah sini tante peluk." Ara dan tante Yoelitta pun kembali berpelukan. Setelah tenang dan saling melepas pelukan.
"Coba katakan sama tante ada angin apa membawa kamu sampai kerumah tante." ujar tante Yoell seraya menatap Ara dan dua wanita yang datang bersama Ara.
Dengan ragu Ara mengatakan maksud kedatangannya berkunjung kerumah tante Yoelitta.
"Sebenarnya ada yang ingin Ara tanyakan ke tante." ucap Ara seraya menatap wajah tante Yoelitta.
"Tentang." ucap tante Yoell seraya mengerutkan kening tanda tidak mengerti.
Dengan wajah lesu Ara berkata, "Ini mengenai Antony tante."
Suasana bahagia yang baru saja tercipta di antara mereka kini berubah menjadi hening tak ada satu pun diantara mereka yang bersuara hanya tatapan mata mereka yang saat ini saling berpandangan satu sama lain.
__ADS_1
Arapun berbicara setelah beberapa saat terdiam, "Tante, maksud Ara bukan seperti itu." seraya menggenggam tangan tante Yoelitta untuk mencairkan suasana yang kini benar - benar sungguh tidak mengenakkan.
"Tante tidak apa - apa." tanya Ara seraya mengangkat wajahnya.
"Tante tidak apa-apa." ujar tante Yoell.
"Yakin."
"Yakin, jadi kamu mau tau tentang apa mengenai Antony." ujar tante Yoelitta yang kini sudah santai seperti sebelumnya.
Walau sebenarnya Ara ragu tapi ini harus di pertanyakan agar rasa penasarannya terbayar tuntas.
"Tante, Apa Antony punya saudara kembar?" tanya Ara to the poin.
"Kenapa tante menangis?" tanya Ara seraya menghapus bening - bening kristal itu dengan jari - jari tangannya yang kini jatuh dan membasahi pipi tante Yoelitta.
"Pertanyaan mu itu mengingatkan tante pada kejadian lima belas tahun yang lalu. Dimana peristiwa itu mampu menghancurkan hati tante. Dalam waktu sehari mampu menyisakan rasa penyesalan seumur hidup." ucap tante Yoell yang kini dengan mata yang berkaca - kaca.
"Memangnya apa yang terjadi pada waktu itu." Fhani menimpali seraya memperbaiki posisi duduknya.
Tante Yoelitta, "waktu itu."
__ADS_1
Kilas Balik
Seorang wanita muda dan dua anak laki-laki kira - kira usia lima tahun kini sedang duduk di terminal bus.
"Mi, kita mau kemana sih?" tanya anak laki-laki dengan senyum mengembang di bibir dan menampilkan deretan gigi ompongnya yang tak lain adalah Antony.
Sambil merangkul kedua pundak Putra - putranya itu, mamipun berkata, "Kita kan mau ketempat nenek dikampung untuk menghabiskan hari libur sekolah kalian." sesekali mencium kepala anak laki - lakinya itu secara bergantian.
"Hore kita ketempat nenek liburan." bersorak dengan gembiranya sambil bertepuk tangan yang tak lain adalah Ray.
"Mi, Antony mau main bola dulu ya?" seraya berdiri dan meraih bola yang ada di bawah tempat duduk yang memang sengaja dia bawa dari rumah.
"Main nya jangan jauh - jauh ya sayang." pesan sang mami kepada antony.
Dari kursi yang tak jauh dari tempat mereka duduk ada sepasang mata diam - diam memperhatikan keakraban ibu dan anak itu .
"Sayang tunggu mami sebentar disini, dan jangan kemana - kemana, mami mau susul adekmu dulu kedalam." pesan sang mami seraya berdiri dan melangkah kan kakinya masuk kedalam ruangan ruang tunggu penumpang.
💖💖💖
Silahkan tinggalkan jejak like, vote, komen dan jangan lupa beri rate 5 dan jangan lupa follow profilku ya. terima kasih. Maaf bertele - tele .....
__ADS_1
💖💖💖