
"Ya, sudah tante kami permisi pulang dulu Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di dalam rumah.
Ara dan Fhani pun pergi meninggalkan rumah Mama Inggit. Tidak lama kemudian kini aku dan Fhani sudah melajukan mobil ku kejalan raya.
******
Kini Mama Inggit dan yang lainnya sudah berada di lantai dua.
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk."
Mereka pun langsung masuk kedalam kamar Laras.
"Cucu Nenek," ujar Mama Della seraya berjalan kearah di mana Keyla berada.
Laras yang terkejut melihat kedatangan sang Mama dan satu pria dewasa yang selama ini dia ketahui kalau manusia satu ini adalah manusia super duper sibuk dan jarang ada waktu untuk bersantai sejenak.
Laras pun menyapa, "Hallo abang apa kabar? Tumben kamu bisa ada di sini ( Indonesia )?"
Pria dewasa itupun berjalan kearah Laras kemudian berucap seraya mengacak - ngacak rambut Laras, "Adek, kakak sudah besar ya sekarang!! Dan makin pintar aja bicara."
"Abang apa - apaan sih ngacak rambut Laras," Laras protes dan memonyongkan bibirnya tanda tidak terima.
Setelah mereka berada beberapa jam di dalam kamar Laras dan Ray, "Antony, kita pulang yuk! Mungkin Laras, Ray dan dede cantik mau istirahat," ujar Mami Yoel yang kini sudah berdiri dari sofa yang ada di kamar Laras dan Ray.
"Apa tidak sebaiknya kita makan siang bersama, baru kalian pulang," ujar Mama Inggit yang kini ikut berdiri.
"Tidak usah Nggit, kami tadi sudah makan sebelum berangkat kesini."
"Ya sudah kalau begitu kamu, aku antar sampai kepintu depan."
Antony pun berdiri dari tempat duduknya setelah sang Mami berucap begitu.
"Sekali lagi selamat ya Ray dah jadi Ayah, dan kamu juga Laras selamat dah jadi Ibu," ujar Antony seraya berdiri dari duduknya serta menepuk - nepuk pundak saudaranya itu.
"Aku antar kamu sampai pintu depan deh," ujar Ray seraya turun dari ranjang lalu berjalan menyusul Antony yang kini sudah berada di balik pingu kamar.
Selepas mereka semua pergi, Mama Della pun berjalan kearah di mana Laras dan bayinya berada, "Laras Mama juga balik dulu ya," ujar Mama Della seraya duduk di samping putrinya. Laras pun menoleh keasal datang nya sudara kemudian berucap, "Mama tidak nginap disini?" sambil tetap pada aktivitasnya menidurkan bayinya yang berada di pangkuannya.
"Tidak usah Mama tidur di hotel saja."
"Mama tidur sini aja, ini rumah besar dan masih banyak kok kamar yang kosong."
__ADS_1
"Tidak usah, lain kali saja Mama nginap disini."
"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan Mama, Laras tidak bisa memaksa."
"Ya sudah Mama pulang dulu, besok Mama kembali," ujar Mama Della seraya mencium dahi putrinya lalu beralih mencium cucunya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati - hati di jalan," pesan Laras kepada Mamanya sebelum melangkah keluar kamar.
"In Sya Allah," jawab sang Mama.
Laras yang melihat sepupunya masih berada di dalam kamar, "Abang ngapain masih berada di sini?" tanya Laras ketika sadar kalau ternyata masih ada orang yang ada di dalam kamar selain dirinya dan bayinya.
Sang Abang pun beridiri dan berjalan kearah dimana Laras dan bayinya berada. "Ya sudah kalau begitu Abang pamit pulang dulu," sambil mengacak - acak rambut adek sepupunya itu.
"Kebiasaan deh," ucap Laras kesal.
Kini Reza sudah berada di luar kamar, tapi belum juga dia melangkah terlihat Ray yang sudah berdiri di ujung tangga dan berjalan ke arah Reza.
Setelah Ray dan Reza berpapasan, "Kamu tau kan apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ray ke pada Reza sambil memasang wajah serius.
Reza pun menepuk - nepuk pundak Ray lalu berucap, "Percaya denganku, walau pun kita tidak terlalu akrab dan dekat, dan bertemu dengan mu bisa dihitung dengan jari, tapi kalau soal begini - begian mah kecil," ujar Reza seraya menyentil kuku kemudian tersenyum.
"Terima kasih." Tapi belum jauh Reza melangkah, dia pun berhenti dan berbalik menatap Ray yang kini masih berdiri di tempat yang tadi. "Tapi kamu tidak lupakan dengan ucapan terima kasihnya kan? Saya rasa tidak perlu saya jelaskan, pastinya kamu sudah mengerti dengan apa maksudku?" seraya tertawa kemudian berlalu pergi dari hadapan Ray.
Sebelum Reza benar - benar jauh jauh melangkah Ray pun teriak, "Kerja dulu bos, baru imbalan."
Reza hanya bisa menaikkan jempolnya tanpa menoleh tanda, "Iya."
******
Kini rumah Mama Inggit kembali sunyi setelah semua tamu termasuk besannya pulang kerumah masing - masing.
Mama Inggit dan Ray kini duduk di teras rumah.
"Ray, bagaimana buat persiapan besok pagi?"
"Paling bentar lagi Ma ... mereka datang buat masang dekoran buat acara besok."
"Kamu pakai jasa dari perusahaan mana?"
"Ray pake jasa dari perusahaan Bunda Tamara."
"O...." ucap Mama Inggit.
__ADS_1
Tidak lama yang di tunggupun tiba.
"Siang Mas, apa benar ini rumah Ibu Inggit?" tanya pria itu sopan.
"Iya," jawab Ray singkat kemudian berdiri dan menghampiri sang tamu.
"Kalau begitu, Bapak langsung saja memasang dekorannya sesuai dengan yang saya kirim kemarin gambarnya sama Ibu Tamara!"
"Baik," ucap pria itu seraya berjalan masuk kedalam rumah diiringi beberpa orang di belakang pria itu.
Berapa jam kemudian...
Mereka pun sudah menyelesaikan gugas nya. Dan mereka pun pamit untuk pulang.
"Terima kasih ya Mas, dekorasinya cantik sekali," puji Mama Inggit seraya memandang dekoran yang baru saja terpajang di dinding ruang tamu rumah.
"Terima kasih bu atas penilainnya, dan terima kasih atas pujiannya. Kalau begitu kami permisi pulang dulu."
Sebelum mereka jauh melangkah, "Tunggu."
Mereka pun menoleh, "Ya bu ada apa?"
Mama Inggit, "Tolong sampaikan pada ibu Tamara kalau besok aku undang beliau di acara tasmiah cucu pertama ku," pesan Mama Inggit.
"Baik Bu, in sya Allah saya sampaikan pesan Ibu."
Mereka pun melangkah pergi dari rumah Mama Inggit.
Gambar bayi Laras
Dekoran tasmiah bayi Laras dengan kombinasi warna biru dan putih, di lengapi dengan balon warna senada dan boneka. Makin menambah kesan elegan.
💖💖💖
Mari saling mendukung....
Terima kasih.....
💖💖💖
__ADS_1