
Begitulah hari - hari yang dilalui Ara, menununggu, menunggu dan menunggu hingga lelah raga ini untuk menunggu.
Siang itu ketika aku berada di balkon kantorku, cuaca tiba - tiba mendung dan sepertinya hujan tidak akan lama lagi turun.
Duar.....
Duar.....
Duar.....
Bunyi petir disertai air yang turun satu persatu lama kelamaan menjadi banyak dan entahlah berapa jumlahnya.
Kulihat anak - anak menyambut hujan dengan suka cita, tertawa kesana kemari dibawah derasnya air hujan, seolah - olah mereka tidak punya beban di hati seperti diriku saat ini hati yang sedang merindu akan orang nan jauh disana.
Hujan, entah kenapa begitu banyak yang menyukaimu? Apa sih istimewamu? Bagiku hujan adalah sesuatu yang menyebalkan.
Kuhembuskan nafasku secara kasar
"Huffffffff, kapan penantian ini akan berakhir." hujan kian deras dan membasahi apapun yang ada di bawahnya, Aku pun melangkah masuk dan menutup pintu balkon kantorku lalu berjalan ke meja kerjaku dan meraih biola pemberianmu waktu itu dan duduk disana lalu kumainkan biolanya.
Andaikan rindu dapat kutulis
Akan kulukis bukti tanda cinta
Walau hatiku sering menangis
Merintih tiada bersuara
Lelah hatiku dilatih rindu
Memikirkanmu yang jauh disana
Ingin rasanya diriku bertemu
Apalah dayaku terhalang jarak dan waktu antara kita berdua.
__ADS_1
Pulanglah kasihku, pulanglah sayang
Hati tak tertahankan ingin tuk bersama
Karena cintamu telah kusemaikan
Agar tumbuh mekar bunga cinta kita
Biarpun godaan datang menghampiri takkan ku peduli tetap ku setia
Ku akan menunggu sampai akhir nanti
Saat menjadi satu bahagia
Lelah hatiku dilatih rindu memikirkanmu yang
Jauh disana
Ingin rasanya diriku bertemu
Apalah dayaku terhalang jarak dan waktu
Pulanglah kasihku pulanglah sayangku
Hati tak tertahan ingin tuk bersama
Karena cintamu tlah kusemaikan
Agar tumbuh mekar bunga cinta kita
Biarpun godaan datang menghampiri takkanku peduli tetap ku setia
Ku akan menunggu hingga akhir nanti
Saat menjadi satu bahagia
__ADS_1
Saat menjadi........satu bahagia.
( Lelah Di Latih Rindu ( LDR ) : Nazia Marwiana ).
"Aku berharap hujan ini akan segera reda, agar rindu ini tak terlalu dalam mengorek luka." ucapku dalam hati.
💖💖💖
Sekian minggu tepatnya 12 bulan Antony mencari ilmu di pesantren. Bagi Ray mengaji adalah pengalaman terunik dan terindah.
"Hai! melamun saja, ayo temani aku ke mesjid mengembalikan payung. Takutnya nanti ada yang membutuhkan." ucap Fadil panjang lebar pada Antony.
"Baiklah ayok." kata Antony seraya mengikuti Fadil dari belakang. Fadil adalah teman satu kamarku, dia adalah teman dan orang pertama yang aku kenal di pesantren, umur kami sebaya. Disini kami semua keluarga dan saudara. Tidak boleh pelit sama teman, harus selalu berbagi apapun yang dipunya.
Jarak asrama putra dengan mesjid tidak terlalu jauh hanya butuh lima belas menit jika jalan kaki. Sebelum sampai kemesjid kami di jalan berpapasan dengan santriawan dan santriwati pondok yang ingin kemesjid.
"Assalamualikum ya akhi." ucap salam dari salah satu di antara mereka.
"Waalaikumsalam ya ukhti." jawab Antony dan Fadil barengan.
Itu sudah tradisi dipondok kami jika berpapasan setidaknya mengucapkan salam dan menundukkan pandangan dari yang bukan mahromnya.
Saat kami tiba di mesjid, Fadil masuk kedalam dan meletakkan payung kembali ketempatnya. Antony hanya menunggunya di luar .
"Sudah?" tanya Antony.
Fadil mengajak Antony untuk pulang. "Ya, ayo kita pulang!" Antony hanya mengangguk sebagai jawabannya.
💖💖💖
Maaf kata - katanya bertele - tele .....
Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like , vote , komen dan rate 5 ya . Terima kasih ....
💖💖💖
__ADS_1