
Matahari mendekati sang senja dimana kita tahu di mana kita berada hidup ini memang seperti ini adanya. Tak perlu banyak mengeluh akan kenyataan yang ada. Hanya perlu sykuri dan rasakan kebahagiaan dalam menjalaninya. Pasti hidup akan menajadi sangat indah jadinya. Beberapakali aku menemukan mimpiku sendiri terjerembab di depan pintu, kuyup oleh hujan. Seperti pakaian kotor berulangkali ku cuci dan kujemur di halaman luas. Pada saat - saat seperti itu aku selalu ingat wajah dan matamu saat menatapku, selalu teduh dan meneguhkan. Maka aku yakin pada akhirnya jarak hanya memisahkan raga. Tapi ia tak pernah sanggup menjauhkan mimpi, imajinasi dan kenangan yang kita semat bersama dalam rindu yang paling dalam.
* * *
Kini sore sudah berganti dengan malam.
Di kamar itu aku sedang berdiri termenung dari balik jendela kamarku. Banyak pertanyaan - pertanyaan yang menari - nari di benak ku namun aku tak punya jawabannya.
"Ara."
Panggilan bunda menyadarkan ku dari lamunan.
Akupun menoleh, "Ada apa bun?" tanya ku seraya berbalik, lalu berjalan kearah bunda yang kini sudah duduk di tepi tempat tidur, dan akupun ikut mendaratkan bokongku di samping bunda.
"Kamu, kenapa dari tadi kok bunda perhatiin sepertinya kamu sedang asyik melamun apa ada yang sedang mengganjal fikiran mu?"
"Tidak apa - apa bun, hanya saja Ara sudah dua kali bertemu dengan orang yang persis sama Antony. Entah mengapa perasaan Ara mengatakan kalau itu dia, dan anehnya dia sama sekali tidak mengenal Ara."
Bundapun meraih tangan putrinya kemudian mengelus - elusnya, "Sayang, kamukan tau dan melihat sendiri dengan mata kepala kamu waktu Antony dimakam kan. Jadi sudahlah lupakan dia."
__ADS_1
Bundapun mendekapku, Ara "aku akan cari tau siapa dia sebenarnya agar rasa penasaran ku terbayar tuntas." membatin dalam hati.
Bunda melepas dekapannya, "Ya sudah sebaik nya kamu istirahat." seraya mengusap pipi putrinya itu. Kemudian berdiri dan berlalu pergi dari kamar putrinya itu.
* * *
Disebuah kamar yang besar dan luas seorang pria tengah duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya itu. Dia sedang bergelut dengan perasaannya. Kejadian tadi siang masih membayang - bayanginya.
"Amara Navisha Kirana Yusuf." ucap Ray lirih.
Sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya. Tiba - tiba seperti sebuah rekaman klise film sedang berputar silih berganti di benak nya. Digambarkan seorang wanita muda dan pria muda sedang berdiri di halaman mesjid.
Ray pun tiba - tiba tersadar, "Siapa gadis itu, dan pria itu. Wajahnya samar - samar."
Malam kian larut, Ray pun memutuskan untuk segera masuk dan bergegas untuk segera tidur.
* * *
"Suara author 😊😊."
__ADS_1
Dikamar itu. Sama - sama di atas pembaringan hanya beda tempat sudah berbagai macam gaya yang mereka praktikkan tapi mata mereka tetap enggan terpejam. Padahal waktu setempat sudah menunjukan pukul 22.00 malam.
Tapi karena lelah bergelut dengan perasaan mereka masing - masing akhirnya mereka tertidur dan siap berpetualang ke alam mimpi. 😴😴😴
* * *
Pancaran fajar di pagi hari adalah lancaran semangat. Semangat baru dihari yang baru. Sambutlah pagi dengan senyuman dan suasana hati yang baik.
Di kediaman mama Inggit.
"Pagi mah." sapa Ray seraya berjalan ke arah mamah nya yang sedang menyiapkan sarapan di atas meja.
"Pagi sayang."
"Mah, ada yang mau Ray tanyain ke mamah."
"Nanya nanti aja ya, setelah selesai sarapan." seraya menarik kursi lalu kemudian duduk, dan mengambil piring lalu diisi nasi dan lauk pauk kemudian di susul Ray yang kini duduk di hadapan mamahnya hanya meja makan sebagai pembatas, kemudian di sodorkan kepada Ray, piring yang berisi nasi dan lauk pauk tadi.
"Makanlah." ucap mama Inggit.
__ADS_1
💖💖💖💖