JATUH CINTA SENDIRIAN

JATUH CINTA SENDIRIAN
JCS 2. Bagian 107.


__ADS_3

Jika kamu bangun di pagi hari dan berfikir bahwa masa depan akan menajadi lebih baik, hari itu akan menajadi hari yang cerah.


********


Di keluarga Pak Abdul kini mereka sudah berkumpul di meja makan, untuk sarapan bersama sebelum mereka melakukan aktivitas.


Pak Abdul menatap sekilas wajah putrinya dan menantunya bergantian, "Ayah sudah fikirkan tadi malam. Kalau hari ini, ayah akan mendaftar nama kalian ke pengadilan Agama untuk proses percerian. Bukan kah lebih cepat lebih baik." ujar sang Ayah di sela - sela aktifitas sarapan paginya.


Semua mata tertuju pada sang Ayah, "Apakah sudah Bapak fikirkan ini dengan baik - baik?" tanya Mami Yoel seraya menatap wajah besannya itu.


Pak Abdul sejenak terdiam seraya mengehentikan aktifitas sarapan paginya.


"Saya rasa tidak ada yang perlu lagi di bicarakan, semua sudah cukup jelas dan ini memang harus segera di akhiri agar hati tidak ada lagi yang terluka," ujar sang Ayah seraya menatap wajah sang Anak yang kini telah menunduk.


Mami Yoel pun tertawa hambar, "Baiklah jika itu sudah di putuskan, aku ngikut aja," ujar Mami Yoel yang kini beralih menatap wajah Anak dan Menantunya itu.


Mereka pun sudah menyelesaikan sarapan paginya, dan bersiap pergi kepengadilan Agama.


Tidak lama kemudian, kini mereka sudah berada di dalam mobil dan siap melajukan mobilnya ke jalan raya.


💖💖💖


Banyak yang bisa memutuskan untuk menikah, namun semua tak bisa mempertahankannya. Berjuanglah untuk orang yang kamu cintai, karena ku tahu kamu mampu.


💖💖💖


Besok pagi adalah di mana hari yang ditunggu untuk Ara dan Dhaffin.


Segala persiapan sudah mendekati kata sempurna, dan undangan pun sudah di sebar dan Mama Ajengpun kini sudah berada di Indonesia. Dhaffin masih sibuk di kantor dalam mengurus segala hal untuk acaranya besok pagi.


Kini hari sudah beranjak siang, Dhaffin pun mengirim pesan ke Ara, "Selamat siang sayang? Sudah makan siang belum? Kita makan siang bareng yuk?" bunyi pasan singkat Dhaffin untuk Ara.


Ting... notifikasi pesan masuk di handphone Ara.

__ADS_1


"Siapa sih kirim pesan? Tidak tau apa kalau orang lagi sibuk."


Di layar tertulis "Dhaffin" memanggil.


Ara pun membalas pesan Dhaffin, "Assalamualaikum sayang, aku lagi sibuk dan tidak di bolehkan Bunda untuk keluar ( dipingit )."


Dhaffin


- "Oh... begitu ya? Aku cuma ingin ngajak kamu doang sih makan siang. Ya sudah kalau tidak bisa, tidak apa - apa. Kamu jangan lupa makan siang dan jangan sampai telat ya, sholat juga jangan telat ya, kalau telat nanti hidung kamu aku tarik jika besok sudah resmi jadi milikku, dan maaf jika aku ada salah sama kamu."


Ara


- "Iya, iya bawel. Aku akan selalu menjalankan nasehatmu."


Tidak ada yang salah dengan isi pesan singkat Dhaffin, tapi aku merinding membacanya.


Dhaffin pun pergi makan siang sendiri, di restoran sekitar kantornya. Hari ini dia berencana untuk lembur untuk menyelesaikan segala keperluan besok pagi. Dia tidak mau menjadi bahan olokoan atau gunjingan para tamu jika ada yang kurang. Oleh sebab itu dia harus bekerja keras untuk acaranya besok pagi.


******


Mereka pun berjalan beriringan untuk pulang kembali kerumah. "Terima kasih Nak, karena kamu sudah mau menemani Zahra walau singkat, pintu rumah Ayah akan selalu terbuka untuk kamu, jika kamu berkenan mampir kerumah Ayah. Jika kalian tidak bisa melanjutkan hubungan ini dalam pernikahan, tapi paling tidak kalian bisa menyayangi lewat saudara," ujar Ayah berbicara panjang lebar seraya merangkul pundak Antony.


Antony hanya tersenyum menanggapi perkataan sang Ayah mertua yang tidak lama lagi akan menyandang status mantan.


Laras yang menyaksikan itu hanya bisa menggerutuki kebodohan apa yang sudah dia lakukan semalam, hingga membuat sang suami jadi seperti ini.


Setelah lama cukup terdiam, Laras pun ikut bicara, "Mah ... bagaimana kalau Ray kita bawa saja kerumah sakit!" usul Laras kepada sang mertua.


Setelah cukup lama terdiam, menimbang usul sang menantu, "Ide cemerlang. Ayo kita bawa Ray kerumah sakit," ujar Mama Inggit seraya memainkan handphonenya yang sedari tadi ada di tangannya.


Sesaat kemudian Mama Inggit sibuk dengan handphonenya dan memainkan jari - jari dengan lincahnya disana. Setelah cukup lama terdiam dan sibuk dengan pemikiran mereka masing - masing.


"Sekarang kalian naik ke lantai dua! Tolong bantu kami mengangkat tubuh Ray. Sekarang?" ujar Mama Inggit menelpon seseorang yang ternyata yang di telpon adalah para asisten rumah tangga. 😂😂😂

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, kini para asisten rumah tangga sudah berkumpul di lantai dua, dikamar Ray.


Sesaat kemudian kini mereka sudah menggotong tubuh Ray dan membawa ke garasi untuk segera memasukan tubuh Ray ke dalam mobil. Du dalam mobil sudah menunggu Laras dan Mama Inggit.


Sesaat kemudian kini mereka sudah melajukan mobilnya kejalan raya untuk menuju rumah sakit terdekat.


Tidak butuh waktu lama, kini mobil mereka sudah masuk di halaman rumah sakit. Tidak lama kemudian, kini Ray sudah di tangani oleh dokter.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, kini Ray di anjurkan dokter untuk mekakukan terapi, untuk mempercepat pemulihan.


Sesaat kemudian, Ray pun sudah melakukan terapi, Mama Inggit dan Laras dengan setia mendampinginya.


Kini mereka sudah siap untuk kembali pulang kerumah, "Lain kali kalian harus lebih berhati - hati lagi," ujar Mama Inggit seraya menatap wajah Anak dan mantunya.


Ray hanya bisa cenga cengir mendengar nasehat sang Mama.


Mereka berjalan keparkiran dan segera masuk kedalam mobil, kemudian melajukan mobilnya di jalan raya.


Laras mengemudi mobil, sementara Mama Inggit menemani sang Anak duduk di jok belakang.


"Masih ada yang sakit tidak?" tanya Mama Inggit seraya menoleh ke arah sang Anak.


Ray pun menoleh kemudian tersenyum ke arah sang Mama, "Masih sakit Ma, walau sudah agak mendingan."


******


Teman - teman, mari saling mendukung ya...



Terima kasih....


💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2