
Sesampainya dirumah Ray pun segera menelphon Kirana,
"Tut....tut....tut." memanggil.
"Hallo?" ujar Kirana di sebrang sana.
"Kamu dimana?" tanya Ray.
"Kenapa kamu tanya?" ujar Kirana tanya balik.
"Kita perlu bicara, temui aku besok pagi di taman seperti biasanya kita nongkrong sama teman - teman." kemudian mematikan handphonenya sepihak.
Ray berdialog dalam hati, "Aku yakin kamu pasti akan datang."
Setelah itu dia pun masuk kekamar mandi buat membersihkan diri. Sesaat kemudian kini dia berjalan keluar kamar dan turun ke bawah mencari keberadaan sang mama.
Mama inggit ada di ruang keluarga dan sedang menonton siaran televisi kesukaannya.
"Ma." panggil Ray lalu berjalan kearah mama nya dan duduk di samping sang mama.
Mama inggit pun menoleh kemudian berucap, "Ya Ray, ada apa. Kapan kamu pulang kok mama tidak tau?"
Ray pun menjawab dengan memasang wajah cemberut, "Bagaimana mama tau kalau dari tadi mama sibuk sendiri dengan siaran televisi."
"Iya, iya mama minta maaf. Ada apa?"
__ADS_1
"Tidak ada. Hanya ingin menyapa saja, sudah lama kita tidak ada ngobrol santai." seraya menyunggingkan senyum tipis di wajahnya. Sesaat kemudian, "Mah, Ray kekamar dulu ya." seraya berlalu pergi dari mamanya.
Di lantai dua Ray kini telah sibuk membereskan alat perang yang akan di bawanya besok bertemu Kirana. Setelah semua siap dan di masukan kedalam tas dia pun segera pergi tidur sesaat kemudian kini dia sudah berada di alam mimpi.
........................
Di villa persembunyiannya Kirana tidak bisa memejamkan matanya barang sedikit pun telepon Ray barusan masih terngiang - ngiang di ingatannya. Sambil menatap langit - langit kamarnya dia bingung harus memilih apa, "Apakah aku harus menemuinya besok, tapi jika dia datang bersama polisi bagaimana? Tidak, tidak aku tidak ingin di penjara." akhirnya Kirana pun tertidur.
.................
Keesokan paginya Kirana bangun lebih awal, kini dia sudah rapi dan siap pergi menemui Ray ditaman. Kirana pergi diam - diam dengan membawa mobilnya. Kini kirana sudah berada di dalam mobil dan siap melajukan mobilnya kejalan raya untuk menemui Ray ditaman. Sesaat kemudian kini Kirana sudah berada di taman. Baru saja dia duduk, kini Ray nampak dari arah berlawanan berjalan santai ke arah Kirana. Ray pun mendudukan tubuhnya di salah satu kursi yang masih kosong yang ada disana.
"Aku mohon sama kamu selamatkan Ara." ucap Ray tho the point.
Ray ( dengan nada emosi ), "Kamu pura - pura tidak tau atau memang tidak tau."
"Aku sunggih tidak tahu apa yang terjadi dengan Ara?" tanya Kirana.
"Aku tau kalau kemarin itu pasti ulah kamu." ujar Ray.
"Kalau iya memangnya kenapa?" jawab Kirana santai.
"Kamu tau, karena ulah kamu Ara sekarang koma di rumah sakit dan sekarang. Dia sedang sekarat dan memerlukan pencangkokan hati dan kamu tau hanya kamu yang bisa menyelamatkan nyawanya saat ini."
Sesaat kemudian Kirana terdiam mendengar kata - kata Ray. Kirana mengerutkan keningnya. "Apa hubungannya denganku, kenapa harus aku yang mencangkokan hati untuknya. Aku malahan bersyukur jika dia mati agar tidak ada lagi sainganku di dunia ini."
__ADS_1
"Kamu memang sudah tidak waras Kirana gara - gara cinta kamu jadi buta. Dimana Kirana yang dulu pernah aku kenal?" kemudian, Ray berkata lagi seraya berdiri,
"Apa perlu aku bersujud di kakimu untuk, memohon agar kamu mau menyelamatkan nyawa Ara?"
"Tidak perlu, kamu kembali padaku seperti dulu dan menyerahkan semua bukti - bukti kejahatan ku, itu sudah cukup membuatku bahagia."
Ray pun merotasikan matanya. Kemudian Kirana berkata lagi, "Tadi kamu bilang kalau hanya aku yang bisa menolongnya bisa kamu jelaskan." kini dengan posisi berdiri dan berjalan mendekat ke arah Ray.
Ray, "Karena kamu saudara kandungnya."
Duar.....
Duar.....
Duar.....
Bagai petir menyambar di pagi hari.
"Apa kamu bilang? Aku bersaudara, ha.., ha.., ha.., Ray.., Ray.., Ray..., ini masih pagi belum malam kamu sudah bermimpi saja." ujar Kirana seraya menepuk - nepuk pundak Ray.
💖💖💖
Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like, vote, komen dan beri bintang 5 ya pada karya aku. Terima kasih.
💖💖💖
__ADS_1