
Di rumah sakit Ray, Fhani, Laras, Kevin, dan Bunda Amira sudah melakukan serangakaian pemeriksaan tapi hasilnya tidak ada yang cocok. Mereka pun terduduk lesu di kursi yang ada di depan kamar rawat Ara.
"Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan." ujar Ray seraya menatap wajah bunda Amira dan teman - temannya.
Dengan tatapan kosong dan lurus bunda Amira pun berkata, "Hanya ada satu orang yang bisa membantu Ara."
Sontak mereka pun semua menoleh kearah bunda Amira dengan wajah penasaran.
"Siapa orangnya tante?" ujar Kevin penasaran.
Hening sejenak mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing - masing. Tidak lama kemudian Bunda Amira pun melanjutkan kata - kata nya.
"Hanya ada satu orang yang dapat menolong Ara saat ini." seraya menatap Laras, Fhani, kevin dan Ray.
"Siapa orangnya tante, biar kami mencarinya buat Ara." ujar Laras seraya menatap wajah bunda Amira.
Bunda Amira dengan menghembuskan nafasnya lalu kemudian berucap, "Kirana."
Laras dan Kevin bersamaan, "Kirana." saling berpandangan satu sama lain.
"Iya Kirana. Karena Kirana dan Ara adalah saudara kandung yang dititipkan orang tuanya kepada tante karena mama Kirana tidak bisa mengurus dua putri yang masih kecil - kecil karena sibuk dengan bisnisnya." Ujar bunda Amira menjelaskan.
"Maksud tante?" tanya Laras tidak mengerti.
__ADS_1
"Iya bunda dulu sempat menikah dengan papanya Kirana saat itu Ara masih kecil waktu ikut sama bunda. Lalu tidak lama kemudian Papa Kirana kembali rujuk dengan Istri pertamanya dan menitipkan Ara sama bunda dengan kesepakatan istri pertama." terang bunda Amira panjang lebar.
Setelah masing - masing terhanyut dengan pemikiran masing - masing Kevinpun angakat bicara, "Lalu akan kita cari kemana Kirana?"
"Aku telepon kemenssionnya deh siapa tau dia ada disana." ujar Laras seara mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Aku coba telepon handphone nya deh." ujar Kevin seraya merogoh kantong celananya.
"Aku coba melacak deh dimana posisi Kirana dengan melacak nomor handphonenya." ujar Fhani.
"Bagaimana?" tanya Ray setalah Laras dan Kevin berjalan mendekat ke arah Ray .
Laras dan Kevin hanya geleng - geleng kepala, sebagai jawaban Zonk alias tidak dapat informasi apa - apa.
Sontak mereka pun menoleh ke arah Fhani.
"Dimana posisi Kirana saat ini?" tanya bunda Amira.
"Di salah satu vila yang ada di plosok kota." ujar Fhani.
"Ngapain dia disana?" tanya Ray.
"Ngapain lagi kalau bukan untuk kabur." ujar kevin asal.
__ADS_1
"Dia tidak akan kemana - kemana sebelum membayar dan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya disini, aku bisa menjamin itu asal kita mau berkerja sama." ujar Ray seraya menatap wajah Laras, Fhani dan Kevin bergantian berharap penuh mau saling bantu membantu pada teman - temannya.
Hening sejenak tiba - tiba Laras menengok jam yang ada di pergelangan tangannya jam disana menunjukan pukul 9 malam. Dia pun berdiri dan berjalan kearah Tante Amira dan meminta Ijin untuk pulang.
"Tante, Laras pulang dulu ya. Besok Laras kesini lagi temani tante." Disusul Kevin di belakang. Kemudian pamit ke tante Amira.
"Tante, Kevin juga pamit pulang dulu ya."
"Tante, Ray juga pamit pulang dulu ya." ujar Ray.
Mereka pun pulang kerumah masing - masing tinggal Fhani dan Bunda Amira yang tinggal dirumah sakit. Lalu Fhani dan bunda Amira pun masuk kedalam ruang perawatan Ara. Ketika di dalam bunda Amirapun berjalan ketempat tidur Ara kemudian di ciumnya dahi putrinya itu kemudian berkata, "Cepat sembuh ya sayang." tepukan bahu Fhani menyadarkan lamunan bunda Amira.
"Tante, jika cape silahkan istirahat biar Ara, Fhani yang jaga." ujar Fhani.
"Beneran nih tidak merepotkan kamu." ujar bunda Amira seraya menatap wajah Fhani.
Fhani hanya tersenyum kemudian menganggukan kepala lalu berkata, "Iya, tante tidak apa - apa, tante istirahat saja biar Fhani yang tungguin Ara."
Bunda Amira pun berjalan kearah sofa panjang yang ada di dalam kamar itu. Kemudian duduk lalu merebahkan tubuhnya di sana sejenak kemudian bunda Amira pun terlelap dalam tidurnya.
💖💖💖
Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like, vote, komen dan jangan lupa rate 5 ya. Terima kasih.
__ADS_1
💖💖💖