
Laras terbangun karena merasakan dingin pada bahu polos dan juga wajahnya. Dia menggeliat dan telentang, mengerjab beberapa kali lalu menatap langit - langit kamar tidur. Tunggu? Kamar tidur? Bukankah semalam...." Mata Laras terbelalak, dan dia mengintip selimutnya dan benar saja.... dia tidak mengenakan pakaian sehelai pakaian pun.
Di tariknya selimut sampai menutup kepala , memejamkan mata dan mengingat kejadian semalam. Mereka benar - benar telah melakukannya.
"Kamu sudah bangun....?" suara Rai membuyarkan lamunan Laras.
Laras mengerang dan bergerak - gerak gelisah, "Aku baru saja bangun," ucapnya pura - pura memejamkan mata.
"Kamu harus bangun! Apa kamu tidak merasa lapar? Dan rencananya kita akan kembali hari ini ke Indonesia,"
Benar juga.... Mendengar Ray berkata lapar, perutnya berbunyi, "Aku sedikit lapar...."
"Ray," panggil Laras. Setelah tidak ada balasan Laras tersenyum lalu turun perlahan dari ranjang dan mencengkram selimut.
"Apa kamu butuh bantuan?" Laras langsung terlonjak terkejut mendengar suara Ray. Dia melihat Ray yang duduk di kursi berlengan memunggungi ranjang.
"Kamu membuat aku terkejut...."
Dilihatnya Ray berdiri, pria itu masih mengenakan piyama tidur, berjalan kearah ranjang. Laras langsung terduduk dan mencengkram selimut yang membukungkus tubuhnya. "Kamu mau apa?" Laras menunduk, lalu Ray menggendongnya, persis seperti kemarin malam saat pria itu membawanya keatas ranjang.
"Aku bisa jalan sendiri...." ucapnya didada Ray, suaminya hanya diam lalu menurunkannya di bawah shower.
"Aku ambil selimutnya...." ucap Ray sambil mencengkram selimut Laras.
"Jangan," teriak Laras. "Kamu keluar saja!"
"Selimutnya kotor, sayang...."
"Biar saja, biar aku yang naruh di tempat kotor nanti."
Ray menahan senyum. "Pergi!" usir Laras.
__ADS_1
"Yakin tidak perlu bantuan?"
Laras langsung menggeleng, "Pergi...." sebelah tangannya mengusir Ray, "Hus ... hus...."
Setelah Laras membersihkan diri, dan memakai pakaiannya, mereka pun pergi sarapan bersama - sama. Kini mereka sudah menyelesaikan sarapannya dan sekarang mereka sudah berada di kamar untuk membereskan pakaian mereka masing -masing.
"Apa kah kamu sudah siap?" tanya Ray ketika sudah menutup kopernya.
Laras pun mengangguk lalu berucap, "Ya aku sudah siap."
Mereka pun keluar dari kamar dengan berjalan beriringan, menuju teras dimana mobil sudah menunggunya untuk membawa mereka ke bandara.
Kemudian Ray menoleh kepada Laras, "Apa kamu yakin, sudah tidak ada barang yang ketinggalan?" sambil memasukan barang mereka kebagasi mobil.
"Yakin," jawab Laras singkat.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan siap menuju bandara.
💖💖💖
"Ada apa dengannya."
Antony pun berdiri dan berjalan kearah Zahra, dan megang bahu nya, "Kamu ini kenapa? Sedari tadi aku perhatikan sepertinya kamu bekerja tanpa hanti. Katakan jika ada masalah mu?"
Zahra pun berhenti, lalu berbicara tanpa menoleh, "Untuk apa kamu larang - larang aku? Terserah aku mau apa dan bagaimana, tidak ada hubungannya dengan kamu. Sekarang singkirkan tanganmu dari bahuku." bukan maksud Zahra untuk berkata tidak sopan pada suaminya, tapi rasa kecewaa terlanjur menjalar di dalam hatinya.
Antony pun menarik tangannya dari bahu Zahra, "Maaf." ucapnya menyesal.
"Kenapa aku harus bertemu dan menikah dengannya, jika pada akhirnya aku harus terluka oleh kejujuran yang tak pernah aku ingin dengar," ucap Zahra dalam hati.
"Jika kamu ada masalah, mari kita biacarakan baik - baik," kemudian Antony pergi menjauh dari Zahra.
__ADS_1
"Ya Allah aku pasti kuat dan bisa melewati cobaan yang engkau beri untukku," ucap Zahra dalam hati.
Kini Antony sedang duduk di teras rumah, merenungi kembali kata - kata nya, dan bertanya pada dirinya sendiri apakah keputusannya sudah benar atau salah. Kini dia di landa dilema.
Mami Yoel yang kebetulan hendak keluar rumah dan melihat Antony duduk diteras rumah sendirian, dia pun berjalan dan menghampiri sang anak.
"Antony, kamu kenapa? Kok duduk termenung disini sendirian? Zahra kemana?" tanya sang mami di saat sudah duduk di kursi kosong yang ada disamping anaknya itu.
Antony pun menoleh, "Mamy ngagetin aja."
"Apa yang sedang kamu fikirkan?"
"Bukan apa - apa?"
"Kamu jangan bohong Antoni, kamu anak mami, jadi mami tau kalau suasana hati mu sedang tidak baik - baik saja sekarang."
Antony pun menghembuskan nafasnya secara kasar, lalu kemudin menoleh ke arah sang mami, "Mami sebelumnya Antony minta maaf. Hidup berbulan - bulan bersama Zahra berusaha menerima Zahra apa adanya, membuat Antony semakin tersiksa. Mami tau sendiri kalau Antony tidak pernah menyukai Zahra...." kata - kata Antony terjeda.
"Apa maksud kamu, Antony?"
"Antony mau mengakhiri hubungan ini."
"Kamu jangan bercanda Antony, kamu fikir penikahan kalian adalah lelucon. Apa kata tetangga jika kalian tiba - tiba bercerai sedangkan usia pernikahan kalian masih seumur janggung." Mami Yoel tak terima.
Zahra yang mendengar dari balik pintu hanya bisa menitikkan air mata. "Ya Allah jika ini garis yang engkau takdirkan untuk hamba, hamba menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada." kemudian Zahra pun berlalu pergi.
Antony hanya diam tak menjawab kata - kata sang mami.
💖💖💖
Teman - teman mari saling mendukung ya.
__ADS_1
Terima kasih....
💖💖💖