JATUH CINTA SENDIRIAN

JATUH CINTA SENDIRIAN
JCS 2. Bagian 92.


__ADS_3

Kini sudah tiba saat nya Dhaffin untuk kembali ke Indonesia. Kini Dhaffin sudah di bandara bersama sang Ayah dan sang Adik angkat.


"Kakak, kok cepat banget balik ke Indonesianya, kan Carissa masih kangen dengan kakak," ujar Carissa yang kini sudah bergelayut manja di lengan kakaknya itu seraya menyongkan bibirnya.


Dhaffinpun mengusap kepala adik angkatnya itu kemudian berucap, "Kamu jangan nakal di saat kakak tidak ada, jadilah pemimpin yang bisa di contoh oleh karyawan kamu, jangan jadi pemalas," nasehat kakak angkatnya itu.


"Syiaaapppp bos, laksanakan."


Kini Dhaffin berbalik menghadap sang Ayah, kemudian berucap, "Ayah Dhaffin pulang dulu, Ayah baik - baik ya disini."


"Kamu juga, baik - baik disana, jaga Bunda," ucap sang Ayah sebelum berpisah.


"Ya sudah kalau begitu Dhaffin masuk dulu kedalam, kalian hati - hati di jalan," ucap Dhaffin seraya memeluk sang Ayah dan berlalih memeluk sang Adik angkat.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab sang Ayah dan sang Adik bersamaan.


Kini Dhaffin sudah di dalam pesawat, dan siap mengudara.


💖💖💖


"Ra, kapan Dhaffin pulang dari luar negri?" tanya sang Bunda ketika mereka sama - sama duduk di ruang keluarga sambil nonton TV di sore hari itu.


"Katanya sih cuma 1 minggu, dan seharusnya dia sudah balik hari ini, tapi dia tidak ada kirim kabar ke Ara."


"Mungkin dia sementara sibuk atau tidak kalau sememangnya dia balik hari ini, bisa jadi sekarang dia ada di pesawat."


"Entahlah."


💖💖💖


Kini Dhaffin sudah ada di Indonesia ( Jakarta ), dan siap melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya di kota Jogjakarta.


Tidak lama kemudian kini dia sudah berada di Jogjakarta dan siap menuju kediamannya. Tidak butuh waktu lama, kini Dhaffin sudah berada di halaman rumahnya. Sesaat kemudian kini dia sudah berada di teras rumah, berjalan kearah pintu utama.


"Tok ... tok ... tok," suara ketukan pintu dari luar.


"Assalamualaikum,"ujar orang yang ada di luar.


"Waalaikumsalam."


Setelah pintu terbuka, "Daffin kok pulang tidak bilang - bilang ke bunda sih, kan bunda bisa jemput kamu."


"Tidak apa - apa, bukan jarak yang jauh kok," ujar Dhaffin seraya tersenyum.


"Ayo mari masuk! Sini kopernya biar Bunda bawain!" seraya mengambil koper yang ada di tangan anaknya itu.


Kini mereka sudah duduk di sofa ruang tamu. "Bagaimana pekerjaan kamu disana? Apa semua lancar - lancar saja?" tanya sang Bunda.

__ADS_1


"Alhamdulillah," jawab Dhaffin singkat.


"Bagaimana kabar Ayah dan Clarissa disana? Apa semuanya baik, dan sehat - sehat saja?" tanya sang Bunda.


"Alhamdulilkah mereka semuanya baik, dan sehat - sehat saja."


"Bund, Dhaffin kekamar dulu ya," seraya berdiri dan berjalan menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


Setelah di lantai dua, dia pun langsung menuju kamarnya. Setelah di dalam kamarnya dia pun langsung menuju tempat tidurnya untuk meluruskan sebentar badannya efek kecapean dari perjalanan jauh.


"Ah ... enaknya," gumamnya dalam hati.


Disaat dia sedang asyik bermalas - malasan di atas tempat tidur, tiba - tiba handphonenya berbunyi yang menandakan ada pesan singkat yang masuk. Disaat mengeluarkan handphone nya dari dalam kantong celananya, dilayar tertulis, "Clarissa."


Clarissa


- "Kakak sayang udah nyampe belum ke rumah? Kok tidak ada kabar."


Dhaffin


- "Kakak, sudah nyempe rumah barusan. Maaf tidak memberi kabar."


Clarissa


- "Kakak kebiasaan deh begitu. Kak, tadi kakak Karina datang kekantor Clarissa, dia nanyain kakak, ya sudah Clarissa bilang aja kalau kakak sudah pulang ke Indonesia."


Dhaffin


Clarissa


- "Tidak ada, setelah itu dia langsung pergi tanpa berkata - kata."


Dhaffin


- "Adek, kakak yang bawel ... sudah dulu ya, kakak mau istirahat dulu, kakak capek baru saja nyampe rumah."


Clarissa


- "Ok."


Setelah meletakkan handphonenya keatas pembaringan, Dhaffin berencana mau tidur barang sejenak, tapi baru juga mau menutup mata tiba - tiba, handphone berdering kembali.


Dilayar tertulis, "Karina."


"Ngapain Karina sms," gumam Dhaffin dalam hati. Dhaffin pun membuka pesan dari Karina.


Karina


- "Fin, kenapa kamu balik ke Indonesia tidak bilang - bilang aku?"

__ADS_1


Dhaffin


- "Untuk apa aku bilang - bilang sama kamu? Toh, kamu bukan siapa - siapa. Kamu hanyalah bagian masa laluku, dan selamanya akan menjadi masa laluku."


Karina


- "Oh ... iya maaf aku lupa. Tapi salah kah jika sesama sahabat saling mengkhawatirkan."


Dhaffin


- "Jangan buang waktumu untuk melihat kembali apa yang telah hilang. Maju terus, hidup tidak di maksudkan untuk berjalan mundur."


Dhaffin


- "Sudah dulu, aku capek mau istirahat."


💖💖💖


Dari setiap detak jangtungku, yang ku ingat hanyalah namamu, meski kamu bukan milikku lagi. Dalam cinta, ada masanya untuk berharap, dan ada masanya untuk berhenti. Ada saat untuk memperjuangkan, namun ada juga untuk mengikhlaskan. Kukira saat cintamu mati untukku, aku juga akan mati. Ternyata cinta itu benar - benar mati namun anehnya, aku tetap hidup meski aku sendiri.


"Aku belajar mengikhlaskan, sesuatu yang memang bukan untukku. Aku mencoba ikhlas dari suatu kehilangan dan tersenyum dari suatu kesakitan yang sedang menimpa," gumam Karina dalam hati.


💖💖💖


Sore itu di balkon kamar ku. Saat temaram datang, jangan ikut tenggelam bersama mentari. Tapi bersinarlah bersama senja walau Ia tanpa pelangi. Hari ini aku belajar dari senja bahwa yang indah dan mempesona akan indah dan hilang pada waktunya. Apa kamu tahu? Senja adalah saat terbaik menceritakan kisah rindumu pada dunia, sebab disana akan kamu temukan jawaban di antara angin dan pejaman mata.


"Ara kamu kenapa?" tanya Bunda yang kini sudah berdiri tepat di belakangku seraya memegang pundakku.


"Bunda, sejak kapan berada disini?" tanyaku pada Bunda.


"Sejak tadi, Bunda perhatikan kamu sepertinya sedang melamun."


"Ara tidak melamun, hanya saja sedang memperhatikan matahari yang siap kembali keperaduannya."


"Bagaimana sudah ada kabar dari Dhaffin?" tanya sang Bunda.


Ara hanya menggeleng sebagai jawabannya.


"Kamu yang sabar, mungkin bentar lagi dia akan menghubungimu."


Lagi - lagi aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Ya sudah, kalau begitu bunda kebawah dulu, kamu segera masuk dan tutup pintu serta jendela kamarmu!" ujar sang Bunda seraya berlalu pergi.


💖💖💖


Teman - teman mohon dukungannya ya dengan cara like, vote, komen, dan beri bintang lima pada karya aku jika kalian suka. Terima kasih.....


💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2