
Sesaat kemudian, kini police datang membawa karina kepenjara dengan bukti rekaman video black box yang di dapatkan Fhani beberapa tahun yang lalu yang masih di simpannya rapi dalam handphonenya.
Setelah semua normal, Fhani kembali bekerja, Clarissa memilih pulang kerumah. Tinggal lah Ray dan Laras beserta Dhaffin di luar.
"Kalau boleh tau, kalian ada perlu apa kesini?" tanya Dhaffin mencairkan suasana.
"Kami ingin bertemu Ara. Sudah lama kami tidak berjumpa. Tapi, selain itu tujuan kami kesini, juga ingin menemuimu," ujar Ray menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Ayo kita masuk kedalam!" ajak Dhaffin.
Kini mereka sudah berada di dalam, dan hanyut dalam obrolan.
"Ngomong - ngomong, Ara kemana ya? Kok dari tadi aku tidak melihatnya?" ujar Ray kemudian.
Sambil menepuk jidatnya, "Astagfirullah ... aku lupa, nyusul ara."
"Memangnya, Ara di mana?" tanya Laras penasaran.
"Ah ... itu ... bukan apa - apa?" ujar Dhaffin singkat.
"Oh, iya kalian belum mengatakan tujuan kalina tadi, mau apa mencari aku?"
"Begini, di hari bahagia ku yang tinggal beberapa hari, aku mau menggunakan jasa dari WO mu," ujar Ray.
"Telephon saja nanti aku, hari, dan tanggal berapa kalian mau melangsungkan pernikahan biar aku bisa mempersiapkan semuanya, agar kalian puas dengan hasil kerja tim kami? Barang kali aja ada tips lebih yang di dapat," ucap nya seraya tersenyum.
"Beres," ucap Ray.
Kini Laras dan Ray, sudah di mobil dalam perjalanan pulang kerumah. Dhaffin, kini sudah di jalan pergi mencari Ara. Setelah berjalan kesana kemari, Dhaffin pun menemukan Ara yang kini duduk di bangku taman. Dhaffin pun berjalan mendekat, lalu duduk di samping Ara.
Ara menoleh sepintas, lalu kemudian kembali membuang muka.
"Kamu masih marah ya sama aku?" tanya Dhaffin.
"Untuk apa aku marah."
"Kamu mau jujur atau berbohong, tidak akan merubah keadaan. Mungkin saja aku yang terlalu bodoh terlalu percaya sama kamu, walau pada akhirnya kamu akan membohongi aku, lagi, lagi, dan lagi."
__ADS_1
"Lalu, aku harus apa agar kamu mau percaya lagi sama aku?"
"Entahlah."
"Aku minta maaf atas kejadian hari ini. Aku janji kejadian ini tidak akan terulang lagi," ucap nya menyesal.
"Please ... aku mau kita damai, mau ya?"
ujarnya seraya berdiri dan berlutut di kaki Ara.
"Baiklah kita damai," ucapnya lirih kemudian berlalu pergi.
💖💖💖
Takkan ada kata bahagia, bila tak ada kata sedih, jadi kebahagiaan akan lebih terasa apa bila kita pernah merasakan kesedihan.
Cukup kesedihan untuk diri sendiri, pancarkan kebahagiaan senantiasa kepada semua orang. Persoalannya kesedihan dan kebahagiaan itu kadang kala pemberian, walau kita telah berusaha mengejar dan meninggalkan nya. Saat kesedihan melanda hatimu, maka berdolah. Tuhan selalu tahu bagaimana caranya menciptakan kebahagiaan untuk mu.
Kini aku sudah berada di ruang kerjaku. Pintu tiba - tiba terbuka. Fhanipun berjalan mendekat. Kemudian duduk di sampingku.
Aku berusaha tersenyum walau sebenarnya dalam hati menangis menjerit.
"Aku tidak apa - apa, aku hanya syok melihat kejadian, demi kejadian yang terjadi hari ini. Apa aku kurang baik pada orang selama ini?"
"Kamu yang sabar, justru karena kamu orang baik makanya, Allah sedang menguji mu. Karena Allah tau kalau kamu pasti bisa melewati ujian ini. Kamu yang sabar, semua akan indah pada waktunya," ujar Fhani menasehati sahabatnya itu.
"Terima kasih Fhan." Mereka pun berpelukan.
..........
Hari sudah beranjak sore, kini Ara sudah berada di dalam mobil untuk segera pulang kerumah.
Sesaat kemudian kini Ara sudah berada di rumahnya, dan sudah berada di kamar nya.
💖💖💖
3 hari menjelang hari H, Laras dan Ray.
__ADS_1
Kini rumah Laras sudah di hias sedemikian rupa. Mulai dari ruang tamu hingga kamar kini sudah dihias dengan berbagai pernak pernik pernikahan.
Undanganpun sudah di sebar. Aula pun sudah dihias untuk acara resepsi nanti, persiapan 99 %. Kini mereka sudah berada di butik untuk fitting baju.
💖💖💖
Hari H.
Pengucapan akad nikah kini sudah selesai, di lanjutkan acara resepsi di aula pertunjukan musik milik Mama Ray.
Sesaat kemudian, kini mereka sudah berada di aula. Satu persatu tamu undangan kini datang dan memberi selamat kepada kedua mempelai. Antony pun turut hadir bersama Zahra dan Tante Yoelitta, Aku bersama Bunda dan Dhaffin, Fhani dan Kevin sendiri - sendiri alias jomblo. Ini seperti reuni untuk ku.
"Assalamualaikum, Yoel. Sudah lama kita tak jumpa, apa kabar?" ujar Bunda Amira menyapa.
"Waalaikumsalam, Amira. Alhamdulillah kabar aku seperti yang kamu lihat," ujar Mami Yoel.
"Bagaimana, sudah ada harapan belum?" tanya Bunda Amira seraya menatap wajah Zahra.
Zahra yang mengerti dengan tatapan mata Bunda Amira, dengan malu Zahra menjawab, "Belum, Tante."
"Tante do,a kan semoga selekasnya di beri momongan."
"Amin," ucap Zahra.
Kini tiba lah saat nya mempelai wanita dan pria melempar bunga, dan bunga itu ternyata jatuh ketangan Fhani dan Kevin.
Mereka pun sembat beradu pandang, dan Fhani segera melepas tangannya dari bunga yang masih di pegang oleh Kevin.
"Berarti setelah kami menikah, itu giliran kalian berdua yang menikah," ujar Ray seraya menatap wajah Fhani dan Kevin bergantian.
"Sayang, mami pulang dulu ya. Selamat ya atas pernikahan kalian berdua. Semoga segera di beri momongan," ujar Mami Yoel menyela dan menjabat tangan anak dan mantunya itu.
"Terima kasih Mi," ujar Ray seraya memeluk sang Mami. Begitu pula dengan Laras melakukan hal yang sama dengan Ray. Di susul Antony dan Zahra di belakang.
Setelah itu mereka pun berlalu pergi. Ada rasa tak biasa yang ku rasakan ketika berada di dekatnya. "Apakah aku masih menyimpan rasa untuknya?"
💖💖💖
__ADS_1